PSSI Is LPI


SEMAKIN hari semakin jelas wajah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dibawah pimpinan Rezim Djohar Arifin. Sejak digulingkannya Nurdin Halid dari tahta kekuasaan PSSI, harapan pecinta sepakbola tanah air sangat tinggi terhadap jajaran dan pengurus PSSI yang baru. Namun harapan yang tinggi itu tampaknya bakal bertepuk sebelah tangan, karena sampai saat ini keputusan-keputusan yang dikeluarkan badan tertinggi persepakbolaan di Indonesia tersebut hanya mengakomodir kelompok tertentu saja. Dalam hal ini kelompok tersebut adalah LPI atau Liga Primer Indonesia yang dipunyai oleh bos Medco, Arifin Panigoro.LPI itulah wajah PSSI saat ini.

Awalnya, afiliasi antara PSSI yang sekarang dengan LPI hanyalah sebatas rumor dikalangan pecinta bola di Indonesia, namun sekarang semua terbukti benar adanya. Semua itu tercermin dari putusan-putusan PSSI yang cenderung memihak kelompok-kelompok yang berhubungan dengan LPI.

1. Dimulai dengan pemecatan pelatih timnas Alfred Riedl dengan alasan tidak menemukan berkas dikontrak dengan PSSI. Dan sebagai gantinya PSSI menunjuk Wim Risjsbergen, mantan pelatih PSM Makasar di kompetisi LPI yang setengah musim. Padahal Wim ga mampu membawa PSM ke level tertinggi di LPI melawan tim-tim dadakan, kenapa PSSI ga memilih Rahmad Darmawan ato Jaksen F Tiago ato yang lain yang trek recordnya jelas.

2. Penunjukan Arya Abhiseka General Manajer LPI sebagai General Manajer Tim Nasional Indonesia, walaupun akhirnya PSSI memecat Abhiseka karena tersangkut penggelapan dana Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI). Diduga Abhiseka menilep sekitar Rp 1,7 miliar uang subsidi FIFPRO. Hal ini dibongkar oleh mantan Presiden Kehormatan Asosiasi Pemain Profesional Indonesia, Vennard Hutabarat (Veve) yang akhirnya melaporkan Abhiseka ke pihak yang berwajib.

3. Dikelolahnya Indonesia Super League (ISL) musim 2011-2012  oleh PT Liga Prima Indonesia (LPI) badan usaha baru ini merupakan pengganti  PT Liga Indonesia, yang sudah beberapa  musim terakhir mengelola kompetisi PSSI. Dan CEO PT Liga Prima Indonesia, Widjajanto juga telah ditunjuk PSSI  sebagai direkturnya..

4. Diakomodirnya tiga tim LPI sebagai peserta Indonesia Super League (ISL) musim 2011/2012 oleh PSSI, Persibo Bojonegoro, Persema Malang, PSM Makasar. Padahal tim-tim ini telah menyatakan keluar dari keanggotaan PSSI dan ikut kompetisi diluar PSSI yaitu Liga Primer Indonesia (LPI). Seharusnya keanggotaan mereka diputihkan dahulu melalui Kongres Luar Biasa PSSI dan klo sudah diputihkan keanggotaanya mereka harus mulai dari level bawah jika ingin mengikuti kompetisi dibawah PSSI

5. Dimenangkannya kubu-kubu yang berafiliasi dengan LPI oleh PSSI terhadap tim yang bersengketa internal. Dualisme manajemen Arema antara kubu Rendra Kresna dan kubu M Nur, PSSI memutuskan memilih M Nur ebagai kubu yang berhak mengelola Arema. Dan sepe kita tau, M Nur adalah orang yang hampir membawa Arema mengikuti kompetisi LPI, dan dikubu M Nur pulalah ada nama Siti Nurjannah yang merupakan tim sukses Arifin Panigoro saat pemilihan ketua PSSI beberapa waktu yang lalu. Dan dduga kuat, jika dana yang bakal dipakai mengelola Arema nanti tak tauh-jauh bersumber dari Arifin Panigoro.

Begitu juga dengan perebutan kekuaasan di Surabaya, antara Persebaya Divisi Utama melawan Persebaya 1927 ex-LPI. Yang runyam di Surabaya kedua kubu sama-sama sudah mempunyai pemain dan pelatih untuk musim 2011/2012. Bahkan mantan pelatih Arema musim lalu, Miroslav Janu termasuk pihak yang sudah dikontrak oleh Persebaya Divisi Utama. Namun apadaya, PSSI memilih kedua Persebaya harus merger sebagai penyelesaian dan akhirnya hanya pemain dan pelatih Persebaya 1927 ex-LPI yang bakal di pake dan para awak Persebaya Divisi Utama harus terpaksa jadi pengangguran sampai ada yang memakai jasa mereka disaat kompetisi bentar lagi berlangsung.

Tak jauh beda yang terjadi di Jakarta, Jakmania suporter Persija Jakarta mengancam bakal membokot Persija kubu Hadi Basalamah yang di pilih PSSI untuk berkompetisi di Indonesia Super League (ISL) musim 2011/2012. Putusan PSSI ini lagi-lagi tak jauh-jauh dari LPI, pasalnya Persijakubu  Hadi Basalamah adalah orang-orang dari tim Jakarta FC 1928 yang juga peserta LPI. Kontan saja, Fery Paulus pihak Persija yang dikalahkan pada putusan PSSI bakal menggugat PSSI. Padahal Fery Paulus, menjadi Ketua Umum Persija adalah hasil dari Rapat Umum dari anggota-anggota Persija, dan hasil inilah yang diakui oleh suporter Persija Jakmania. Dengan hasil ini, kemungkinan kita bakal tak bisa lagi menyaksikan aksi-aksi ikon Macan Kemayoran Bambang Pamungkas, Greg Nwokolo, dkk seperti ISL musim lalu, karena pemain Persija yang berlaga di ISL  musim  kemarin berada dibawah kontrak Persija Fery Paulus. Sedangkan Persija Hadi Basalamah kemungkinan bakal memakai pemain mantan Persija FC 1928.

Kompetisi Bakal Diatur LPI
Kini dengan banyaknya orang-orang LPI bercokol di PSSI dan tim-tim peserta liga mendatang tak salah jika ada tudingan PSSI Djohar Arifin adalah boneka Arifin Panigoro. Yang lebih ekstrem lagi, tak salah jika sebagian pihak yang khawatir dengan banyaknya klub yang merger dengan klub ex-LPI dan banyakdimenangkannya kubu berafiliasi LPI dalam sengketa internal klub, maka makin banyak pula tim atau klub di Indonesia yang dikuasai Konsorsium LPI. Karena dengan banyaknya saham yang dimiliki Konsorsium LPI dan banyaknya orang LPI yang berkuasa di tim-tim yang berlaga pada satu kompetisi bukan ga mungkin jika bakal terjadi kong-kalikong antara orang-orang LPI yang berkuasa, dan terjadi pengaturan skor, sapa yang menang, siapa yang kalah, sapa yang juara pada kompetisi nanti. Jangan terkejut jika hasil kompetisi musim ini juaranya tak jauh dari tim atau klub LPI. Kekhawatiran itu benar atau tidak kita liat saja nanti..

PSSI/LPI REVOLUTION CONTINUES..

Salam Satu Jiwa

AREMA-AREMANIA TERPECAH?



KONFLIK internal dalam tubuh Arema telah menggerogoti potensi Arema untuk menjadi semakin kuat dan bersinar pada musim kompetisi 2011/2012. Karena disaat tim-tim lain bersiap-siap, dengan membidik pemain juga pelatih incarannya, Arema masih disibukkan dengan debat di media tentang siapa yang berhak memgelola Arema. Hingga saat ini cuma 3 nama yang mencolok yang bisa di gaet manajemen Arema untuk bergabung dengan Bustomi Cs di lapangan. Ketiga nama itu adalah, Si Anak Hilang Arif “Keceng” Suyono, Saktiawan Sinaga dan Dian Agus. Bahkan beberapa pilar penting Arema musim lalu terpaksa hijrah karena ketidakjelasan status dan trauma akan krisis internal Arema seperti musim lalu. Merekah yang telah hijrah adalah Zulkifli, Hendra Ridwan, M Fakrudin, Ahmad Amiruddin, dll dan bukan ga mungkin akan menyusul nama-nama lain yang menebrang ke klub tetangga. Karena sebagai runner up  Liga Indonesia musim lalu, pemain Arema banyak diminati tim-tim lain.

Dan setelah menunggu sekian lama Dualisme pengurus Arema Indonesia Football Club (AIFC) antara kubu Rendra Kresna dan kubu Muhammad Nur berlarut larut, akhirnya PSSI dalam rapat exco beberapa waktu yang lalu memutuskan bahwa yang berhak mengelola Arema adalah kubu M Nur dan kawan-kawan. Lantas berakhirkah konflik internal Arema setelah turunnya keputusan tersebut? Jawabnya adalah, masih jauh dari kata selesai. bahkan mungkin akan semakin menjadi panjang dan meluas. Karena bukan hanya manajemen Arema saja yang terpecah, tapi perpecahan juga menular ke Aremania sebagai pendukung setia kesebelasan AIFC. Aremania pun terpaksa terpecah larut dam kubu-kubuan walau alasan  intinya sama yaitu semua demi Arema yang mereka cintai menjadi  lebih baik. Walaupun sama Satu Jiwa, tetapi isi kepala setiap Aremania belum tentu sama. 

 Pro M Nur - Ikul
Sebagian Aremania merasa harus  mendukung kubu M Nur, karena disana ada Sam Ikul (Lucky Acub Zainal) salah satu tokoh kharismatik Arema yang juga pendiri Arema FC yang juga sangat dihormati oleh banyak Aremania. Selain itu Aremania disini mengangap bahwa Arema itu harus jauh dari tangan penguasa, dalam hal ini Rendra Kresna selaku Bupati Malang. Karena  Aremania tak rela jika Arema disalahgunakan untuk kepentingan suatu kelompok atau kepentingan politik diluar olahraga. Terlebih lagi di kubu Rendra juga terdapat nama Iwan Budianto, sebagai Direktur Arema versi Rendra Kresna sekaligus perwakilan dari Investor. Sebagian Aremania mengingatkan bahwa Iwan adalah pengkhianat yang dulu pernah meninggalkan Arema dikala susah dan membajak para pemain Arema untuk bermain ke Persik Kediri. Katanya, “Ayas lebih percaya Sam ikul dari pada Iwan Budian**k!”

Bahkan ada juga nawak Aremania yang mendukung keputusan kubu M Nur yang bakal menjadikan Gajayana sebagai home base Arema, “Arema yang ayas dukung adalah Arema yang berhome base di Gajayana. Gajayana Rumah Kita, Malang Is Not Indonesia, Arema Is Malang Not Indonesia,” tulis salah satu Aremania di sebuah forum di dunia maya.

Netral
Ada juga Aremania yang menyatakan dirinya adalah netral tak mendukung siapapun, walaupun begitu mendukung M Nur yang telah dipilih PSSI, dan itu seharusnya mengakhiri konflik internal dan Arema segera berkonsentrasi ke persiapan menyongsong kompetisi yang akan segera dimulai. Mereka sudah bosen dengan konflik dualisme ini yang tak kunjung berakhir, sehingga menggangu persiapan Arema juga mental para pemain. Ada anggapan bahwa Aremania seharusnya mendukung Arema siapapun pengurusnya, bukan malah mendukung salah satu kubu. Salah satu nawak Aremania disalah satu forum Aremania di dunia maya, menyebutkan seharusnya Aremania itu, "Ladub adepesan tko hamur.Tuku tiket, ublem stadion, trus masang gendero.Mari masang gendero golek lungguh sing nyaman, tku tahu,aqua josh naaaah kmudian melakukan parade orkestra dan tarian AREMANIA nang tribun timur." Bukan malah demo dijalan mendukung salah satu kubu. Ada juga berujar jika biarlah Arema itu diurus manajemen, dan Aremania tempatnya adalah di Tribun."CONTOHLAH SAM JULES, Wonge gak kolem2 masalah iki, Karena Aremania hanya ada di TRIBUN !!!" komentar salah satu Aremania di wearemania.net.

 Anti M Nur
Adalah Aremania  Anti M Nur, kelompok Aremania yang sering terdengar di media massa dan banyak menghiasi forum-forum di jejaring sosial. Dan tampaknya inilah kelompok Aremania  yang lebih besar dan dominan daripada kelompok Aremania lainnya yang turut terseret dalam konflik internal di Arema. Mereka yang disini, adalah mereka yang tak rela Arema di ambil alih oleh M Nur yang notabene orangnya Arifin Panigoro. Atas jasa M Nur, Arema hampir terseret sebagai peserta Liga Primer Indonesia kompetisi yang di punyai bos Medco Arifin Panigoro, hingga Arema pun sempat diklain telah dimiliki oleh Medco. Hal inilah yang sempat menimbulkan resistensi Aremania terhadap LPI musim lalu. M Nur juga dianggap lari dari tanggung jawab, ketika Arema dilanda krisis finansial, M Nur malah menghilang entah kemana dan menjadi orang paling dicari oleh pemain Arema yang menuntut gaji kala itu. Sekarang  masalah gaji sudah lunas, M Nur datang kembali ke Arema dan mengklaim sebagai pengelola yang sah. 

Begitu juga dengan Ikul yang telah menjual Arema ke Bentoel, dan sekarang  Arema sudah sukses Sam Ikul dianggap ingin untung sendiri dengan bergabung kubu M Nur. Aremania disini menyayangkan sikap Sam Ikul. “Buat lucky, yang semestinya jadi penengah itu anda, bukan aremania, aremania hanya dukung arema, tapi kalau seperti ini, kami akan dukung yang mana? Anda yang semestinya berdiri di tengah, bukan malah mendukung salah satu pihak. Kami menghormati anda, kami ingat jasa2 anda untuk arema, tapi ingatlah, anda juga pernah gagal membawa arema, arema dijual ke bentoel itu juga bukti kegagalan anda, masih ingat? Kita juga sama2 tahu, apa yg telah diperbuat m.nur utk arema pada kompetisi lalu..?? Kalau anda memang orang yang bisa dituakan di kota ini, atau di kalangan aremania, bersikaplah sebagai orang dewasa, jangan slintutan koyok ngono. Jujur saja, kenapa aremania lebih condong ke RK, karena beliau lebih terbuka......” ujar salah satu Aremania.

 Beberapa kali pernyataan sikap hingga demo ke jalan telah dilakukan Aremania Anti M Nur. Hingga mendatangi langsung ke kantor pusat PSSI di Senayan untuk mempertanyakan dan meminta PSSI membatalkan putusan memenangkan kubu M Nur daripada Rendra Kresna. M Nur diduga terpilih sebagai pengelola Arema karena kedekatannya dengan LPI, dan seperti kita tau PSSI yang saat ini berbau LPI sangat kental. Walaupun begitu, kelompok Aremania yang pernah membuat surat peryataan sikap mewakili Aremania seJagat Raya mendukung Arema yang berkantor di Jl. Sultan Agung 9, sempat juga dicibir oleh sesama Aremania yang mungkin bersebrangan pendapat dengannya, "mek 20 Aremania, padahal Korwil iku jumlahe 300an lebih.. Opo iso disebut suara Aremania Jagat Raya. Ini yang bikin sikap aremania apa amplopmania?" kata salah satu Aremania.

Kembali ke Arema
Arema adalah tim besar apalagi didukung oleh Aremania yang juga besar yang tersebr dimana-mana, ga mungkin lepas dari konflik juga pro dan kontra. Aremania walaupun bersalam sama Satu Jiwa, tetapi isi kepala setiap Aremania belum tentu sama.Berbeda pedapat itu wajar selama disampaikan dengan cara-cara yang damai. Untuk itu walsupun kini Aremania terpecah-pecah dalam keyakinannya masing-masing, ada baiknya kita semua kembali mengingat tujuan semula, kenapa kita mendukung kubu ini atau kubu itu, semua itu karena kecintaan kita atas Arema. Atas  nama Arema bersatulah, dan hindari  perpecahan yang tak perlu, kita adalh suporter kreatif, dan cerdas, semoga konflik ini cepat menemukan jawabannya dan cepat usai. Lalu lupakan semua yang pernah berselisih pendapat, dan bersama-sama kita dukung AREMA di kompetisi musim ini. Dukung AREMA menghancurkan lawan-lawan yang menertawakan kita saat ini.

Salam satu jiwa.

THE BAD BOYS OF AREMA - part 3 (habis)


Noh Alam Shah
Noh Alam Shah atau juga yang sering dipanggil Along, pernah mengungkapkan dalam interview dengan The New Paper tahun 2006 (media lokal Singapura), bahwa Dia mendapatkan panggilan “Along” saat terlibat dalam sebuah gengster ketika masih muda. “Along” yang dalam Bahasa China dan Bahasa Melayu adalah sebutan untuk “Kakak” atau “Pemimpin” dalam kelompok geng China (triad).  Along adalah striker sempurna, Dia memiliki kekuatan fisik, tidak kenal lelah, unggul kecepatan, kuat dalam duel bola udara, dan oportunis didaerah gawang lawan.  Namun Along juga merupakan sosok yang kontroversial bahkan sejak sebelum bergabung dengan Arema. Muhammad Ridhuan yang merupakan rekan sekompatriot Along pernah menuturkan bagaimana temperamen dan kontroversialnya rekannya itu. 

“Ketika Final Piala Singapura 2007, Alam Shah yang membela Tampines Rovers terlibat insiden dengan sesama rekannya di timnas Singapura, Daniel Bennett yang saat itu membela SAFFC.  Saat duel  perebutan bola, lutut Along terbang mendarat di kepala Daniel Bennett. Dan keributan antara keduanya pun terjadi, namun ketika berusaha dipisahkan, Along justru menendang kepala bek naturalisasi Singapura tersebut hingga terkapar dan dilarikan ke rumah sakit,” tutur  Ridhuan. “Luar biasanya ketika Alam Shah melakukan hal itu di hadapan presiden yang menonton,” tambahnya sambil tertawa.

“Di Liga Singapura dia dikenal sebagai pemain keras, kalau derby Tampines Rovers lawan SAFFC hampir pasti dia dapat kartu merah. Karakternya memang seperti itu, dia berasal dari daerah keras saat masih kecil. Tapi dia baik, sangat profesional, dan pemain yang hebat,” cerita Ridhuan mengenai pemain yang mengajaknya bergabung ke Arema tersebut.

Dari Negeri Singa ke Kandang Singa
Setelah hijrah ke Arema Along langsung menjadi idola para Aremania, gaya bermainnya keras dan juga gol-golnya menyihir kita semua. Total 14 gol yang berhasil di kemas Along di musim pertamanya di Arema dan sekaligus berhasil mengantarkan Arema sebagai juara ISL 2009/2010 dan Runner Up Piala Indonesia 2010. Namun kontrovesi tetap mengikuti langkahnya hingga ke Malang, akibat karakternya yang keras.

Masih segar dalam Ingatan bagaimana Kita dibuat ketar-ketir, ketika insiden terjadi antara Alam Shah dan F.X. Yanuar, 4 Mei tahun lalu pada pertandingan ISL di Stadion Kanjuruhan saat Arema berhasil menang atas Persela dengan skor 2-1. Banyak kalangan Aremania yang menilai, bahwa ini bakal menjadi dejavu atau ulangan kejadian seperti yang di alami Pacho dan Mbamba yang dihukum dengan terusir dari Liga Indonesia. Apalagi tindakan itu dilakukan ketika pertandingan ditayangkan live  dan disaksikan perwakilan dari AFC, yang sengaja datang untuk memberikan penilaian terhadap ke-profesionalisme-an Arema Indonesia. Benar-benar di depan mata mereka. Bahkan wakil AFC itu terlihat geleng-geleng kepala melihat kejadian tersebut.
 Namun, Along masih beruntung dari dua pendahulunya yang sama-sama Bengalnya, Along hanya di dihukum larangan tiga kali pertandingan pada musim kompetisi tahun 2010/2011 dan denda Rp. 50.000.000,- karena tingkahlaku buruk memegang kemaluan dan menendang pemain Persela Lamongan F.X. Yanuar saat Arema menjamu Persela.

Tak cukup disitu, Along sampai harus menyampaikan permintaan maaf atas kartu merah yang didapatnya ketika tim Singo Edan dikalahkan Sriwijaya FC 2-1 pada pertandingan final Piala Indonesia 2010 di Stadion Manahan Solo. Noh Alam Shah diusir keluar lapangan pada menit ke-20 akibat “tendangan Jet Lee”nya terhadap bek Sriwijaya FC, Preciouse Emuejeraye. Akibat kekurangan jumlah pemain, Arema pun akhirnya harus menelan kekalahan dari Palembang dan harus puas menjadi Runner Up Piala Indonesia.
Namun, kini Along seolah menjelma menjadi orang yang berbeda. Sejak Piere Njanka hengkang dari Arema, Along pun ketiban tugas menjadi Kapten dari skuad Arema. Tugasnya memimpin rekan-rekannya di lapangangan hijau membuat dirinya menjadi lebih tanggung jawab dan kalem dilapangan ga seperti musim lalu. Imbasnya perolehan gol Along juga menurun dari musim kemarin, tapi Arema masih punya banyak gol getter lain selainnya. 

Along dan rekan senegaranya Ridhuan kini dikabarkan bakal meninggalkan Arema, diindikasikan dengan absennya dibeberapa pertandingan terakhir Arema, benar atau tidak Along sudah menjadi bagian Arema. Sekali Arema tetaplah Arema, walaupun pemain tersebut sudah tak lagi berkostum Arema. Keras, tak kenal takut, akrab dan setia kawan  Along adalah Ikon Arema terhadap perjuangan Arema, ditengah badai dan bencana namun tak kenal menyerah hingga menjadi juara. Di nanti aksi-aksi The Bad Boy of Arema lain, pengganti mereka yang telah terhukum dan terusir demi Arema.

Salam Satu Jiwa

THE BAD BOYS OF AREMA - part 2



Emile Bertrand Mbamba
Mbamba, adalah satu-satunya pemain asing Liga Indonesia yang pernah bermain di ajang UEFA Champions League. Saat memperkuat klub Israel Maccabi Tel Aviv, Mbamba sempat mencetak gol ke gawang Juventus dsaat Penyisihan Grup C. Dan dari gol tersebut ternyata menodai rekor clean sheat dan kemenangan 100% Juventus. Di Arema, Mbamba tercatat mampu mencetak 17 gol dari 23 kali pertandingan selama musim Liga Indonesia 2007-2008 dan ISL 2008. Ia mempunyai kontribusi besar  dalam mengantarkan Arema menembus babak 8 besar di Liga Indonesia 2007-2008. Di musim pertamanya bersama Arema ia baru memperkuat tim ketika sudah memasuki putaran kedua. Mbamba adalah striker potensial, tak jarang gol yang berhasil dileskkanya adalah gol cantik yang berkelas. Seperti gol yang dicetak lewat tendangan voli dari luar kotak pinalti ketika Arema mengalahkan Persiba Balikpapan 3-0. Namun sayang, ketika menginjak pertengahan Putaran I ISL 2008/2009 Mbamba  harus menerima sanksi dilarang mengikuti sepakbola Indonesia selama 5 tahun oleh Komdis PSSI.

Saat itu Komisi Disiplin diketuai oleh Hinca Pandjaitan, memutuskan melarang Mbamba untuk bermain di Indonesia selama 5 tahun dan juga didenda Rp 50 juta. Mbamba dianggap melanggar empat pasal Kode Disiplin sekaligus. Yakni Pasal 49 ayat 1B, pasal 53 ayat 1, pasal 58 ayat 1 dan pasal 60 ayat 1. Dalam putusan yang disampaikan Wakil Ketua Komdis, Bernhard Limbong ketika itu, bukan hanya Mbamba yang terkena Sanksi, tapi juga beberapa elemen Arema.
1. Ekoyono Hartono, Manajer Arema, dilarang aktif di sepak bola selama 6 bulan dan denda Rp 20 juta.
2. Meiga Kurnia, Kiper Arema, dilarang aktif di sepak bola selama satu tahun plus denda Rp 50 juta
3. Emile Bertrand Mbamba, Striker Arema, dilarang bermain di Indonesia selama lima tahun, plus denda Rp 50 juta
4. Alexander Pulalo, Kapten Arema, didenda Rp 20 juta
5. Panpel Arema didenda Rp 20 juta, plus partai usiran untuk dua pertandingan.

Semua ini buntut dari kisruh saat partai Arema menjamu PKT Bontang, di Kanjuruhan, pada lanjutan kompetisi ISL 2008. Mbamba dilaporkan BLI karena dianggap telah melanggar etika sebagai pemain profesional. Yakni membanting papan pergantian nama setelah dirinya diusir wasit Suprihatin asal Magelang.
Sebenarnya, kericuhan ini dipicu berbagai keputusan wasit dinilai sering merugikan dirinya dan pemain Arema lainnya. Puncaknya terjadi pada menit ke-77. Saat itu dirinya berbenturan dengan Tito Purnomo. Mbamba mengaku dirinya dipukul oleh Tito, namun wasit tak memberikan sanksi apapun kepada pemain PKT tersebut. "Aku lantas menghampiri wasit. Aku tanya mengapa dia (Tito) tak dikartu, padahal pelanggaran itu dilakukan di depan asistennya," terangnya.

Tapi, jawaban yang didapat Mbamba dari wasit asal Magelang tersebut belum memuaskan dirinya. Menurut versi Mbamba, Suprihatin malah berkata bahwa dirinya tak berhak bicara seperti itu ke wasit. "Lalu aku tanya mengapa tak pantas. Kalau aku tak boleh memukul, sedangkan pemain lain boleh memukul. Ini tak adil. Tiba-tiba dia keluarkan kartu kuning," sambung mantan pemain Vitesse Arnhem, Belanda ini.
Setelah diberi kartu kuning, Mbamba mengaku emosinya semakin meledak. Dia masih terus mengejar wasit dan mengatakan bagus. Kemudian dia menanyakan kepada wasit mengapa tak memberinya kartu merah sekalian agar dirinya tak bisa main lawan Persija. Sesaat kemudian, wasit lalu mengganjarnya dengan kartu kuning kedua (kartu merah tak langsung).

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Striker Arema Emile Bertrand Mbamba akhirnya mengakui bahwa dirinya tak bisa menahan emosi saat sehingga berbuah kartu merah tak langsung bagi dirinya.
"Saya memang emosi saat itu. Sebab, dengan kartu yang saya terima, saya tak bisa main lawan Persija," Ujarnya. Mbamba dianggap sering melakukan protes berlebihan kepada wasit, sehingga memprovokasi pemain lain dan juga suporter menjadi anarkis.Seperti peristiwa "Kediri Obong" ketika tiga gol Mbamba dianulir wasit ketika Arema berhadapan dengan Persiwa di Babak 8 Besar LI 2007/2008. Mbamba dianggap sebagai provokator dengan protes-protesnya kepada wasit yang memicu Aremania berbuat rusuh dan membakar Stadion Brawijaya kebanggaan Persikmania. Itulah juga yang menajdi pertimbangan PSSI menghukum Mbamba.

Diluar emosinya yang meledak-ledak, Emile Bertrand Mbamba adalah striker yang komplit, punya skill yang bagus dan punya pengalaman yang bagus sebelum bergabung di Arema. Mbamba adalah ikon Arema terhadap perlawanan melawan ketidakadilan dari wasit dipersepabolaan Indonesia. (bersambung)

THE BAD BOYS OF AREMA - part 1



KERAS, itulah ciri khas permainan Arema. Keras, ngotot, dan tak kenal menyerah seperti yang ditunjukkan anak-anak Singo Edan dalam laga terakhir menghadapi Bontang FC, pantang menyerah hingga detik-detik akhir. Keras dalam hal ini bukanlah bermain kasar, karena setiap punggawa Arema harus mempunyai bekal teknik yang mumpuni untuk bermain keras tapi bukan mencederai lawan. Dan karakter keras ini ga dipunyai oleh setiap pemain bola, ada yang mempunyai gaya bermain cantik, ada yang mempunyai gaya mengandalkan speed, ada juga yang mempunyai gaya keras, terus menerjang tak kenal takuti emosi yang meluap-luap. Dan karakter yang terakhir inilah yang melekat pada beberapa pemain Arema, dan mereka ini adalah ikon Arema, pahlawan bagi Aremania baik karena jasanya terhadap Arema dan juga karena aksi-aksinya.

THE BAD BOYS
Inilah tiga pemain yang di anggap sebagai ikon Arema, karena karakter kerasnya, karena emosinya yang meluap-luap dan juga karena kontroversi yang menyertainya sehingga sempat dianggap sebagai pemain bermasalah dengan label "not recommended" oleh PSSI.

Pacho Rubio
Francisco "Pacho" Rubio adalah legenda Arema asal Chile, datang ke Arema bersama saudaranya Juan Rubio.  Kiprahnya bersama Arema memang tergolong singkat. Total ia mampu mencetak 10 gol sejak hadir di bumi Arema mulai putaran II Liga Indonesia 2000 (termasuk 3 gol yang dicetak Pacho Rubio dalam 2 pertandingan di babak 8 Besar di Senayan) Kiprahnya bersama Arema di babak 8 besar tersebut menjadi momen emasnya bersama Arema. Bersama Rodrigo Araya dan Juan Rubio memperkuat Arema. Dengan diiringi lebih dari 10 ribu Aremania, skuad Arema bermain heroik dengan mengalahkan Persija Jakarta (2-1), seri melawan Persikota (1-1). Sayangnya langkah Arema terhenti setelah menelan kekalahan telak melawan Pelita Jaya Solo. Hebatnya Pacho yang tergolong bukan pemain jangkung, mampu menghasilkan gol dari tandukan kepalanya hasil dari hasil assist dari Rodrigo Araya. Sayangnya kiprah gemilangnya harus terhentii oleh skorsing seumur hidup PSSI dan membuyarkan harapan Aremania untuk melihat aksi Pacho lebih lama di pentas sepakbola Indonesia.

Ketika itu PSSI jaman Agum Gumelar, Komisi Disiplin yang diketuai Andi Darusalam Tabusalla menganggap tindak-tanduk Rubio seringkali tidak terpuji dan berpengaruh jelek pada perkembangan sepak bola Indonesia. Dan puncak dari ulah Rubio, menurut Tabusalla, terlihat pada babak 8 Besar Liga Bank Mandiri di Jakarta saat itu. Selain sering memancing emosi lawan dengan kata-kata kasar, Rubio juga memukul penyerang Persikota, Simamo A Basille, di Senayan. Ketika itu hari Kamis (13/7), Arema yang tidak diperkuat Rubio karena cedera, baru saja dikalahkan Pelita Solo 0-3. Rubio tiba-tiba memukul Basille yang berjalan di lorong bawah stadion di sekitar ruang ganti pakaian pemain. Saat itu, Basille dan pemain Persikota hendak menuju lapangan untuk bertanding melawan Persija Jakarta.
 
Sehari sebelum kasus pemukulan Basille itu, Pacho sempat mengutarakan kekesalannya terhadap Basille di kora Kompas. Ia meyakini Basille sengaja mengganjalnya ketika Arema lawan Persikota. Akibat tackling Bassile itu, Pacho harus mengalami cedera kaki kanan dan harus beristirahat selama 15 hari. "Dia sengaja melakukannya. Bagaimana seorang yang profesional dapat berbuat seperti itu. Pemain itu tidak melihat di belakang saya ada istri dan anak yang harus diberi nafkah," beber Rubio.

Walaupun kiprahnya tergolong singkat di Arema, Pacho tetap adalah ikon bagi Aremania. Simbol yang melambangkan mental pejuang, pekerja keras dan tak kenal takut demi harga diri Arema. (bersambung)