Tampilkan postingan dengan label Tribute. Tampilkan semua postingan

HARIE PANDIONO, DUTA AREMA, AREMANIA DAN SALAM SATU JIWA


# Menuju 25 Tahun Arema Indonesia, 11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012
Masih ingat nawak dengan Harie Pandiono, ini dia Arema (Kera Ngalam) yang pernah memproklamirkan diri sebagai Aremania Korwil Kongo, dan ini dia juga  pelaku pengibaran Bendera Arema Indonesia yang berukuran raksasa di ajang Piala Dunia Afrika Selatan 2010 lalu. Memang, sebenarnya banyak Arema yang hidup diluar negeri sana yang tak lupa mempromosikan Arema dan Aremania sebagai jati dirinya. Dan Harie adalah salah satu contoh Arema yang sukses dan berdedikasi pada pekerjaannya namun tak membuat dirinya lupa akan siapa dia sebenarnya yakni sebagai Arema Kera Ngalam juga sebagai Aremania suporter kesebelasan Arema FC walau di negeri orang.

Sangatlah beruntung menjadi seorang Harie Pandiono, bekerja di berbagai perusahan berlevel internasional membuat dirinya berkesempatan merasakan atmosfer bekerja sekaligus jalan-jalan di berbagai negara. Dan saat bekerja jauh dari Bumi Arema kelahirannyalah, justru Harie dengan bangga menunjukkan bahwa Dia adalah seorang Arema dan Aremania langsung ditengah-tengah pusat sepakbola dunia. Dimanapun negara atau tempat yang ia kunjungi di situ pasti ada atribut Arema Aremania dan pasti juga Salam Satu Jiwa. 
Liat nawak, kelakuan seorang Harie Pandiono dari goyang ngebor di Piala Dunia 2010 Afsel, narsis di gurun Sahara, pamer Vuvuzela (terompet yang terkenal saat Piala Dunia 2010 Afsel) di Kanjuruhan, sampe foto bareng Kodew yang bening.. he2 mantap.
Dari mengibarkan bendera Arema dari Gurun Sahara, hingga yang paling unik ketika usaha Harie untuk mengibarkan bendera Arema Indonesia berukuran raksasa di ajang Piala Dunia Afrika Selatan (konon bendera raksasa ini dipesen langsung dari Ngalam dan dikirim ke Afrika dengan berat puluhan kilo dan ongkos berjuta-juta rupiah). Saat itu Pria yang murah senyum seperti terlihat di foto2nya itu, bekerja di nenara Kongo yang berada di bagian lain Afrika dan cukup jauh dari Afrika Selatan tempat Tuan Rumah Piala Dunia waktu itu. Harie menyempatkan melakukan perjalanan jauh ke tempat diselenggarakan Piala Dunia demi membentangkan bendera begambar Kepala Singa dengan tulisan Arema Indonesia berukuran raksasa beberapa menit saja, karena masalah ijin panitia setempat. Mungkin hanya Harie Panddiono lah satu2nya wakil suporter Indonesia yang hadir ditengah2 komunitas suporter internasional pada Piala Dunia 2010 dan membentangkan panji2 Arema. Saluuut.

Dua tahun berlalu sejak Piala dunia 2010, kabarnya Harie sudah kerja di perusahan baru di Kanada, dan  Dia recananya  bakal mengibarkan panji Arema di Air Terjun terbesar di dunia Niagara. Setelah Kanada kemungkinan Dia Bakal dapat kontrak di perusaahan baru di Chile, dan dari Chile tersebut Harie Pandiono menjanjikan aksi memperkenalkan Arema dan Aremania di Piala Dunia 2014 Brazil. Hari melakukan semua itu bukannya tidak mengetahui keadaan sebenarnya Arema FC yang di banggain itu. Dia tau, Arema sedang terbelah 2, dan dia tau Arema performanya sedang turun, namun Harie tetap bangga sebagai Arema dan Aremania dengan kritiknya terhadap keadaan yang menimpa  Arema sekarang, Dia tettap akan memperkenalkan Arema, Aremania dan SalamSatu Jiwa kemanapun kakinya melangkah. Dan atas usaha keras dan jiwa narsisnya Harie Pandiono Paimin layak disebut sebagai Duta Arema, Aremania dan SalamSatu Jiwa.

Inilah Bedera Arema Indonesia Raksasa itu yang "dioyong-oyong" Harie di Afrika.
-------------------------
"Arema Tak Kan Pernah Mati, ditunggu nawak2 yang hadir untuk mengibarkan bendera kebesaran bangsa Arema di FIFA WORLD CUP 2014, Brasil. Jangan jadi jago kandang!"
- Harie Pandiono -
 
Sebelum menunggu 2014 datang, dalam rangka menuju perusahaan barunya di Toronto Kanada, Harie telah singgah di Spanyol di Stadion Santiago Barnebeu markas Real Madrid. Kemudian ke Paris, dan bakal ada bendera Arema di Menara Eiffel, setelah itu baru Ke kanada. Berikut dibawah, kisah sang Duta Arema, Aremania di Markas Cristiano Ronaldo.

 
WELCOME AREMA TO MADRID
Aremania tiba di Santiago Barnebeu, disambut sama warga belanda yang minta foto bersama sambil mengibarkan bendera Arema Indonesia. Lebih kurang 15 menit kesasar di subway sentral Madrid akhir ketemu juga stadion. Ditanya sama warga Madrid, dari mana Arema = dari Indonesia, "I see look like Armenia". Ketika tiba di stadion bertemu dengan warga muslim Madrid, karena mereka tertarik dengan Arema Indonesia langsung foto2 dengan senang hati kami layani.
Aremania di Santiago Barnebeu Madrid ker, tak lupa comot kodew Madrid buat foto bareng.
Misi Arema Indonesia, belajar menjadi supporter tingkat dunia menebarkan salam damai Satu Jiwa. Malam ini hanya awal dari penebaran Salam Satu Jiwa di Eropa, besok dilanjutkan tour keliling stadion, bertemu dengan Madrisdista.

Ketika tiba di hotel, langsung disambut oleh receptionist "Welcome Arema Indonesia", sebab dua hari sebelumnya saya bilang datang dari benua Asia pendukung sebuah klub paling fanatic di Indonesia. Si cewek ini tanya " what your supporting?" I am supporting Arema Indonesia not Madrid or Barca...dia bilang "oh no I will cancel you hotel book if you not supporting Madrid....sambil bercanda". Saya cerita sama dia "Arema is jot just the supporting football, it is the spirit of life inspires each single person of Arek Malang to be fight for better life, supporting football without violence." Dia ketawa2....

Dihatiku hanya ada Arema meskipun rencana bertandang ke semua stadion di Eropa diawali Madrid, ayas akan tetap memakai baju kebesaran Arema Indonesia. Di jalan2pun orang bingung semua ga ada bola kok ada supporter dengan baju kas...mungkin "Gila paling orang ini" belum tahu kalau Singo Edan yang datang.

Diberi PIN "Real Madrid" sama pemilik restaurant di VIP room Estadio Bernabeu, dia bilang I hope you supporting Real Madrid. Ayas bilang, "you knew what I wearing, THIS IS AREMA, it is my life" dia tetap menyalami dan berkata "Welcome AREMA to Madrid" kata manajer resturant VIP.

Salam Satu Jiwa
Harie Pandiono

Sumber :  
Milis Arek Malang Sak Dunyo http://dir.groups.yahoo.com/group/arema/
FB : http://www.facebook.com/bantaibonek

---------------------------------------------------------------------------------
Menuju 25 Tahun Arema Indonesia
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012

"UNITED IN ONE SOUL"
-ONE AREMA
ONE AREMANIA
FOR ONE INDONESIA-

Salam Satu Jiwa



JUAN RUBIO MASIH MENGINGAT AREMA DAN SALAM SATU JIWA DI HATINYA



Penampakan Juan Rubio saat ini dan Tempo Doeloe, "kekecilan" itulah komentarnya saat pamer foto ini via twitter.
 # Menuju 25 Tahun Arema Indonesia, 11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012
AYAS HISAM TEGAK SAM ! Itulah status twitter dia ketika Ayas menemukan kembali pahlawan Arema yang telah hilang, di dunia maya pada jejaring sosial berlogo "manuk emprit" yaitu twitter. Mungkin kalimat itu menggambarkan keadaannya sekarang setelah lama tak aktif di dunia sepakbola profesional seperti saat membela Arema dan di elu2kan Aremania. Empat tahun membela panji Singo Edan pada tahun 1996 hingga 2000. Dia juga yang berjasa memperkenalkan lagu suporter Chile untuk digubah sebagai lagu untuk mendukung Arema, dan lagu ini telah menjadi lagu kebangsaan dengan berbagai versi  para suporter di Indonesia untuk mendukung kesebelasan kesayangannya, lagu itu dikenal dengan “Sore Ini (Kita Harus Menang).”

Juan Manuel Rubio adalah orangnya, muncul di twitter langsung membuat banyak Aremania yang ada di twitter langsung menyambutnya, bahkan ada pula nawak yang menuduh ini akun twitter Juan Rubio palsu, karena ternyata  Juan masih bisa menulis dengan bahasa Indonesia bahkan basa Ngalam di Twit-annya.  Juan Rubio yang mengaku sekarang berprofesi sebagai pengusaha penjual rumput sintetis untuk lapangan, klo ditelusuri timeline akun twitternya, Juan baru dalam menggunakan twitter dan cukup antusias ternyata dalam sekejap sudah mempunyai 100 follower yang kebanyakan Aremania. Disitu terlihat obrolan antara Juan dan Aremania yang bernostalgia tentang  gagalnya Arema maju ke babak berikutnya saat babak 8 besar di Senayan tahun 2000, yang dianggap sebagai malam paling sedih bagi Juan. 

Dan ketika Juan mengetahui Arema terpecah jadi dua, Dia pun sangat terkejut karena setau dia Arema Cuma ada satu yaitu Arema Malang yang pernah dibelanya. Apalagi dua Arema tersebut hanya mampu menghias klasemen bawah kalasemen sementara.
“Apakah ada dua Arema? IPL atau ISL? Aku bingun, aduh... pada masa aku masih sadar Arema ada hanya satu: Arema Malang !!!  Dan dua-duanya hampir juru kunci? Aku masih kaget... Kok ada dua Arema? Bagaimana mungkin bisa terjadi?” tulis Juan di akun Twitternya, mungkin dia telah dapat laporan dari nawak2 Aremania.

Akhirnya, di timeline terbaru beberapa nawak menanyakan apakah Juan tak ingin kembali ke Ngalam dan membawa keluarganya. Dengan bahasa Spanyol Juan Rubio menjawab, “Si pudiera me iría ahora mismo a Malang. Extraño mucho la tierra del León Loco.” Yang artinya, “Jika saya bisa saya akan pergi sekarang ke Malang. Aku rindu Tanah Singa Gila.”

Kami tunggu kedatanganmu di Bumi Arema kapanpun juga, mungkin suatu hari anakmu, ato saudaramu dan Rubio2 yang lain, datanglah ke Kandang Singa karena Arema selalu tebuka untukmu.

Three Muskeeter Chile Arema, PACHO RUBIO-ARAYA-JUAN RUBIO
 Three Muskeeter Chile
Juan Manual Rubio juga sempat memboyong adiknya Fransiscco "Pacho" Rubio tahun 1999 ke Arema. Mereka bertiga terkenal dengan Three Muskeeter Chile Arema bersama Rodrigo Araya kala itu. Dengan diiringi lebih dari 10 ribu Aremania, mereka membawa Arema ke Babak 8 Besar di Senayan pada Ligina musim 1999/2000. Pacho mencetak 10 gol sejak hadir di bumi Arema mulai putaran II Liga Indonesia 2000 (termasuk 3 gol yang dicetak Pacho Rubio dalam 2 pertandingan di babak 8 Besar di Senayan) ini adalah momen emasnya bersamaTrio Chile ini  Arema.
Namun sayang, kiprah Rubio bersaudara di Arema berakhir tahun 2000 bersamaan dengan pelarangan Pacho untuk bermain di liga di Indonesia oleh PSSI kala itu karena kelakuan tidak sportif Pacho. 

(Baca juga cerita Pacho di bad-boys-of-arema-part-1 )
Twitter Juan Manual Rubio : https://twitter.com/#!/JuanRubio_24
---------------------------------------------------------------------------------
Menuju 25 Tahun Arema Indonesia
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012

"UNITED IN ONE SOUL"
-ONE AREMA
ONE AREMANIA
FOR ONE INDONESIA-

Salam Satu Jiwa




KING MILO, FROM HERO TO ZERO



# Menuju 25 Tahun Arema Indonesia, 11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012
 PEMAIN mana yang tak mau berain di Arema, Pelatih mana yang yang tak ingin menukangi Singo Edan. Adalah nama besar Arema dan juga kefanatikan pendukungnya yang bernama Aremania yang membuat banyak pihak yang ingin menjadi bagian dari nama besar itu sambil membawa logo Kepala Singa Didadanya. Namun tak semuanya orang-orang yang berhasil bergabung dibawah bendera Arema mempunyai nasib baik atau bisa disebut berakhir Unhappy Ending. Semuanya gara-gara konflik internal bodoh yang dilakukan orang-orang tua yang ngakunya paling layak mengelolah Arema yang saling jega menjegal. Heran konflik kok nempel terus di Arema.

Tak jauh-jauh, dua musim lalu ada nama Robert Rene Albert yang mampu membawa Arema juara liga Indonesia untuk pertama kalinya, dan Mener Rene pun terpaksa harus meninggalkan Arema dengan "tidak happy ending." Dan yang yang terbaru adalah Milomir Seslija. Datang dengan membawa harapan setelah Arema (waktu itu belum ada ISL karena PSSI bikin IPL, dan Arema versi ISL belum ada) gagal menggaet Robert Rene Albert. Baru datang Milo sudah memuji Arema bak Manchester United. Dua kali pertandingan resmi perdananya berujung kemenangan membuat Milo tampil sebagai pahlawan baru bagi Aremania. 

Namun kini berakhir sudah perjalanan pelatih asal Serbia Milomir Seslija di Arema FC. Setelah sengketa berakhir dengan mundurnya Walikota Malang Peni Suparto, kini tak ada lagi yang nggandoli pelatih ini untuk tetap berada di antara pemain-pemain Arema FC.  Arema yang berlaga di Indonesian Premier League (IPL) pada akhirya resmi dikawal pelatih Antonic Dejan. Milo pun terpental dan harus meninggalkan Malang untuk mencari klub baru. Ironisnya, saat mengawal Arema versi Muhammad Nur ia ditinggal pemainnya yang menyeberang ke klub lain.

Tidak adanya sokongan dari manajemen sekaligus perginya para pemain rupanya membuka mata Milo bahwa ia sudah bukan lagi idaman di Malang. Padahal sebelumnya Milo masih belum ikhlas posisinya diganti Antonic Dejan dan ia terus berjuang agar bertahan di Singo Edan dengan berdiri di kubu Muhammad Nur.

From Hero To Zero, demikian sebutan untuk Milo. Ia datang ke Arema FC bak seorang pahlawan. Ia dianggap sebagai penerus generasi Robert Rene Albert yang mempersembahkan gelar juara pada Arema. Hanya dua pertandingan, ia sudah mampu menyedot simpati Aremania, supporter Arema.

Di Stadion Gajayana ia sudah menjadi bintang tersendiri dan mengalahkan pamor pemain-pemainnya di lapangan. Gesture atau tingkahnya di pinggir lapangan memang sangat menarik bagi supporter. Dua kemenangan di dua laga sudah cukup memberikan kepercayaan di benak Aremania. Siapa sangka ia membuat blunder fatal ketika membawa timnya menyeberang ke manajemen kubu Muhammad Nur. Terbujuk rayuan manajemen, Milo akhirnya menandatangani kontrak anyar dengan manajemen M. Nur bersama sebagian besar pemainnya di Hotel Regent Park, Malang, pertengahan Desember 2011.

Milo rupanya tak menyangka bahwa keabsahan pengelolaan tim berlogo kepala singa adalah milik PT Ancora Tbk. Setelah tim berhasil menjalani rekonsiliasi, manajemen Ancora tak memberi ampun karena menganggap ia paling bertanggungjawab terhadap pecahnya tim.  “Bagaimana pun posisinya adalah pelatih dan harus bertanggungjawab terhadap nasib tim,” demikian kata salah satu perwakilan manajemen Ancora waktu itu. Benar saja, Arema kemudian langsung mendatangkan Antonic Dejan untuk menggeser posisinya sebagai nakhoda tim.

Milo sempat 'bermimpi' tetap di Arema dengan bersandar di manajemen kubu Muhammad Nur. Tapi untuk kedua kalinya pelatih yang pernah berkarier di Malaysia ini salah langkah. Kini ia harus mencari klub baru untuk menyelamatkan kredibilitasnya sebagai pelatih jempolan. “Saya belum tahu akan membela klub mana. Yang pasti saya akan memilih klub yang mempunyai ambisi besar di kompetisi. Sejauh ini belum saya putuskan,” ungkap Milo yang masih berada di Malang. Persijap Jepara adalah klub yang paling serius mendatangkan Milo sejak beberapa waktu lalu.

Namun keinginan Persijap sempat dipendam karena Milo masih dibutuhkan manajemen Muhammad Nur. Setelah statusnya bebas, kini Persijap bisa bergerak lebih agresif untuk mendapatkan tanda tangan pelatih enerjik tersebut. Arema yang berlaga di Indonesian Super League (ISL) dikabarkan juga tertarik merekrutnya. Tapi hingga kini belum ada pergerakan yang dilakukan Arema yang bermarkas di Stadion Kanjuruhan tersebut. Arema ISL juga membutuhkan pelatih karena hingga saat ini posisi pelatih masih dihuni Joko Susilo, asisten pelatih yang menggantikan Wolfgang Pikal. 

Dengan banyaknya talenta yang pergi karena gara-gara konflik internal konyol, membuat Arema harus jatuh bangun untuk kembali ke puncak. Seharusnya hari ini adalah masa jayanya Arema merajai dunia sepakbola Indonesia, namun semua dirusak oleh konflik manajemen bodoh dan PSSI ga becus. Semoga konflik cepat berlalu, dan semua menjadi satu.

-------------------------------------------------------------------
Menuju 25 Tahun Arema Indonesia
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012

"UNITED IN ONE SOUL"
-ONE AREMA
ONE AREMANIA
FOR ONE INDONESIA-

Salam Satu Jiwa

THE BAD BOYS OF AREMA - part 2



Emile Bertrand Mbamba
Mbamba, adalah satu-satunya pemain asing Liga Indonesia yang pernah bermain di ajang UEFA Champions League. Saat memperkuat klub Israel Maccabi Tel Aviv, Mbamba sempat mencetak gol ke gawang Juventus dsaat Penyisihan Grup C. Dan dari gol tersebut ternyata menodai rekor clean sheat dan kemenangan 100% Juventus. Di Arema, Mbamba tercatat mampu mencetak 17 gol dari 23 kali pertandingan selama musim Liga Indonesia 2007-2008 dan ISL 2008. Ia mempunyai kontribusi besar  dalam mengantarkan Arema menembus babak 8 besar di Liga Indonesia 2007-2008. Di musim pertamanya bersama Arema ia baru memperkuat tim ketika sudah memasuki putaran kedua. Mbamba adalah striker potensial, tak jarang gol yang berhasil dileskkanya adalah gol cantik yang berkelas. Seperti gol yang dicetak lewat tendangan voli dari luar kotak pinalti ketika Arema mengalahkan Persiba Balikpapan 3-0. Namun sayang, ketika menginjak pertengahan Putaran I ISL 2008/2009 Mbamba  harus menerima sanksi dilarang mengikuti sepakbola Indonesia selama 5 tahun oleh Komdis PSSI.

Saat itu Komisi Disiplin diketuai oleh Hinca Pandjaitan, memutuskan melarang Mbamba untuk bermain di Indonesia selama 5 tahun dan juga didenda Rp 50 juta. Mbamba dianggap melanggar empat pasal Kode Disiplin sekaligus. Yakni Pasal 49 ayat 1B, pasal 53 ayat 1, pasal 58 ayat 1 dan pasal 60 ayat 1. Dalam putusan yang disampaikan Wakil Ketua Komdis, Bernhard Limbong ketika itu, bukan hanya Mbamba yang terkena Sanksi, tapi juga beberapa elemen Arema.
1. Ekoyono Hartono, Manajer Arema, dilarang aktif di sepak bola selama 6 bulan dan denda Rp 20 juta.
2. Meiga Kurnia, Kiper Arema, dilarang aktif di sepak bola selama satu tahun plus denda Rp 50 juta
3. Emile Bertrand Mbamba, Striker Arema, dilarang bermain di Indonesia selama lima tahun, plus denda Rp 50 juta
4. Alexander Pulalo, Kapten Arema, didenda Rp 20 juta
5. Panpel Arema didenda Rp 20 juta, plus partai usiran untuk dua pertandingan.

Semua ini buntut dari kisruh saat partai Arema menjamu PKT Bontang, di Kanjuruhan, pada lanjutan kompetisi ISL 2008. Mbamba dilaporkan BLI karena dianggap telah melanggar etika sebagai pemain profesional. Yakni membanting papan pergantian nama setelah dirinya diusir wasit Suprihatin asal Magelang.
Sebenarnya, kericuhan ini dipicu berbagai keputusan wasit dinilai sering merugikan dirinya dan pemain Arema lainnya. Puncaknya terjadi pada menit ke-77. Saat itu dirinya berbenturan dengan Tito Purnomo. Mbamba mengaku dirinya dipukul oleh Tito, namun wasit tak memberikan sanksi apapun kepada pemain PKT tersebut. "Aku lantas menghampiri wasit. Aku tanya mengapa dia (Tito) tak dikartu, padahal pelanggaran itu dilakukan di depan asistennya," terangnya.

Tapi, jawaban yang didapat Mbamba dari wasit asal Magelang tersebut belum memuaskan dirinya. Menurut versi Mbamba, Suprihatin malah berkata bahwa dirinya tak berhak bicara seperti itu ke wasit. "Lalu aku tanya mengapa tak pantas. Kalau aku tak boleh memukul, sedangkan pemain lain boleh memukul. Ini tak adil. Tiba-tiba dia keluarkan kartu kuning," sambung mantan pemain Vitesse Arnhem, Belanda ini.
Setelah diberi kartu kuning, Mbamba mengaku emosinya semakin meledak. Dia masih terus mengejar wasit dan mengatakan bagus. Kemudian dia menanyakan kepada wasit mengapa tak memberinya kartu merah sekalian agar dirinya tak bisa main lawan Persija. Sesaat kemudian, wasit lalu mengganjarnya dengan kartu kuning kedua (kartu merah tak langsung).

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Striker Arema Emile Bertrand Mbamba akhirnya mengakui bahwa dirinya tak bisa menahan emosi saat sehingga berbuah kartu merah tak langsung bagi dirinya.
"Saya memang emosi saat itu. Sebab, dengan kartu yang saya terima, saya tak bisa main lawan Persija," Ujarnya. Mbamba dianggap sering melakukan protes berlebihan kepada wasit, sehingga memprovokasi pemain lain dan juga suporter menjadi anarkis.Seperti peristiwa "Kediri Obong" ketika tiga gol Mbamba dianulir wasit ketika Arema berhadapan dengan Persiwa di Babak 8 Besar LI 2007/2008. Mbamba dianggap sebagai provokator dengan protes-protesnya kepada wasit yang memicu Aremania berbuat rusuh dan membakar Stadion Brawijaya kebanggaan Persikmania. Itulah juga yang menajdi pertimbangan PSSI menghukum Mbamba.

Diluar emosinya yang meledak-ledak, Emile Bertrand Mbamba adalah striker yang komplit, punya skill yang bagus dan punya pengalaman yang bagus sebelum bergabung di Arema. Mbamba adalah ikon Arema terhadap perlawanan melawan ketidakadilan dari wasit dipersepabolaan Indonesia. (bersambung)

THE BAD BOYS OF AREMA - part 1



KERAS, itulah ciri khas permainan Arema. Keras, ngotot, dan tak kenal menyerah seperti yang ditunjukkan anak-anak Singo Edan dalam laga terakhir menghadapi Bontang FC, pantang menyerah hingga detik-detik akhir. Keras dalam hal ini bukanlah bermain kasar, karena setiap punggawa Arema harus mempunyai bekal teknik yang mumpuni untuk bermain keras tapi bukan mencederai lawan. Dan karakter keras ini ga dipunyai oleh setiap pemain bola, ada yang mempunyai gaya bermain cantik, ada yang mempunyai gaya mengandalkan speed, ada juga yang mempunyai gaya keras, terus menerjang tak kenal takuti emosi yang meluap-luap. Dan karakter yang terakhir inilah yang melekat pada beberapa pemain Arema, dan mereka ini adalah ikon Arema, pahlawan bagi Aremania baik karena jasanya terhadap Arema dan juga karena aksi-aksinya.

THE BAD BOYS
Inilah tiga pemain yang di anggap sebagai ikon Arema, karena karakter kerasnya, karena emosinya yang meluap-luap dan juga karena kontroversi yang menyertainya sehingga sempat dianggap sebagai pemain bermasalah dengan label "not recommended" oleh PSSI.

Pacho Rubio
Francisco "Pacho" Rubio adalah legenda Arema asal Chile, datang ke Arema bersama saudaranya Juan Rubio.  Kiprahnya bersama Arema memang tergolong singkat. Total ia mampu mencetak 10 gol sejak hadir di bumi Arema mulai putaran II Liga Indonesia 2000 (termasuk 3 gol yang dicetak Pacho Rubio dalam 2 pertandingan di babak 8 Besar di Senayan) Kiprahnya bersama Arema di babak 8 besar tersebut menjadi momen emasnya bersama Arema. Bersama Rodrigo Araya dan Juan Rubio memperkuat Arema. Dengan diiringi lebih dari 10 ribu Aremania, skuad Arema bermain heroik dengan mengalahkan Persija Jakarta (2-1), seri melawan Persikota (1-1). Sayangnya langkah Arema terhenti setelah menelan kekalahan telak melawan Pelita Jaya Solo. Hebatnya Pacho yang tergolong bukan pemain jangkung, mampu menghasilkan gol dari tandukan kepalanya hasil dari hasil assist dari Rodrigo Araya. Sayangnya kiprah gemilangnya harus terhentii oleh skorsing seumur hidup PSSI dan membuyarkan harapan Aremania untuk melihat aksi Pacho lebih lama di pentas sepakbola Indonesia.

Ketika itu PSSI jaman Agum Gumelar, Komisi Disiplin yang diketuai Andi Darusalam Tabusalla menganggap tindak-tanduk Rubio seringkali tidak terpuji dan berpengaruh jelek pada perkembangan sepak bola Indonesia. Dan puncak dari ulah Rubio, menurut Tabusalla, terlihat pada babak 8 Besar Liga Bank Mandiri di Jakarta saat itu. Selain sering memancing emosi lawan dengan kata-kata kasar, Rubio juga memukul penyerang Persikota, Simamo A Basille, di Senayan. Ketika itu hari Kamis (13/7), Arema yang tidak diperkuat Rubio karena cedera, baru saja dikalahkan Pelita Solo 0-3. Rubio tiba-tiba memukul Basille yang berjalan di lorong bawah stadion di sekitar ruang ganti pakaian pemain. Saat itu, Basille dan pemain Persikota hendak menuju lapangan untuk bertanding melawan Persija Jakarta.
 
Sehari sebelum kasus pemukulan Basille itu, Pacho sempat mengutarakan kekesalannya terhadap Basille di kora Kompas. Ia meyakini Basille sengaja mengganjalnya ketika Arema lawan Persikota. Akibat tackling Bassile itu, Pacho harus mengalami cedera kaki kanan dan harus beristirahat selama 15 hari. "Dia sengaja melakukannya. Bagaimana seorang yang profesional dapat berbuat seperti itu. Pemain itu tidak melihat di belakang saya ada istri dan anak yang harus diberi nafkah," beber Rubio.

Walaupun kiprahnya tergolong singkat di Arema, Pacho tetap adalah ikon bagi Aremania. Simbol yang melambangkan mental pejuang, pekerja keras dan tak kenal takut demi harga diri Arema. (bersambung)