Tampilkan postingan dengan label Artikel (re-Post). Tampilkan semua postingan

MEMPIDANAKAN SUPORTER SEPAKBOLA


Oleh: Ekomaung


Sebelum khalayak ramai mendapatkan info mengenai tewasnya suporter di RSCM, mungkin saya termasuk orang Bandung yang pertama mengetahui kabar tersebut, saya yang kemarin menyaksikan langsung persija VS PERSIB dari tribun pers mendapat kabar dari wartawan Jakarta asal Garut di depan saya bahwa dia mendapat kabar dari informannya yang seorang polisi bahwa ada suporter sepakbola yang tewas di RSCM (kebetulan wartawan tersebut bukanlah wartawan olahraga namun wartawan kriminal yang memang memiliki link di kepolisian, wartawan tersebut hadir di GBK memang hanya untuk menonton saja karena seorang garut yang sangat menggemari PERSIB).

Selama pertandingan saya memang melihat sekitar ada 4 insiden di tribun VIP dan VVIP, intinya adalah beberapa kawan bobotoh “kepergok” diantara ratusan jakmania yang hadir, ciri-ciri mereka memang jamak, yaitu memakai baju bebas/ non oranye, logika jakmania yang melakukan sweeping pun cukup rasional. Mereka menganggap orang yang duduk di kelas yang tiketnya mahal dan tidak beratribun maka layak diduga sebagai bobotoh. Dan untunglah kawan-kawan kita itu duduk di VIP yang jakmania-nya relatif tidak terlalu beringas, juga karena di “kelas-kelas mahal” itu polisi dapat segera menjangkau mereka untuk diamankan, entah bagi bobotoh-bobotoh lain yang kepergok menonton di tribun utara, timur, ataupun selatan.

Kabar tewasnya suporter itu sengaja tidak saya sebarluaskan karena bukanlah kabar baik dan menggembirakan meskipun saya yakin itu bukanlah HOAX karena didapatkan langsung dari sumber utama dan bukanlah kutipan berita, melalui media sosial, pemberitaan dsb.

Bahkan hingga media online KOMPAS memberitakan sekitar pukul 20.00, saya pun tetap tak ingin meriah menanggapi hal tersebut melalui media-media sosial, terlebih menyimak pemberitaan yang mulai lebay dan mengklaim bahwa korban adalah bobotoh PERSIB serta semakin menyulut kebencian, padahal belum ada kepastian korban dari pihak bobotoh (meskipun pada akhirnya semua menyadari bahwa dari pihak manapun korban ini tetap sebuah tragedi yang sangat tidak lucu dalam dunia persepakbolaan yang seharusnya mengutamakan sisi hiburan). Secara pribadi saya menganggap rivalitas dalam sepakbola memang harus ada untuk tetap menjaga atmosfer dan kualitas kemaskulinan olahraga ini. Namun tentunya rivalitas yang berkonteks. Konteks rivalitas itu akan saya coba bagi dalam tulisan berikutnya dalam trilogi ini.

Dalam bagian pertama yang penuh keterbatasan waktu ini, saya ingin membuat kita melihat lebih luas terlebih dahulu sebelum total membicarakan segala sesuatu terkait bentrokan suporter sepakbola, baik secara fenomena umum maupun pengalaman empirik yang pernah dialami langsung oleh penulis maupun beberapa orang kawan.

Sanksi yang diberikan kepada suporter sepak bola seakan tidak menjamin bahwa kerusuhan dalam sebuah pertandingan di kota yang bersangkutan akan tiada, bahkan bonek, suporter fanatik Persebaya Surabaya, dikenal tak hanya sering berbuat ricuh di Kota Pahlawan, namun di kota-kota lain dimana Persebaya bermain. Lalu adakah solusi untuk “benar-benar” membuat jera para pelaku kerusuhan tersebut?

Selama ini, yang menjadi rujukan dalam pemberian sanksi dalam kerusuhan sepak bola di tanah air adalah PSSI. Bentuk sanksinya pun tidaklah berhubungan dengan hukum positif yang berlaku. Padahal, begitu banyak hal yang terkait dengan tindak kerusuhan ini adalah nyata-nyata pelanggaran norma hukum, terutama hukum pidana. Ada beberapa hal yang memenuhi unsur delik pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang biasa dilakukan para suporter sepak bola di Indonesia. Ada pula beberapa tindak pidana kejahatan yang berkaitan langsung dengan terjadinya kerusuhan suporter sepak bola.

Pertama adalah tindak pidana tentang penghancuran atau perusakan barang yang diatur dalam Bab XXVII buku kedua KUHP. Mengenai hal ini, semua dapat kita lihat saat terjadinya kerusuhan sepak bola, baik di dalam stadion maupun luar stadion. Bukti-buktinya pun jelas dan terekam dalam berbagai dokumentasi, pembakaran, serta perusakan fasilitas umum dan kendaraan-kendaraan pribadi menjadi hal yang dapat dipastikan akan selalu mengikuti saat terjadi kerusuhan sepak bola.

Kedua adalah tindak pidana penganiayaan yang diatur dalam Bab XX buku kedua KUHP. Tindak pidana yang satu ini akan semakin nyata saat melibatkan dua kelompok suporter yang berbeda, bahkan aksi-aksi penganiayaan dalam kerusuhan sepak bola tidak jarang pula harus menelan korban jiwa, sebagai contoh adalah tewasnya Aremania saat bentrokan dengan Sakeramania saat Arema Malang berhadapan dengan Persekapas Pasuruan beberapa musim musim lalu di Madiun, ataupun saat seorang suporter Semen Padang harus meregang nyawa usai dikeroyok sekelompok oknum Jakmania pada musim kompetisi 2001 lalu. Bahkan, jika kita melihat keluar, betapa kompetisi sepak bola sekelas seri A Liga Italia pun harus dihentikan sementara waktu akibat tewasnya seorang polisi di tangan ultras (sebutan bagi suporter garis keras di Italia).

Selain itu, beberapa hal lain yang dilakukan para suporter dan terjadi sebelum atau sesudah kerusuhan pun dapat pula dijerat dengan hukum pidana, yaitu saat para oknum suporter mengonsumsi obat-obatan terlarang untuk membuat mereka lebih “terbang” saat beraksi mendukung tim kesayangannya. Menenggak minuman keras sebelum pertandingan seakan telah menjadi ritual rutin bagi sebagian suporter sepak bola, dan efeknya pun cukup mengerikan. Dalam keadaan mabuk, para suporter ini menjadi sangat agresif dan mudah melakukan hal-hal yang sulit dikontrol.

Selain tindak kejahatan, bentuk pelanggaran pun biasa mereka lakukan saat menuju ataupun pulang dari stadion. Yang dimaksud adalah tindak pidana pelanggaran lalu lintas. Kita akan sangat mudah menjumpai pemandangan suporter yang mengemudikan motor ugal-ugalan, tidak menggunakan helm, berboncengan motor lebih dari tiga orang, dll. Maka di mana peran para penegak hukum saat tindakan-tindakan “khas” suporter sepak bola ini telah nyata-nyata, termasuk kategori pidana dan kriminal murni?

Tidak pernah kita dengar berita penuntutan secara konvensional bagi pelaku tindak pidana dalam sebuah pertandingan sepak bola, yaitu tuntutan jaksa, proses peradilan di pengadilan umum hingga jatuhnya vonis. Yang sering kita dengar hanyalah sanksi dari PSSI dan sekadar penahanan sementara terhadap para suporter “badung” untuk kemudian dilepaskan setelah anggota keluarganya datang ke kantor polisi untuk menebus sang perusuh dengan sejumlah uang. Sebuah kekeliruan telah terjadi. Kejahatan-kejahatan dan pelanggaran yang terjadi dalam ranah pertandingan sepak bola dianggap berbeda cara penanganannya dengan penanganan tindak pidana di luar sepak bola, padahal kita memiliki hukum acara yang harus dilaksanakan untuk menegakkan hukum pidana.

Sebenarnya bukan dalam konteks kerusuhan suporter saja hukum menjadi sebuah omong kosong belaka. Para pemain ataupun ofisial yang jelas-jelas tertangkap kamera menganiaya wasit tidak pernah dituntut secara pidana oleh penegak hukum, yang ada sekadar hukuman versi PSSI, yaitu denda dan larangan bermain bagi si pelaku. Kejahatan di luar lapangan yang berhubungan dengan sepak bola pun tak mendapat konsekuensi hukum yang jelas. Entah berapa kali terjadi kasus suap yang melibatkan pejabat teras PSSI. Jika kasus tersebut berhasil terbongkar, yang terjadi kemudian hanyalah sanksi administratif di kalangan intern organisasi PSSI itu sendiri, yaitu berupa pemecatan. Padahal yang namanya suap adalah termasuk kejahatan pidana dan siapa pun pelakunya haruslah berhadapan dengan hukum.

Sudah saatnya paradigma hukum dalam menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan sepak bola kembali diluruskan bahwa siapa pun orangnya dan apa pun tindakannya meski dilakukan dalam ranah sepak bola. Jika itu memenuhi unsur-unsur pidana, hukum harus masuk dan menampakkan wajahnya sehingga meski kita memiliki PSSI sebagai induk organisasi tertinggi yang memiliki otoritas tertinggi terhadap penjatuhan sanksi dalam dinamika persepakbolaan tanah air, namun hukum harus tetap menjadi pandu yang mampu menyentuh seluruh aspek yang berkaitan dengannya. Masyarakat pun akan mendapat pembelajaran dan keyakinan bahwa ketertiban dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, termasuk sepak bola akan terjamin, para pelaku pun akan berpikir dua kali saat melakukan tindakan yang akan membuatnya berhadapan dengan sanksi yang tegas, tak hanya denda namun juga hukuman kurungan dan penjara hingga bertahun-tahun.

Penulis berkhidmat dengan akun twitter @ekomaung

DOKTRIN MAHDiP

Ini adalah artikel tulisan dari Ronaldikin, seorang pecinta bola nasional sekaligus Bobotoh yang mempunyai "face" mirip dengan Ronaldinho. Ayas menemukan artikel ini di banyak forum penggemar Persib, dan kurang lebih Ayas setuju dengan isi artikel tersebut. Walau konteks artikel ini menyoroti hubungan antara Viking dan Jakmania, namun secara luas artikel ini juga bisa dihubungkan dengan Aremania. Sedikit sejalan dengan sebuah gagasan dari Aremania sendiri tentang menjadi suorter #Profesional90Menit, yang menkounter kebiasaan selama ini yakni rasis di setiap laga. Inilah MAHDiP alias Musuh Abadi Harus Dipelihara, sikap yang menggejala di dunia suporter nasional yang sudah menyebar dan mengakar disegala lapisan suporter terutama suporter2 pemula ato abg yang sebelum tak tau apa2 tentang permusuhan antar kelompok suporter di  Tanah Air.


MAHDIP adalah singkatan dari MUSUH ABADI HARUS DIPELIHARA.

*DOKTRIN MAHDIP * adalah suatu ajaran untuk memelihara perseteruan/permusuhan. Dengan adanya doktrin tersebut sehingga terjadi penolakan keras untuk islah/damai, mengharamkan saling berjabat tangan,mengabaikan nilai – nilai SPORTIVITAS dan FAIR PLAY, mempengaruhi antar suporter untuk saling benci, saling dendam dan saling hantam, menciptakan rivalitas FANS CLUB dari pada rivalitas CLUB, menciptakan pertandingan sepak bola bersifat SATU STADION, SATU SUPORTER tanpa suporter tamu/blokade, menciptakan FANATISME SEMU atau Kedaerahan, meresahkan masyarakat dengan aksi tawuran, sweeping, menteror kendaraan yang bernomer plat kota lain, bikin aksi corat coret tembok/dingding yang bersifat rasis/provokatif, membuat tulisan yang bersifat rasis/provokatif lewat kaos, spanduk dan lain lain, menyanyikan rasis/provokatif disaat pertandingan berlangsung/tidak berlangsung sehingga tidak mensupport pemain untuk lebih bersemangat ini malah mengejek suporter yang dianggap musuh abadi.

Doktrin tersebut TIDAK MENGUNTUNGKAN sama sekali dan TIDAK DIBENARKAN oleh agama manapun, bertentangan dengan hukum dan norma norma yang berlaku di masyarakat, sebaiknya ada perselisihan untuk segera dibereskan dengan cara BERMUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT dengan hati sejuk dan pikiran tenang, MAKE MANAH/PAKAI HATI bukan PAKAI AMARAH, tidak mengungkit-ungkit masa lalu yang kelam, lihat kedepan untuk perbaikan,ingat Allah MAHA itu pemaaf kenapa manusia harus MAHAL pemaaf,tidak ada istilah gengsi untuk saling memaafkan sesama saudara dan diusahakan ketua, panglima, dirigent, para punggawa, KORLAP dan pengurus organisasi fans club lainya untuk menjadi panutan anak buahnya bukan sebaliknya memprovokasi atau membiarkan kericuhan.


“Kejahatan dibalas kejahatan,itu dendam,kebaikan dibalas kebaikan, itu biasa.kebaikan dibalas kejahatan, itu zalim.tapi kejahatan dibalas kebaikan itu MULIA.“ Oleh karena itu pribados selaku suporter Non Blok (blok SATU HATI- blok SATU JIWA) dengan ini menyatakan : ”MENOLAK KERAS DOKTRIN MAHDIP” ,Sekian pencerahan dari pribados semoga bermanfaat bila ada kekurangan/kekhilafan,mohon maaf yang sebesar besarnya.

ADIOS ADOE JOTOZ…!!!
BRAVO SEPAK BOLA DAMAI…!!!
PERMIOS…

Ditulis oleh : Ronaldikin
Menuju 25 Tahun AREMA
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012
-UNITED IN ONE SOUL-
"ONE AREMA
ONE AREMANIA
FOR ONE INDONESIA"

NYATAKAH UNIVERSALITAS AREMANIA?

Lautan Aremania saat di Senayan, ketika itu Aremania dari seluruh penjuru Indonesia menyerbu Jakarta. Baik Aremania dari asli Malang, Perantauan, ataupun Aremania bukan asli Malang.

KETIKA membaca artikel aremasenayan.com yang berjudul Universalitas Aremania saya tertarik dengan kalimat ini.
“Ono malah sing kadit osi ngomong owoj tapi gak pernah absen ke stadion setiap arema Niam. Di luar Malang, bahkan ada yang tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Malang, namun bangga beridentitas sebagai Aremania.”
Kenapa saya tertarik? Mungkin ini bisa menjadi salah satu bukti dari universalitas Aremania. Ya, karena saya bukanlah orang asli Malang. Saya justru lahir di Bandung dan besar di Pekanbaru, Riau. Saya sempat menggemari Persib Bandung dan PSPS Pekanbaru. Terutama ketika PSPS membentuk The Dream Team di awal-awal tahun 2000-an.(FYI, umur saya sekarang 19) Namun, saya tidak menemukan sesuatu yang membuat saya benar-benar setia terhadap dua tim itu. Kemudian perhatian saya tertarik kepada sebuah tim, yaitu Arema.  Apa yang membuat saya tertarik dengan Arema? Kebetulan saya mempunyai kakak laki-laki yang kuliah di Malang. Dari dialah saya menerima cerita-cerita mengenai Arema. Dan tahukah apa yang selalu diceritakan? Tentang AREMANIA. Itu lah yang membuat saya mulai tertarik dengan Arema. Kreatifitas serta keloyalitasan Aremania yang terus diceritakan oleh kakak saya itu seolah menyita perhatian saya. Memang benar apa yang ditulis di artikel tersebut bahwa yang menjadi magnet warga luar Malang ada 3 faktor,

·  Kreatifitas Aremania. Dalam setiap laga kandang dan tandang, dimana Aremania selalu memberikan dukungan dalam bentuk atraksi yang menarik, nyanyian dan lagu2 yang memberikan semangat dan menghibur, tarian yang atraktif.
·  Sportifitas Aremania. Kalah dan menang adalah bagian dari permainan, dan setiap kemenangan adalah kado terindah bagi Aremania, sedangkan kekalahan bukanlah menjadi alasan untuk membuat ulah dan kerusuhan seperti yang dilakukan beberapa kelompok suporter lain dan uniknya, media seolah-olah sangat hobi sekali untuk mengekspose hal hal semacam ini (kerusuhan suporter) dibanding persahabatan suporter.
·  Pesan Damai. Aremania selalu membuka tangan lebar-lebar bagi siapapun suporter team Tamu yang berkunjung ke Malang. Dan hal ini tentunya berbalas dengan sambutan meriah mereka jika Aremania berkunjung. Lambat laun, hal ini menjalin persahabatan yang semakin meluas, sehingga hampir di semua tempat di negeri ini, Aremania adalah sahabat yang baik. Mereka datang dengan damai, membeli tiket dengan tertib, dan pulang tanpa meninggalkan jejak kerusuhan.

Saya mulai menonton Arema berawal saat final Copa Indonesia 2005, saya melihat aksi Firman Utina sampai sekarang yang saya sepertinya telah benar-benar cinta mati pada Arema. Saya tidak bisa berbahasa jawa namun saya bisa mengerti saat orang berbicara jawa. Saya pernah ke Malang, namun saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Gajayana ataupun Kanjuruhan. Namun, saya benar-benar bangga beridentitas Aremania.

Saya sempat bergabung dengan Aremania Pekanbaru dan nawak-nawak yang semua memang asli Malang menerima saya dan menempatkan saya sebagai saudara mereka juga. Padahal terhitung saya bukan asli ngalam dan saya tidak bisa berbahasa jawa. Sekarang saya berada di Jakarta, saya ingin sekali bergabung dengan saudara-saudara saya yang bergabung di Arema Senayan. Namun keterbatasan waktu dan transportasi terus menghalangi saya untuk bergabung dengan mereka yang sudah saya anggap saudara meski belum pernah bertemu. Sekarang, yang saya tanyakan. Apakah kalian, Aremania yang benar-benar asli Malang bisa betul-betul menerima orang-orang seperti saya, Aremania yang bukan asli Ngalam? Apakah nantinya kalian bisa memperlakukan kami dengan hangat seperti ketika kalian saling bertemu sesama Kera Ngalam?

Kalau terbukti bisa, maka universalitas Aremania pun semakin benar adanya. Rasa cinta saya pun akan semakin besar dan saya menjadi semakin yakin dengan slogan "Salam Satu Jiwa" yang diiringi dengan perbuatan nyata, virus persatuan serta jiwa dan semangat Aremania mampu mempengaruhi seantero negeri yang kita cintai ini.

Salam Satu Jiwa, Arema Indonesia

Oleh: Rizki Prasetyo Hutomo
FB : http://www.facebook.com/oomrizki

CATATAN KECIL AREMANITA

sarahanna.anna | cerita aremanita di 'zona bahaya'

MENJADI seorang supporter sejati mungkin adalah hal yang biasa atau ngga terlalu istimewa untuk sebagian orang yang hanya sekedar tau tentang bola, tok’ . ngga lebih dan ngga kurang. Bahkan, kalau ngeliat ada yang sangat respect terhadap tim kesayangannya, pasti di anggap berlebihan atau aneh dan semacamnya. Padahal mereka nggak tau, rasa bangganya, hawa euvorianya. Dan hal istimewa lainnya ketika kita benar-benar menjadi supporter sejati sebuah tim sepak bola. Seperti yang gue rasain selama mengenal Arema dan tentu Aremania/nita lainnya.

Yap, banyak hal baru yang gue rasain ketika semakin lama semakin dalam mengenal tim singo edan ini. Dan semua hal-hal baru itu membuat gue semakin dan makin cinta terhadap Arema.

Rasa cinta ini berubah menjadi fanatik, sedikit berbagi cerita. Tentang beberapa pertandingan Arema yang akhir-akhir ini selalu jatuh pada hari dan jam kerja, ternyata itu membuat gue kalang kabut atau bisa di bilang jadi galau. Rasanya buat kerja pun ngga tenang. Karena satu hal, takut melewatkan satu detik pun perjuangan para punggawa Arema di lapangan hijau, takut ngga bisa liat semangatnya nawak-nawak di malang, yang walaupun hujan deras, walau panas membara tetapi tetap datang ke kanjuruhan dan selalu siap untuk membirukan kanjuruhan. Dan setiap gue liat kanjuruhan yang penuh sesak dengan Aremania/nita, hati gue selalu lagi-lagi maksa pengen ada di sana.

Tapi balik lagi, gue di Bogor, bukan di malang. Gue di kota yang mungkin bisa ke itung Aremania/nita nya. Atau walaupun banyak, kami terpencar jauh. Selain itu Gue juga tinggal di kota yang mayoritas mendukung si ‘Hijau’ dan si ‘Biru’ lainnya. Dan tentu bukan hal yang mudah untuk gue, atau mungkin nawak-nawak yang tinggal di Zona bahaya untuk tetap terus mempertahankan rasa cintanya kepada Arema di kota yang sangat frontal terhadap tim singo edan.

Dan karena itu semua, tentu aja membuat gue semakin sulit, bahkan untuk bisa tetap nonton Arema bertanding, entah untuk keberapa kalinya gue selalu izin untuk pulang duluan dengan berbagai alasan yang terkadang membuat gue tertawa sendiri. Karena semua alasan yang gue buat tentu aja ngga sepenuhnya benar, tapi gue ngga peduli. ‘Yang penting bisa nonton!’ *maaf ya bos..*

Terkadang gue merasa senang kalau ketemu nawak Aremania/nita di Kota Bogor. Ngga tau kenapa kok rasanya seperti bertemu saudara sendiri. Dan semakin lama gue semakin yakin, rasa persaudaraan itu muncul karena satu selogan yang ngga asing lagi untuk di dengar  yaitu: “SALAM SATU JIWA!” yang lama-lama menjadi terdengar seperti sebuah salam yang wajib setelah “asalamu’alaikum” yang tanpa sadar makin mempererat kepercayaan kita terhadap Arema.

Rasa ini mulai muncul ketika gue nemuin salah satu warung bakso sederhana yang dengan beraninya memasang spanduk besar-besaran bertuliskan “BAKSO AREMA” di depan warungnya. Sebenarnya ngga ada yang istimewa dari tatanan warung bakso tersebut, hanya gerobak biru dan beberapa meja yang di saungi oleh tenda berwarna biru juga. Justru yang bikin gue tertarik dari warung bakso ini adalah tempat di mana dia berjualan. Yaitu persis di sebelah outlet si ‘Hijau’ dan si ‘Biru’ yang lain itu.

Tentu aja ini sangat menarik pandangan mata warga sekitar situ yang mayoritas ‘Hijau dan Biru yang lain’. Kadang mereka kesal, dan sering bilang, “Hei ini JAWA BARAT kang!, lo tinggal di mana dukung kok ke tim sana yang jauh banget sama khas sunda”. Atau mereka sering bilang, “Indonesia itu bukan milik Arema, yang bilang Indonesia itu milik Arema cuman orang yang ngga sekolah”. padalah kalau mereka mau mencermati, atau mungkin mengingat pelajaran bahasa Indonesia waktu jaman kita berseragam dulu, arti dari kata AREMA INDONESIA adalah termasuk dalam sebuah majas, yaitu majas pras pro toto.

Pras pro toto sendiri mempunyai arti yaitu majas yang di gunakan sebagian unsur atau objek untuk menunjukan keseluruhan objek. Itu berati, arti dari sebutan AREMA INDONESIA adalah Arema di miliki oleh seluruh rakyat Indonesia, bukan Indonesia yang di miliki oleh Arema. Arema sendiri adalah sebuah nama yang mewakili seluruh punggawa di dalamnya, termasuk Aremania dan Aremanita itu sendiri. Seharusnya mereka dapat mengerti hal itu, tapi gue ngga ngerti kadang hal seperti itu juga di besar-besarkan oleh mereka yang mungkin belum paham. Atau mungkin cenderung ikut-ikutan.

Kata-kata seperti itu juga sebenernya ngga asing di tujukan ke gue, bahkan sering kali gue di bilang pengkhianat. Atau bahkan ada yang terang-terangan bilang kalau gue terlihat menjijikan dan alay karena fanatic dengan Arema. dan respon gue? Diem aja deh. udah bebal juga sama hal begitu. Toh ngga ada peraturannya juga kalau kita tinggal di suatu daerah tertentu harus mendukung tim daerah itu juga. Itu hak kita. benarkan nawak Aremania/nita?

"Kami Aremania, Tidak Kemana-mana, Tapi Ada Dimana-mana" Bukanlah slogan semata
Akhir cerita gue, gue cuman mau bilang, mungkin semua yang gue dan Aremania/nita korwil rasain, perjuangan yang kami lakukan ngga sebanding sama dua Aremania ketika tragedi Madiun yang terjadi pada tanggal 10 April 2005. Ah, tentu jauh. Pengabdian mereka untuk Arema benar-benar loyalitas tanpa batas. Hingga harus mengorbankan nyawanya sendiri. Sam Abdul Rochiem dan mat Togel, dua sosok yang jujur sebenarnya ngga gue kenal, tapi kisahnya membuat gue merinding terharu. Salut! Salut !! semoga tragedi tersebut bisa menjadi sebuah pembelajaran buat kita yang masih di beri kesempatan oleh Tuhan untuk tetap bisa berdiri tegak menyerukan semangat untuk Arema. dan semoga, kita yang mengaku benar-benar cinta terhadap Arema bisa terus belajar untuk menyingkirkan yel-yel yang tidak enak di dengar, karena gue yakin kalau kita punya seruan-seruan yang lebih indah selain harus menyebutkan tim yang frontal itu. setuju?
Dan akhir kata, ngga bosen-bosennya gue untuk bilang, SAVE AREMA dan SALAM SATU JIWA !

Repost dari :
http://annlawliet.blog.com/2011/04/13/catatan-kecil-aremanita
Ditulis oleh : sarahanna.anna | aremanita bogor
twitter: @hikari_anna
email : sarahanna.anna@yahoo.com
facebook : sarahanna ‘anna’
ym: sarahanna.anna@yahoo.com