Tampilkan postingan dengan label Revolusi Bola. Tampilkan semua postingan

MEMPIDANAKAN SUPORTER SEPAKBOLA


Oleh: Ekomaung


Sebelum khalayak ramai mendapatkan info mengenai tewasnya suporter di RSCM, mungkin saya termasuk orang Bandung yang pertama mengetahui kabar tersebut, saya yang kemarin menyaksikan langsung persija VS PERSIB dari tribun pers mendapat kabar dari wartawan Jakarta asal Garut di depan saya bahwa dia mendapat kabar dari informannya yang seorang polisi bahwa ada suporter sepakbola yang tewas di RSCM (kebetulan wartawan tersebut bukanlah wartawan olahraga namun wartawan kriminal yang memang memiliki link di kepolisian, wartawan tersebut hadir di GBK memang hanya untuk menonton saja karena seorang garut yang sangat menggemari PERSIB).

Selama pertandingan saya memang melihat sekitar ada 4 insiden di tribun VIP dan VVIP, intinya adalah beberapa kawan bobotoh “kepergok” diantara ratusan jakmania yang hadir, ciri-ciri mereka memang jamak, yaitu memakai baju bebas/ non oranye, logika jakmania yang melakukan sweeping pun cukup rasional. Mereka menganggap orang yang duduk di kelas yang tiketnya mahal dan tidak beratribun maka layak diduga sebagai bobotoh. Dan untunglah kawan-kawan kita itu duduk di VIP yang jakmania-nya relatif tidak terlalu beringas, juga karena di “kelas-kelas mahal” itu polisi dapat segera menjangkau mereka untuk diamankan, entah bagi bobotoh-bobotoh lain yang kepergok menonton di tribun utara, timur, ataupun selatan.

Kabar tewasnya suporter itu sengaja tidak saya sebarluaskan karena bukanlah kabar baik dan menggembirakan meskipun saya yakin itu bukanlah HOAX karena didapatkan langsung dari sumber utama dan bukanlah kutipan berita, melalui media sosial, pemberitaan dsb.

Bahkan hingga media online KOMPAS memberitakan sekitar pukul 20.00, saya pun tetap tak ingin meriah menanggapi hal tersebut melalui media-media sosial, terlebih menyimak pemberitaan yang mulai lebay dan mengklaim bahwa korban adalah bobotoh PERSIB serta semakin menyulut kebencian, padahal belum ada kepastian korban dari pihak bobotoh (meskipun pada akhirnya semua menyadari bahwa dari pihak manapun korban ini tetap sebuah tragedi yang sangat tidak lucu dalam dunia persepakbolaan yang seharusnya mengutamakan sisi hiburan). Secara pribadi saya menganggap rivalitas dalam sepakbola memang harus ada untuk tetap menjaga atmosfer dan kualitas kemaskulinan olahraga ini. Namun tentunya rivalitas yang berkonteks. Konteks rivalitas itu akan saya coba bagi dalam tulisan berikutnya dalam trilogi ini.

Dalam bagian pertama yang penuh keterbatasan waktu ini, saya ingin membuat kita melihat lebih luas terlebih dahulu sebelum total membicarakan segala sesuatu terkait bentrokan suporter sepakbola, baik secara fenomena umum maupun pengalaman empirik yang pernah dialami langsung oleh penulis maupun beberapa orang kawan.

Sanksi yang diberikan kepada suporter sepak bola seakan tidak menjamin bahwa kerusuhan dalam sebuah pertandingan di kota yang bersangkutan akan tiada, bahkan bonek, suporter fanatik Persebaya Surabaya, dikenal tak hanya sering berbuat ricuh di Kota Pahlawan, namun di kota-kota lain dimana Persebaya bermain. Lalu adakah solusi untuk “benar-benar” membuat jera para pelaku kerusuhan tersebut?

Selama ini, yang menjadi rujukan dalam pemberian sanksi dalam kerusuhan sepak bola di tanah air adalah PSSI. Bentuk sanksinya pun tidaklah berhubungan dengan hukum positif yang berlaku. Padahal, begitu banyak hal yang terkait dengan tindak kerusuhan ini adalah nyata-nyata pelanggaran norma hukum, terutama hukum pidana. Ada beberapa hal yang memenuhi unsur delik pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang biasa dilakukan para suporter sepak bola di Indonesia. Ada pula beberapa tindak pidana kejahatan yang berkaitan langsung dengan terjadinya kerusuhan suporter sepak bola.

Pertama adalah tindak pidana tentang penghancuran atau perusakan barang yang diatur dalam Bab XXVII buku kedua KUHP. Mengenai hal ini, semua dapat kita lihat saat terjadinya kerusuhan sepak bola, baik di dalam stadion maupun luar stadion. Bukti-buktinya pun jelas dan terekam dalam berbagai dokumentasi, pembakaran, serta perusakan fasilitas umum dan kendaraan-kendaraan pribadi menjadi hal yang dapat dipastikan akan selalu mengikuti saat terjadi kerusuhan sepak bola.

Kedua adalah tindak pidana penganiayaan yang diatur dalam Bab XX buku kedua KUHP. Tindak pidana yang satu ini akan semakin nyata saat melibatkan dua kelompok suporter yang berbeda, bahkan aksi-aksi penganiayaan dalam kerusuhan sepak bola tidak jarang pula harus menelan korban jiwa, sebagai contoh adalah tewasnya Aremania saat bentrokan dengan Sakeramania saat Arema Malang berhadapan dengan Persekapas Pasuruan beberapa musim musim lalu di Madiun, ataupun saat seorang suporter Semen Padang harus meregang nyawa usai dikeroyok sekelompok oknum Jakmania pada musim kompetisi 2001 lalu. Bahkan, jika kita melihat keluar, betapa kompetisi sepak bola sekelas seri A Liga Italia pun harus dihentikan sementara waktu akibat tewasnya seorang polisi di tangan ultras (sebutan bagi suporter garis keras di Italia).

Selain itu, beberapa hal lain yang dilakukan para suporter dan terjadi sebelum atau sesudah kerusuhan pun dapat pula dijerat dengan hukum pidana, yaitu saat para oknum suporter mengonsumsi obat-obatan terlarang untuk membuat mereka lebih “terbang” saat beraksi mendukung tim kesayangannya. Menenggak minuman keras sebelum pertandingan seakan telah menjadi ritual rutin bagi sebagian suporter sepak bola, dan efeknya pun cukup mengerikan. Dalam keadaan mabuk, para suporter ini menjadi sangat agresif dan mudah melakukan hal-hal yang sulit dikontrol.

Selain tindak kejahatan, bentuk pelanggaran pun biasa mereka lakukan saat menuju ataupun pulang dari stadion. Yang dimaksud adalah tindak pidana pelanggaran lalu lintas. Kita akan sangat mudah menjumpai pemandangan suporter yang mengemudikan motor ugal-ugalan, tidak menggunakan helm, berboncengan motor lebih dari tiga orang, dll. Maka di mana peran para penegak hukum saat tindakan-tindakan “khas” suporter sepak bola ini telah nyata-nyata, termasuk kategori pidana dan kriminal murni?

Tidak pernah kita dengar berita penuntutan secara konvensional bagi pelaku tindak pidana dalam sebuah pertandingan sepak bola, yaitu tuntutan jaksa, proses peradilan di pengadilan umum hingga jatuhnya vonis. Yang sering kita dengar hanyalah sanksi dari PSSI dan sekadar penahanan sementara terhadap para suporter “badung” untuk kemudian dilepaskan setelah anggota keluarganya datang ke kantor polisi untuk menebus sang perusuh dengan sejumlah uang. Sebuah kekeliruan telah terjadi. Kejahatan-kejahatan dan pelanggaran yang terjadi dalam ranah pertandingan sepak bola dianggap berbeda cara penanganannya dengan penanganan tindak pidana di luar sepak bola, padahal kita memiliki hukum acara yang harus dilaksanakan untuk menegakkan hukum pidana.

Sebenarnya bukan dalam konteks kerusuhan suporter saja hukum menjadi sebuah omong kosong belaka. Para pemain ataupun ofisial yang jelas-jelas tertangkap kamera menganiaya wasit tidak pernah dituntut secara pidana oleh penegak hukum, yang ada sekadar hukuman versi PSSI, yaitu denda dan larangan bermain bagi si pelaku. Kejahatan di luar lapangan yang berhubungan dengan sepak bola pun tak mendapat konsekuensi hukum yang jelas. Entah berapa kali terjadi kasus suap yang melibatkan pejabat teras PSSI. Jika kasus tersebut berhasil terbongkar, yang terjadi kemudian hanyalah sanksi administratif di kalangan intern organisasi PSSI itu sendiri, yaitu berupa pemecatan. Padahal yang namanya suap adalah termasuk kejahatan pidana dan siapa pun pelakunya haruslah berhadapan dengan hukum.

Sudah saatnya paradigma hukum dalam menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan sepak bola kembali diluruskan bahwa siapa pun orangnya dan apa pun tindakannya meski dilakukan dalam ranah sepak bola. Jika itu memenuhi unsur-unsur pidana, hukum harus masuk dan menampakkan wajahnya sehingga meski kita memiliki PSSI sebagai induk organisasi tertinggi yang memiliki otoritas tertinggi terhadap penjatuhan sanksi dalam dinamika persepakbolaan tanah air, namun hukum harus tetap menjadi pandu yang mampu menyentuh seluruh aspek yang berkaitan dengannya. Masyarakat pun akan mendapat pembelajaran dan keyakinan bahwa ketertiban dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, termasuk sepak bola akan terjamin, para pelaku pun akan berpikir dua kali saat melakukan tindakan yang akan membuatnya berhadapan dengan sanksi yang tegas, tak hanya denda namun juga hukuman kurungan dan penjara hingga bertahun-tahun.

Penulis berkhidmat dengan akun twitter @ekomaung

DOKTRIN MAHDiP

Ini adalah artikel tulisan dari Ronaldikin, seorang pecinta bola nasional sekaligus Bobotoh yang mempunyai "face" mirip dengan Ronaldinho. Ayas menemukan artikel ini di banyak forum penggemar Persib, dan kurang lebih Ayas setuju dengan isi artikel tersebut. Walau konteks artikel ini menyoroti hubungan antara Viking dan Jakmania, namun secara luas artikel ini juga bisa dihubungkan dengan Aremania. Sedikit sejalan dengan sebuah gagasan dari Aremania sendiri tentang menjadi suorter #Profesional90Menit, yang menkounter kebiasaan selama ini yakni rasis di setiap laga. Inilah MAHDiP alias Musuh Abadi Harus Dipelihara, sikap yang menggejala di dunia suporter nasional yang sudah menyebar dan mengakar disegala lapisan suporter terutama suporter2 pemula ato abg yang sebelum tak tau apa2 tentang permusuhan antar kelompok suporter di  Tanah Air.


MAHDIP adalah singkatan dari MUSUH ABADI HARUS DIPELIHARA.

*DOKTRIN MAHDIP * adalah suatu ajaran untuk memelihara perseteruan/permusuhan. Dengan adanya doktrin tersebut sehingga terjadi penolakan keras untuk islah/damai, mengharamkan saling berjabat tangan,mengabaikan nilai – nilai SPORTIVITAS dan FAIR PLAY, mempengaruhi antar suporter untuk saling benci, saling dendam dan saling hantam, menciptakan rivalitas FANS CLUB dari pada rivalitas CLUB, menciptakan pertandingan sepak bola bersifat SATU STADION, SATU SUPORTER tanpa suporter tamu/blokade, menciptakan FANATISME SEMU atau Kedaerahan, meresahkan masyarakat dengan aksi tawuran, sweeping, menteror kendaraan yang bernomer plat kota lain, bikin aksi corat coret tembok/dingding yang bersifat rasis/provokatif, membuat tulisan yang bersifat rasis/provokatif lewat kaos, spanduk dan lain lain, menyanyikan rasis/provokatif disaat pertandingan berlangsung/tidak berlangsung sehingga tidak mensupport pemain untuk lebih bersemangat ini malah mengejek suporter yang dianggap musuh abadi.

Doktrin tersebut TIDAK MENGUNTUNGKAN sama sekali dan TIDAK DIBENARKAN oleh agama manapun, bertentangan dengan hukum dan norma norma yang berlaku di masyarakat, sebaiknya ada perselisihan untuk segera dibereskan dengan cara BERMUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT dengan hati sejuk dan pikiran tenang, MAKE MANAH/PAKAI HATI bukan PAKAI AMARAH, tidak mengungkit-ungkit masa lalu yang kelam, lihat kedepan untuk perbaikan,ingat Allah MAHA itu pemaaf kenapa manusia harus MAHAL pemaaf,tidak ada istilah gengsi untuk saling memaafkan sesama saudara dan diusahakan ketua, panglima, dirigent, para punggawa, KORLAP dan pengurus organisasi fans club lainya untuk menjadi panutan anak buahnya bukan sebaliknya memprovokasi atau membiarkan kericuhan.


“Kejahatan dibalas kejahatan,itu dendam,kebaikan dibalas kebaikan, itu biasa.kebaikan dibalas kejahatan, itu zalim.tapi kejahatan dibalas kebaikan itu MULIA.“ Oleh karena itu pribados selaku suporter Non Blok (blok SATU HATI- blok SATU JIWA) dengan ini menyatakan : ”MENOLAK KERAS DOKTRIN MAHDIP” ,Sekian pencerahan dari pribados semoga bermanfaat bila ada kekurangan/kekhilafan,mohon maaf yang sebesar besarnya.

ADIOS ADOE JOTOZ…!!!
BRAVO SEPAK BOLA DAMAI…!!!
PERMIOS…

Ditulis oleh : Ronaldikin
Menuju 25 Tahun AREMA
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012
-UNITED IN ONE SOUL-
"ONE AREMA
ONE AREMANIA
FOR ONE INDONESIA"

#PROFESIONAL90MENIT



#profesional90menit, intine sih suporter yo kudu osi profesional, ga mek pemain thok.. :). Iki soale Ayas risih krungu lagu "bonek jancok, viking anjing", padahal sing dilawan guduk Persebaya / Persib. Opo maneh pas laga lawan Persija, ono lagu "Persija Arema kita sodara", otomatis pemain Persija kadit terintimidasi. Sejujurnya Ayas kangen lagu-lagu Aremania mbiyen, koyo' "keras...keras, Arema keras!", iku wes jarang krungu saiki.  Aremania saiki lebih sering nyanyi "bonek jancok, viking anjing", pertanyaan-e ono bonek/viking ndek stadion a?

Misale laga vs Persebaya / vs Persib gapopo sih.. Lha lek sing niam pas vs Persija / vs Deltras? Neror sopo rek? Ayas rikip pemain-e Persija, Deltras, dll. gak bakal tertekan lek lagune "bonek jancok, viking anjing". Malah ono kemungkinan Arif Ariyanto (Arema #9) sing bakal merasa tertekan, mengingat pemain iku dibesarkan Persebaya. Sementara pemain tim lawan yo santai ae, lha sing diteror ambek Aremania iku Bon-Vik, guduk pemain/klub sing lagi niam.

Padahal ndek Gajayana biyen, sing diteror Aremania iku pemain & tim lawan sing niam ndek lapangan, guduk suporter lho. Ayas eling, mbiyen pas lawan Persija, lagu-lagu koyo' "Persijancok dibunuh saja" mesti terdengar teko' seluruh tribun. Kamsud-e ayas iki guduk ngadu Aremania ambek Jakmania lho yo, eling sing diteror iku klub lawan, guduk suporter lawan. Cekno Kanjuruhan dadi "neraka" gae lawan. Koyo Gajayana biyen. Arema jago kandang soale ono Aremania sing ngrewangi.

Teror Aremania iku efektif gae menjatuhkan mental pemain lawan, mirip Arema vs Persib wingi, Marcio nganti g iso opo2. Lha lek lawane guduk Persebaya/Persib, nyanyine sek "bonek jancok, viking anjing", yo ga ono sing terintimidasi rek. Lagu motivasi gae Arema yo wis jarang krungu, paling2 lagu "salam satu jiwa" thok sing sering dinyanyi'no ndek tribun. Padahal, biyen Aremania wani ngarani pemain-e sing niam elek, conto-e lagu "Kuncoro licik..Kuncoro licik." Pemain Arema sing di-ilokno ambek Aremania bakal termotivasi gae main apik, bakal isin di-ilokno Aremania sak stadion.Makane biyen ono istilah "lek ga kuat mental ditekan Aremania, ga bakal cocok main ndek Arema."

Lagu motivasi biyen yo ono "ebes...ebes", tujuane nipu pemain Arema cekno dikiro ono Ebes Sugiyono ndek tribun. Gara2 lagu iku, pemain Arema dadi trengginas, soale "wani kelangan sikil timbangane kelangan rai ndek ngarepe ebes." Terus lagu "keras..keras, Arema keras" iku yo osi ngangkat motivasi pemain cekno niam keras, permainan khas arek Malang. Sing paling jarang yo lagu2 neror tim lawan, opo maneh lek lawane Persija/Deltras, ga ono lagu neror pemain 2 tim iku. Pas Arema vs Persija, Aremania & Jakmania nyanyi "bonek jancok, viking anjing". Padahal ga ono Bon-Vik ndek stadion.  Siapapun yg di atas lapangan hijau = MUSUH | Saudara hanya utk yg di TRIBUN !! 

Seng sering lagu gembel2 ganok penyemangate blas, jare pemain yo ngono. Terus opo gunae dadi suporter lek ga berusaha menaikkan mental pemain tim kesayangan & menjatuhkan mental pemain lawan. Ga usah dinyanyi'no lho asu-asu iku yo wes eruh.. Opo maneh TV mesti nyensor, guwak2 tenogo ae. Kabeh Aremania = Anti Kenob.Tp percuma lek di pisuhi dek stadion.Mending lek ketemu langsung dilokopae.

Masio seduluran, ayas rikip dlm 90 mnt posisi-ne dadi musuh, profesional membela tim-e dewe & mengintimidasi tim lawan. Ga ono sungkan, pakewuh, or rasa ga enak. Di luar 90 menit posisi seduluran, tapi di dalam 90 menit, posisi dadi musuh. Persija, Bambang Pamungkas, Rahmat Affandi, dll kudu dadi cercaan Aremania sesuk tanggal 6 Mei ndek Manahan. Jakmania, selama 90 menit pada 6 Mei 2012 ndek njero Manahan iku lawan rek, tapi ndek njobo stadion tetep sedulur. Moso' ga ngregani perjuangan pemain Arema sing berusaha profesional ndek lapangan, mereka berjuang rek, ayo direwangi! 

Mbiyen pas team lawan ublem kandang singo pelatih2 e musuh pst ngomong "jangan biarkan aremania bernyanyi" iki bukti lek aremania di segani. Aremania dewe sing osi, mari belajar bareng dadi suporter #profesional90menit, saling mengingatkan. Opo ga wedi pemain lawan lek Aremania nyanyi "moleh tawur" / "ga iso moleh", or BePe disoraki "BePe memble." Suporter dewasa pasti akan menanggapi dengan sportif, tapi setidaknya mari kita hilangkan kebiasaan misuhi Bon-Vik yg g ada di tribun. Suporter dewasa itu bisa menempatkan posisinya , kalo masih bolo-boloan ya suporter. Nah, lebih baik bersaing dalam kreatifitas & pmbuatan rekor. Masio dulur, misuhi gawe ngerusak mental pemain lawan gakpopo. Nang lapangan lawan, nang tribun kawan.

Seme & Njanka sing sepupuan ae lho osi fight 90 menit, suporter kudune yo iso. Pemain ae lho #profesional90menit, mosok suporter kadit osi? Lek kadit osi, yo bersorak'o "Arema Persija kita sodara" pas Arema kebobolan. R. Affandi ga bakal sungkan ate njebol gawang-e Meiga, mosok koen sik sungkan ngilokno Persija sing lagi dilawan Arema? Seme ae lho ga sungkan njegal BePe ndek lapangan, mosok koen ga pengen ngrewangi Seme gae menjatuhkan mental-e BePe? Lek sesuk sik nyanyi "bonek jancok, viking anjing", podo ae ngrewangi Persija. Kan Persib-Persebaya musuh Persija. Sing suporter ababil iku kudu dielingno, diajari dadi suporter sing reneb. Biyen awak dewe osi berubah kok, moso' saiki kadit osi.

#profesional90menit iku vs Persebaya nyanyi "bonek jancok", vs Detras nyanyi "deltras jancok", vs Persija nyanyi "persijancok", dll. 
#profesional90menit iku ciri suporter dewasa: osi memposisikan diri sesuai tempatnya, masio seduluran, yo selama 90 menit iku dadi lawan.
#profesional90menit iku rivalitas berbalut sportivitas, ga ono boloan ambek suporter tim lawan, kabeh support (dukung) tim-e dhewe-dhewe.
#profesional90menit iku neror tim sing niam lawan Arema, guduk suporter/klub rival sing antah berantah ga jelas posisine ndek stadion..
#profesional90menit iku dukung Arema untuk memotivasi pemain, guduk misuhi klub/suporter ibukota jatim & ibukota jabar..
#profesional90menit iku ngajari Aremania licek cekno terbiasa neror tim lawan, sekaligus kadit melestarikan permusuhan ambek kenob/viking..
#profesional90menit iku ngajari Aremania licek cekno eruh, tim endi sing didukung. Cekno werno syal-e ttp biru, ga biru-orange/biru-merah..
#profesional90menit iku ngajari Aremania licek cekno bener-bener dadi Aremania, sing dukung Arema 100%, tanpa memusuhi yg lain.. Sportif!
#profesional90menit iku berpotensi menghilangkan dua kutub suporter, sekaligus melestarikan sikap "musuhmu bukanlah musuhku".. Sportif!

Ayo rek, #profesional90menit di dalam stadion adalah musuh, di luar stadion tetap saudara.. Aremania ada untuk Arema! Salam satu jiwa!

*(Tulisan dirangkum dari postingan dan timeline  :  https://twitter.com/#!/Anarki_87)

Menuju 25 Tahun Arema Indonesia
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012
"UNITED IN ONE SOUL"
-ONE AREMA
ONE AREMANIA

FOR ONE INDONESIA-
Salam Satu Jiwa

5 TOKOH DIBALIK PERPECAHAN AREMA DAN AREMANIA


SEPERTI kita ketahui semua, dalam episode ke ruwetan Arema kali ini adalah merupakan suatu episode yang menurut ayas adalah yang paling ruwet dari episode-episode sebelumnya (model e koyok sinetron gitu loh). Karena apabila dalam episode2 terdahulu polemik yang muncul dalam sejarah kehidupan Arema paling2 adalah masalah dana, dana,dan dana. Dan polemik tersebut tidak membuat adanya suatu masalah yang bisa membuat Arema menjadi seperti saat ini. Akan tetapi dalam episode terakhir yang masih tayang saat ini, adalah episode dimana menayangkan adanya konflik dalam diri Arema yang mengakibatkan adanya perpecahan, muncul 2 versi kepengurusan Arema FC. Dan hal ini sudah pasti adalah hal yang paling tidak pernah nawak2 Aremania bayangkan sebelumnya. Suatu sebuah ironi dan klimaks dari drama kehidupan Arema. Tentunya dalam drama kali ini ada aktor yang berperan dibalik semua. Dan ayas berdasar info yang berasal dari www.aremastore.com mencoba menganalisanya. Coba check this out!
1. Lucky AZ : (ikul)
  • Anak dari pendiri AREMA (ACUB ZAINAL) dan mewarisi kependirian Arema 1987, setelah sebelumnya bernama Armada dan kini berganti Arema Indonesia.
  • Melakukan proses take offer kepada PT.Bentoel di tahun 2003 dengan mediasi Iwan Kurniawan (pengusaha /taipan kota Malang), dan mendapatkan aspek ekonomis dari proses ini.
  • Menjadi mediator pertemuan ER, M.Nur dengan ADS
  • Diurus kan proses akta sebagai dewan pendiri di pengadilan kota Malang oleh Andi Darussalam, bahkan yang membayar Andi Darussalam. Dan diajak bergabung dengan Kubu M.Nur oleh ADS.
  • Melakukan perjanjian dengan PT.Ancora dengan notarir Rahmad Pratono alias Toni di hotel Tugu juga melakukan pencairan dana awal. Namun bukan PT.Arema Indonesia yang melakukan perjanjian melainkan PT.Arema Nusantara Persada, bagaimana hubungannya dengan PT.Arema Indonesia, tidak pernah ada kejelasan, meskipun klaim –nya PT.ANP ini sebagai badan usaha yang membiayai Arema Indonesia dengan mencarikan sponsor maupun investor. Pertanyaannya apakah tidak melanggar UU pencucian Uang atau money loundry ?.
  • Uang hasil pencairan dengan Ancora, sebagai modal awal HABIS dibagi-bagi, dengan penjelasan fee etika alias uang persenan Makelar. Uniknya sang penanda tangan juga memposisikan sebagai makelar. Hal inilah yang kemudian membuat ADS pecah kongsi dengan Ikul.
 
2. Iwan Kurniawan
  • Pengusaha dan taipan kota Malang
  • Suka dan cinta dengan sepak bola apalagi Arema, faktanya sejak jaman Lucky Az kerap mengeluarkan uang untuk membantu Arema baik itu hibah ataupun pinjaman.
  • Tidak menyukai Lucky Az ada di Arema, karena beranggapan sudah menjual Arema dan kerap bersebrangan kebijakan. IK menganggap Ikul selalu membawa arema ke jalur politis, sejak pilkada Kota Malang dengan Ikul mengusung Hasanudin Latief sedangkan IK mendukung Peni Suparto, Pilkada Kabupaten Ikul mendukung Geng Wahyudi dan IK mengusung RK
  • Mengaku memegang surat tanah dan rumah milik Ikul sebagai jaminan hutang yang belum lunas.
  • Kini mendukung RK untuk merebut Arema dari Ikul.
  • IK juga dikenal dekat dengan M.Nur sejak keduanya bersinergi di pembangunan kota Malang, ketika M.Nur menjabat sebagai Sekkota. Konon IK juga menjadi pengelola ”tabungan” M.Nur dari hasil selama menjabat Sekkota.
  • Pendukung REVOLUSI PSSI, dengan membiayai aremania yang melakukan demo ke Jakarta sebagai bentuk kedekatan dengan kubu Medco juga George Toisuta.
  • Bersahabat dengan Andi Darussalam
 
3. Andi Darussalam Tabusala
  • Ex. Direktur PT.Liga Indonesia, memiliki kedekatan emosionel denga AREMA
  • Bersahabat dengan Iwan Kurniawan dan M.Nur meskipun tidak pernah masuk dalam legal formal, secara de-facto posisinya terlibat aktif dalam penunjukan dua klub baru sebagai peserta Galatama di jaman Acub Zaenal (ayah Ikul) sebagai ketua Badan liga kala itu.
  • Ikut membantu proposal pengajuan dana untuk pemugaran dan renovasi stadion Gajayana oleh Ikul kala itu kepada Nirwan D Bakrie. Uang yang didapat dari NDB, konon tidak turun utuh ”lagi-lagi” sudah dipotong oleh Ikul.
  • Terlibat aktif dalam penolakan merger Arema-Persema, setelah Pt.Bentoel berniat membubarkan Arema Indonesia, hingga mempertemukannya dengan Darjoto Setiawan dan Iwan Kurniawan untuk membentuk Arema baru
  • Merekomendasi M.Nur sebagai ketua Yayasan Arema, karena kedekatan ketika M.Nur mengelola Persema Malang.
  • Melakukan agitasi dan propaganda kepada aremania setelah M.Nur dianggap sudah melenceng dari rule nya ketika M.Nur menandatangani perjanjian dengan konsorsium LPI . Bahkan berniat membawa Arema ke LPI. Meskipun awalanya ADS sangat mendukung M.Nur untuk mendapatkan sponsor dari bank Saudara milik medco grup.
  • Bersitegang dengan IKUL, lantaran menganggap IKUL wanpretasi dengan melanggar kesepakatan, serta memberikan keterangan bohong soal pencairan uang dari ANCORA.
  • Setelah dua tahun mengelola Arema meskipun tak secara langsung Merasa di khianati oleh Rendra Kresna, yang menjalin kerjasama dengan sosok Iwan Budianto.
  • Menabur kebencian kepada Iwan Budianto, lantaran merasa dilecehkan dengan kalimat,”Maaf bang, investornya tidak percaya kepada abang”. Sekaligus membuatnya memilih bergabung kembali dengan M.Nur yang selama hampir satu musim kompetisi di benci-nya
  • Tidak menyukai dan menyenangi Arema versi RK dengan dalih secara ilegal/tidak sah, meskipun alasan lain karena keberadaan Iwan Budianto yang masih diperjuangkan sebagai Dirut oleh RK cs yang dianggapnya bukan sebagai jalan terbaik rekonsiliasi
 
4. M.Nur ( MN)
  • Mantan sekota Malang, dikenal dekat dengan pengusaha asal kota Malang.
  • Ketua Yayasan Arema hasil rekomendasi ADS.
  • Melakukan kesalahan dengan menyepakati tentang AREMA LPI, sebagai komitmen sponsor bank Saudara senilai 5 M yang ternyata hanya dikucurkan sebesar 1,5 M.
  • Menjadi public enemy Aremania karena dianggap menjadi pengkhianat dan berpotensi membawa Arema keluar jalur, kala itu.
  • Mencari dan mencairkan gaji pemain dengan mendapatkan investor dari SAID AMIN (pengusaha Kaltim) dengan mediator Edy Rumpoko. Kabar terakhir LPJ penggunaan uang dipertanyakan oleh Said Amin karena ada ratusan juta yang tidak jelas penggunaannya setelah uang diserahkan kepada ER dan MN.
  • Saat ini menjadi penguasa tunggal Arema, lantara update akta yayasan masih tetap mencantumkan namanya sebagai Ketua Yayasan sekaligus Pjs Dirut.PT.Arema Indonesia dengan direktur Siti Nurjanah.
  • Dekat dengan Arifin panigoro karena mendapat back-up dana juga keamanan posisi. Bersahabat dengan Andi Darussalam Tabusala
  • Dapat sokongan dana dari grup OSO melalui Said Amin
  • Tetap pegang kendali atas PT.Arema Indonesia secara de jure.
 
5. Rendra Kresna (RK)
  • Bupati Kabupaten Malang penguasa GOLKAR kab.Malang
  • Bendahara Yayasan Arema kemudian mengundurkan diri sebagai prasyarat pencalonan dalam PILKADA kab.Malang
  • Diangkat sebagai Presiden Kehormatan, agar tetap menjaga kedekatan dengan Aremania, khususnya dari kab.Malang agar tetap bisa menjadi konstituen-nya di pilkada.
  • Melakukan politisasi aremania dengan dalih pembentukan korwil di wilayah kabupaten Malang (kampanye terselubung).
  • Berambisi menjadi penguasa daerah selama dua periode, sesuai ketentuan UU.
  • Masuk ke Arema atas rekomendasi Iwan Kurniawan. Meskipun sangat terlihat kurang
  • Menyukai sepak bola, meskipun sebagai pengcab PSSI kab.Malang, semua dilakukan atas dasar politisasi.
  • Menggandeng Bambang Winarno, penasehat yayasan Arema untuk memuluskan jalannya dengan me-lengserkan M.Nur dari posisi-nya setelah merasa mendapatkan dukungan dari aremania.
  • Melakukan deal dan kesepakatan pengelolahan Arema dengan Iwan Budianto, setelah sebelumnya mengaku sudah memecat M.Nur, meskipun posisinya dipertanyakan sebagai apa?
  • Bersikukuh memperjuangkan posisi IB sebagai dirut, konon RK sudah menerima uang sebesar 1 M dari IB atas deal ini.
Dari analisa diatas 5 orang inilah yang harus bertanggung jawab atas kisruh AREMA dan aremania. Kalaupun ada tokoh-tokoh lain yang bermunculan selama carut marut kisruh SINGO EDAN ini, levelnya tidak se-kunci lima tokoh ini.
Maka dengan ini kami meminta pertanggung jawaban baik secara MORIL, ETIKA dan juga atas nama AREMA…kembalikan AREMA kami menjadi SATU kembali…Jangan karena Kekuasaan dan uang kalian mengorbankan aremania dan AREMA yang sudah menjadi pemersatu dan persaudaraan.
Mungkin kelima orang yang ada di atas menurut ayas adalah hanya merupakan aktor2 yang berperan sesuai dengan peran masing-masing. Akan tetapi ayas berpendapat ada sutradara atau dalang yang di balik semua ini. Siapakah dia? Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang.
Semoga episode drama kehidupan Arema kali ini akan segera berakhir dengan happy ending bagi semua. Dan klimaks yang terjadi saat ini adalah merupakan puncak dari semua konflik dan polemik yang terjadi, dan akan menjadi titik balik bagi Arema FC untuk dapat mengarungi drama kehidupan yang lebih baik ke depannya dan dapat berprestasi lebih baik lagi Amieeeeeeen……………

Sumber : Satubola
Salam Satoe Jiwa
*artikel ini adalah re-post dari :
http://junedoyisam.wordpress.com/2011/11/19/5-lima-orang-paling-harus-bertanggung-jawab-atas-perpecahan-arema-dan-aremania/#comment-337