Tampilkan postingan dengan label Fan(s)atisme. Tampilkan semua postingan

MEMPIDANAKAN SUPORTER SEPAKBOLA


Oleh: Ekomaung


Sebelum khalayak ramai mendapatkan info mengenai tewasnya suporter di RSCM, mungkin saya termasuk orang Bandung yang pertama mengetahui kabar tersebut, saya yang kemarin menyaksikan langsung persija VS PERSIB dari tribun pers mendapat kabar dari wartawan Jakarta asal Garut di depan saya bahwa dia mendapat kabar dari informannya yang seorang polisi bahwa ada suporter sepakbola yang tewas di RSCM (kebetulan wartawan tersebut bukanlah wartawan olahraga namun wartawan kriminal yang memang memiliki link di kepolisian, wartawan tersebut hadir di GBK memang hanya untuk menonton saja karena seorang garut yang sangat menggemari PERSIB).

Selama pertandingan saya memang melihat sekitar ada 4 insiden di tribun VIP dan VVIP, intinya adalah beberapa kawan bobotoh “kepergok” diantara ratusan jakmania yang hadir, ciri-ciri mereka memang jamak, yaitu memakai baju bebas/ non oranye, logika jakmania yang melakukan sweeping pun cukup rasional. Mereka menganggap orang yang duduk di kelas yang tiketnya mahal dan tidak beratribun maka layak diduga sebagai bobotoh. Dan untunglah kawan-kawan kita itu duduk di VIP yang jakmania-nya relatif tidak terlalu beringas, juga karena di “kelas-kelas mahal” itu polisi dapat segera menjangkau mereka untuk diamankan, entah bagi bobotoh-bobotoh lain yang kepergok menonton di tribun utara, timur, ataupun selatan.

Kabar tewasnya suporter itu sengaja tidak saya sebarluaskan karena bukanlah kabar baik dan menggembirakan meskipun saya yakin itu bukanlah HOAX karena didapatkan langsung dari sumber utama dan bukanlah kutipan berita, melalui media sosial, pemberitaan dsb.

Bahkan hingga media online KOMPAS memberitakan sekitar pukul 20.00, saya pun tetap tak ingin meriah menanggapi hal tersebut melalui media-media sosial, terlebih menyimak pemberitaan yang mulai lebay dan mengklaim bahwa korban adalah bobotoh PERSIB serta semakin menyulut kebencian, padahal belum ada kepastian korban dari pihak bobotoh (meskipun pada akhirnya semua menyadari bahwa dari pihak manapun korban ini tetap sebuah tragedi yang sangat tidak lucu dalam dunia persepakbolaan yang seharusnya mengutamakan sisi hiburan). Secara pribadi saya menganggap rivalitas dalam sepakbola memang harus ada untuk tetap menjaga atmosfer dan kualitas kemaskulinan olahraga ini. Namun tentunya rivalitas yang berkonteks. Konteks rivalitas itu akan saya coba bagi dalam tulisan berikutnya dalam trilogi ini.

Dalam bagian pertama yang penuh keterbatasan waktu ini, saya ingin membuat kita melihat lebih luas terlebih dahulu sebelum total membicarakan segala sesuatu terkait bentrokan suporter sepakbola, baik secara fenomena umum maupun pengalaman empirik yang pernah dialami langsung oleh penulis maupun beberapa orang kawan.

Sanksi yang diberikan kepada suporter sepak bola seakan tidak menjamin bahwa kerusuhan dalam sebuah pertandingan di kota yang bersangkutan akan tiada, bahkan bonek, suporter fanatik Persebaya Surabaya, dikenal tak hanya sering berbuat ricuh di Kota Pahlawan, namun di kota-kota lain dimana Persebaya bermain. Lalu adakah solusi untuk “benar-benar” membuat jera para pelaku kerusuhan tersebut?

Selama ini, yang menjadi rujukan dalam pemberian sanksi dalam kerusuhan sepak bola di tanah air adalah PSSI. Bentuk sanksinya pun tidaklah berhubungan dengan hukum positif yang berlaku. Padahal, begitu banyak hal yang terkait dengan tindak kerusuhan ini adalah nyata-nyata pelanggaran norma hukum, terutama hukum pidana. Ada beberapa hal yang memenuhi unsur delik pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang biasa dilakukan para suporter sepak bola di Indonesia. Ada pula beberapa tindak pidana kejahatan yang berkaitan langsung dengan terjadinya kerusuhan suporter sepak bola.

Pertama adalah tindak pidana tentang penghancuran atau perusakan barang yang diatur dalam Bab XXVII buku kedua KUHP. Mengenai hal ini, semua dapat kita lihat saat terjadinya kerusuhan sepak bola, baik di dalam stadion maupun luar stadion. Bukti-buktinya pun jelas dan terekam dalam berbagai dokumentasi, pembakaran, serta perusakan fasilitas umum dan kendaraan-kendaraan pribadi menjadi hal yang dapat dipastikan akan selalu mengikuti saat terjadi kerusuhan sepak bola.

Kedua adalah tindak pidana penganiayaan yang diatur dalam Bab XX buku kedua KUHP. Tindak pidana yang satu ini akan semakin nyata saat melibatkan dua kelompok suporter yang berbeda, bahkan aksi-aksi penganiayaan dalam kerusuhan sepak bola tidak jarang pula harus menelan korban jiwa, sebagai contoh adalah tewasnya Aremania saat bentrokan dengan Sakeramania saat Arema Malang berhadapan dengan Persekapas Pasuruan beberapa musim musim lalu di Madiun, ataupun saat seorang suporter Semen Padang harus meregang nyawa usai dikeroyok sekelompok oknum Jakmania pada musim kompetisi 2001 lalu. Bahkan, jika kita melihat keluar, betapa kompetisi sepak bola sekelas seri A Liga Italia pun harus dihentikan sementara waktu akibat tewasnya seorang polisi di tangan ultras (sebutan bagi suporter garis keras di Italia).

Selain itu, beberapa hal lain yang dilakukan para suporter dan terjadi sebelum atau sesudah kerusuhan pun dapat pula dijerat dengan hukum pidana, yaitu saat para oknum suporter mengonsumsi obat-obatan terlarang untuk membuat mereka lebih “terbang” saat beraksi mendukung tim kesayangannya. Menenggak minuman keras sebelum pertandingan seakan telah menjadi ritual rutin bagi sebagian suporter sepak bola, dan efeknya pun cukup mengerikan. Dalam keadaan mabuk, para suporter ini menjadi sangat agresif dan mudah melakukan hal-hal yang sulit dikontrol.

Selain tindak kejahatan, bentuk pelanggaran pun biasa mereka lakukan saat menuju ataupun pulang dari stadion. Yang dimaksud adalah tindak pidana pelanggaran lalu lintas. Kita akan sangat mudah menjumpai pemandangan suporter yang mengemudikan motor ugal-ugalan, tidak menggunakan helm, berboncengan motor lebih dari tiga orang, dll. Maka di mana peran para penegak hukum saat tindakan-tindakan “khas” suporter sepak bola ini telah nyata-nyata, termasuk kategori pidana dan kriminal murni?

Tidak pernah kita dengar berita penuntutan secara konvensional bagi pelaku tindak pidana dalam sebuah pertandingan sepak bola, yaitu tuntutan jaksa, proses peradilan di pengadilan umum hingga jatuhnya vonis. Yang sering kita dengar hanyalah sanksi dari PSSI dan sekadar penahanan sementara terhadap para suporter “badung” untuk kemudian dilepaskan setelah anggota keluarganya datang ke kantor polisi untuk menebus sang perusuh dengan sejumlah uang. Sebuah kekeliruan telah terjadi. Kejahatan-kejahatan dan pelanggaran yang terjadi dalam ranah pertandingan sepak bola dianggap berbeda cara penanganannya dengan penanganan tindak pidana di luar sepak bola, padahal kita memiliki hukum acara yang harus dilaksanakan untuk menegakkan hukum pidana.

Sebenarnya bukan dalam konteks kerusuhan suporter saja hukum menjadi sebuah omong kosong belaka. Para pemain ataupun ofisial yang jelas-jelas tertangkap kamera menganiaya wasit tidak pernah dituntut secara pidana oleh penegak hukum, yang ada sekadar hukuman versi PSSI, yaitu denda dan larangan bermain bagi si pelaku. Kejahatan di luar lapangan yang berhubungan dengan sepak bola pun tak mendapat konsekuensi hukum yang jelas. Entah berapa kali terjadi kasus suap yang melibatkan pejabat teras PSSI. Jika kasus tersebut berhasil terbongkar, yang terjadi kemudian hanyalah sanksi administratif di kalangan intern organisasi PSSI itu sendiri, yaitu berupa pemecatan. Padahal yang namanya suap adalah termasuk kejahatan pidana dan siapa pun pelakunya haruslah berhadapan dengan hukum.

Sudah saatnya paradigma hukum dalam menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan sepak bola kembali diluruskan bahwa siapa pun orangnya dan apa pun tindakannya meski dilakukan dalam ranah sepak bola. Jika itu memenuhi unsur-unsur pidana, hukum harus masuk dan menampakkan wajahnya sehingga meski kita memiliki PSSI sebagai induk organisasi tertinggi yang memiliki otoritas tertinggi terhadap penjatuhan sanksi dalam dinamika persepakbolaan tanah air, namun hukum harus tetap menjadi pandu yang mampu menyentuh seluruh aspek yang berkaitan dengannya. Masyarakat pun akan mendapat pembelajaran dan keyakinan bahwa ketertiban dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, termasuk sepak bola akan terjamin, para pelaku pun akan berpikir dua kali saat melakukan tindakan yang akan membuatnya berhadapan dengan sanksi yang tegas, tak hanya denda namun juga hukuman kurungan dan penjara hingga bertahun-tahun.

Penulis berkhidmat dengan akun twitter @ekomaung

DUEL KREATIFITAS JAK DAN AREMANIA DI SOLO


# Menuju 25 Tahun Arema Indonesia, 11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012  

#Duel kreatifitas, itulah yang digembar-gemborkan di dunia maya oleh kalangan Aremania dan Jakmania tentang laga hari Minggu 6 Mei 2012 nanti. Laga yang mempertemukan Persija sebagai tuan rumah menjamu Arema, yang terpaksa harus pindah ke Solo karena tak keluarnya ijin dari pihak Kepolisian. Dimanapun Persija berlaga, The Jakmania selalu mengikutinya, begitu juga dengan Arema, dimanapun tandingnya Aremania akan selalu ada. Satu tim Ibukota yang butuh kemenangan demi bersaing di papan atas dan satu tim yakni Arema yang membutuhkan kemenangan demi menaikkan derajatnya menjauh dari zona degradasi, untuk itu pendukung kedua kesebelasan bakal memberikan dukungan maksimal pada laga di Solo nanti selain untuk bereuni dengan saudara jauh.

Sebagai salah satu kekuatan besar dari 4 kutub suporter Indonesia, dua komunitas suporter yang memang sudah dikenal berhubungan baik ini, dipredikisi bakal memobilisasi ribuan massa Oranye dari barat dan ribuan massa Biru dari timur yang bakal menumpuk di Solo, tepatnya di Stadion Manahan mengikuti tim kesayangan mereka. Karena jarak antara Jakarta dan Solo lebih jauh daripada jarak Malang Solo, diprediksi jumlah Aremania bakal lebih dominan dari pada The Jak sendiri yang menjadi tuan rumah. 
Spanduk "Saudara Sampai Mati!!!" oleh Aremania Zona Ayahab Surabaya dan SurabaJak saat laga Arema vs Persija putaran pertama lalu
Ribuan Jakmania bakal menyerbu Solo dari basisnya Jabotabek, sedangkan Aremania bakal ngluruk Manahan selain dari Ngalam juga bakal datang dari berbagai daerah. Tercatat beberapa kelompok Aremania dari berbagai daerah siap berpartisipai dalam even #TourSolo musim ini, Aremania Zona Ayahab dari Ayabarus dan sekitarnya, Aremania Jalur Gaza dari Pandaan, Pasuruhan dan sekitarnya, Aremania Gresik, Aremania Madiun yang tergabung dalam Aremania Plat AE, Aremania Batavia berserta Aremania dari Jabotabek dan terutama Aremania yang ada di daerah Jawa Tengah yang dekat dengan Solo seperti Aremania Jogja, Semarang, Klaten dll bakal ikut meramaikan dan membirukan Stadion kebanggan Pasoepati.

Sedangkan dari Ngalam sendiri rencana #TourSolo #BirukanManahan sudah dirancang oleh nawak2 Aremania sejak jauh2 hari, bahkan sebelum laga Arema di Pekanbaru. Ribuan Aremania dari penjuru Ngalam Raya berpartisipasi bakal menyerbu Solo via darat dengan berbagai moda transportasi baik trasportasi umum maupun pribadi. Dimulai dari Kereta Ekonomi andalan Arema Kera Ngalam, Matarmaja bakal mengangkut ribuan Aremania melintasi wilayah Persikmania menuju stasiun Jebres Solo, dan juga diperkirakan bakal ada 30-an lebih armada Bus, juga 50-an lebih kendaaran pribadi yakni Libom, dan bakal diringi puluhan Adapes Rotom yang bakal berkonvoi melalui jalur selatan menuju Kotanya Jokowi.

Momen ini mengingatkan Ayas pada 2 tahun lalu tepatnya tanggal, 30 Mei 2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Saat itulah puncak kejayaan Arema, setelah memastikan gelar penguasa Liga Indonesia di Pekanbaru, seakan2 laga penutup antara Persija vs Arema kala itu sebagai ajang pestanya Arema. 50 ribuan Arema Kera Ngalam dan Aremania membanjiri Senayan dari penjuru Nusantara, dari bali, dari Borneo, Sumatra dll. Saat itulah indonesia melihat kekuatan kedua komunitas suporter ini, tampak Senayan terbelah dengan lautan Biru dan Oranye. Saling bernyanyi, saling bergoyang, dengan jumlah massa yang begitu banyaknya walupun tuan rumah Persija harus kalah 1-5 oleh Arema, semua penonton dapat pulang dengan tenang dan wajah penuh senyum karena sudah bertemu Saudara.

Maskot Singa dan Harimau sebagai simbol persaudaraan Aremania dan Jakmania saat di Senayan 30 Mei 2010 lalu
Mungkin Minggu nanti ga bakal sebesar waktu di Senayan kala itu, tapi dapat dipastikan selain adu permainan di lapangan dari tim yang sama2 membutuhkan kemenangan, adu kreatifitas dalam memberi dukungan bakal terjadi di tribun penonton. Aremania sebagai barometer suporter Indonesia yang slalu ditiru, The Jak yang dikenal militan, Perang nyanyian, perang koreografi, perang big flag, perang flare hingga perang spanduk tak bisa dihindarkan oleh kedua komunitas suporter ini. Dan tak ketinggalan Pasoepati sebagai yang punya stadion dipastikan bakal hadir memeriahkan suasana dan menambah erat jalinan persauaraan antar Aremania, Jak dan Pasoepati. 

Semoga kemenangan di Senayan 2 tahun lagi dapat terulang lagi di Manahan meskipun berat. #BangkitAREMA!  #BirukanMANAHAN!

Menuju 25 Tahun Arema Indonesia
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012

"UNITED IN ONE SOUL"
-ONE AREMA
ONE AREMANIA
FOR ONE INDONESIA-

Salam Satu Jiwa



#PROFESIONAL90MENIT



#profesional90menit, intine sih suporter yo kudu osi profesional, ga mek pemain thok.. :). Iki soale Ayas risih krungu lagu "bonek jancok, viking anjing", padahal sing dilawan guduk Persebaya / Persib. Opo maneh pas laga lawan Persija, ono lagu "Persija Arema kita sodara", otomatis pemain Persija kadit terintimidasi. Sejujurnya Ayas kangen lagu-lagu Aremania mbiyen, koyo' "keras...keras, Arema keras!", iku wes jarang krungu saiki.  Aremania saiki lebih sering nyanyi "bonek jancok, viking anjing", pertanyaan-e ono bonek/viking ndek stadion a?

Misale laga vs Persebaya / vs Persib gapopo sih.. Lha lek sing niam pas vs Persija / vs Deltras? Neror sopo rek? Ayas rikip pemain-e Persija, Deltras, dll. gak bakal tertekan lek lagune "bonek jancok, viking anjing". Malah ono kemungkinan Arif Ariyanto (Arema #9) sing bakal merasa tertekan, mengingat pemain iku dibesarkan Persebaya. Sementara pemain tim lawan yo santai ae, lha sing diteror ambek Aremania iku Bon-Vik, guduk pemain/klub sing lagi niam.

Padahal ndek Gajayana biyen, sing diteror Aremania iku pemain & tim lawan sing niam ndek lapangan, guduk suporter lho. Ayas eling, mbiyen pas lawan Persija, lagu-lagu koyo' "Persijancok dibunuh saja" mesti terdengar teko' seluruh tribun. Kamsud-e ayas iki guduk ngadu Aremania ambek Jakmania lho yo, eling sing diteror iku klub lawan, guduk suporter lawan. Cekno Kanjuruhan dadi "neraka" gae lawan. Koyo Gajayana biyen. Arema jago kandang soale ono Aremania sing ngrewangi.

Teror Aremania iku efektif gae menjatuhkan mental pemain lawan, mirip Arema vs Persib wingi, Marcio nganti g iso opo2. Lha lek lawane guduk Persebaya/Persib, nyanyine sek "bonek jancok, viking anjing", yo ga ono sing terintimidasi rek. Lagu motivasi gae Arema yo wis jarang krungu, paling2 lagu "salam satu jiwa" thok sing sering dinyanyi'no ndek tribun. Padahal, biyen Aremania wani ngarani pemain-e sing niam elek, conto-e lagu "Kuncoro licik..Kuncoro licik." Pemain Arema sing di-ilokno ambek Aremania bakal termotivasi gae main apik, bakal isin di-ilokno Aremania sak stadion.Makane biyen ono istilah "lek ga kuat mental ditekan Aremania, ga bakal cocok main ndek Arema."

Lagu motivasi biyen yo ono "ebes...ebes", tujuane nipu pemain Arema cekno dikiro ono Ebes Sugiyono ndek tribun. Gara2 lagu iku, pemain Arema dadi trengginas, soale "wani kelangan sikil timbangane kelangan rai ndek ngarepe ebes." Terus lagu "keras..keras, Arema keras" iku yo osi ngangkat motivasi pemain cekno niam keras, permainan khas arek Malang. Sing paling jarang yo lagu2 neror tim lawan, opo maneh lek lawane Persija/Deltras, ga ono lagu neror pemain 2 tim iku. Pas Arema vs Persija, Aremania & Jakmania nyanyi "bonek jancok, viking anjing". Padahal ga ono Bon-Vik ndek stadion.  Siapapun yg di atas lapangan hijau = MUSUH | Saudara hanya utk yg di TRIBUN !! 

Seng sering lagu gembel2 ganok penyemangate blas, jare pemain yo ngono. Terus opo gunae dadi suporter lek ga berusaha menaikkan mental pemain tim kesayangan & menjatuhkan mental pemain lawan. Ga usah dinyanyi'no lho asu-asu iku yo wes eruh.. Opo maneh TV mesti nyensor, guwak2 tenogo ae. Kabeh Aremania = Anti Kenob.Tp percuma lek di pisuhi dek stadion.Mending lek ketemu langsung dilokopae.

Masio seduluran, ayas rikip dlm 90 mnt posisi-ne dadi musuh, profesional membela tim-e dewe & mengintimidasi tim lawan. Ga ono sungkan, pakewuh, or rasa ga enak. Di luar 90 menit posisi seduluran, tapi di dalam 90 menit, posisi dadi musuh. Persija, Bambang Pamungkas, Rahmat Affandi, dll kudu dadi cercaan Aremania sesuk tanggal 6 Mei ndek Manahan. Jakmania, selama 90 menit pada 6 Mei 2012 ndek njero Manahan iku lawan rek, tapi ndek njobo stadion tetep sedulur. Moso' ga ngregani perjuangan pemain Arema sing berusaha profesional ndek lapangan, mereka berjuang rek, ayo direwangi! 

Mbiyen pas team lawan ublem kandang singo pelatih2 e musuh pst ngomong "jangan biarkan aremania bernyanyi" iki bukti lek aremania di segani. Aremania dewe sing osi, mari belajar bareng dadi suporter #profesional90menit, saling mengingatkan. Opo ga wedi pemain lawan lek Aremania nyanyi "moleh tawur" / "ga iso moleh", or BePe disoraki "BePe memble." Suporter dewasa pasti akan menanggapi dengan sportif, tapi setidaknya mari kita hilangkan kebiasaan misuhi Bon-Vik yg g ada di tribun. Suporter dewasa itu bisa menempatkan posisinya , kalo masih bolo-boloan ya suporter. Nah, lebih baik bersaing dalam kreatifitas & pmbuatan rekor. Masio dulur, misuhi gawe ngerusak mental pemain lawan gakpopo. Nang lapangan lawan, nang tribun kawan.

Seme & Njanka sing sepupuan ae lho osi fight 90 menit, suporter kudune yo iso. Pemain ae lho #profesional90menit, mosok suporter kadit osi? Lek kadit osi, yo bersorak'o "Arema Persija kita sodara" pas Arema kebobolan. R. Affandi ga bakal sungkan ate njebol gawang-e Meiga, mosok koen sik sungkan ngilokno Persija sing lagi dilawan Arema? Seme ae lho ga sungkan njegal BePe ndek lapangan, mosok koen ga pengen ngrewangi Seme gae menjatuhkan mental-e BePe? Lek sesuk sik nyanyi "bonek jancok, viking anjing", podo ae ngrewangi Persija. Kan Persib-Persebaya musuh Persija. Sing suporter ababil iku kudu dielingno, diajari dadi suporter sing reneb. Biyen awak dewe osi berubah kok, moso' saiki kadit osi.

#profesional90menit iku vs Persebaya nyanyi "bonek jancok", vs Detras nyanyi "deltras jancok", vs Persija nyanyi "persijancok", dll. 
#profesional90menit iku ciri suporter dewasa: osi memposisikan diri sesuai tempatnya, masio seduluran, yo selama 90 menit iku dadi lawan.
#profesional90menit iku rivalitas berbalut sportivitas, ga ono boloan ambek suporter tim lawan, kabeh support (dukung) tim-e dhewe-dhewe.
#profesional90menit iku neror tim sing niam lawan Arema, guduk suporter/klub rival sing antah berantah ga jelas posisine ndek stadion..
#profesional90menit iku dukung Arema untuk memotivasi pemain, guduk misuhi klub/suporter ibukota jatim & ibukota jabar..
#profesional90menit iku ngajari Aremania licek cekno terbiasa neror tim lawan, sekaligus kadit melestarikan permusuhan ambek kenob/viking..
#profesional90menit iku ngajari Aremania licek cekno eruh, tim endi sing didukung. Cekno werno syal-e ttp biru, ga biru-orange/biru-merah..
#profesional90menit iku ngajari Aremania licek cekno bener-bener dadi Aremania, sing dukung Arema 100%, tanpa memusuhi yg lain.. Sportif!
#profesional90menit iku berpotensi menghilangkan dua kutub suporter, sekaligus melestarikan sikap "musuhmu bukanlah musuhku".. Sportif!

Ayo rek, #profesional90menit di dalam stadion adalah musuh, di luar stadion tetap saudara.. Aremania ada untuk Arema! Salam satu jiwa!

*(Tulisan dirangkum dari postingan dan timeline  :  https://twitter.com/#!/Anarki_87)

Menuju 25 Tahun Arema Indonesia
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012
"UNITED IN ONE SOUL"
-ONE AREMA
ONE AREMANIA

FOR ONE INDONESIA-
Salam Satu Jiwa

BAGAIMANA REPUTASI AREMANIA DIBANGUN DI SENAYAN TAHUN 2000

Ditulis oleh :  Sam Zery 


# Menuju 25 Tahun Arema Indonesia, 11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012

Sebuah cerita dari nawak Aremania lawas, tentang pengalamannya dukung Arema di Senayan, pada babak 8 besar Liga Indonesia tahun 2000. Ini jaman2 kejayaan Pacho-Juan Rubio dan Araya, juga jaman2 Aremania dikenal sebagai pelopor suporter kreatif dan atraktif. Semoga dapat memberikan inspirasi dan membangkitkan nawak2, untuk kembali memenuhi stadion.
 
Sekedar berbagi cerita Ker__wow maseh segar dalam ingatan, saat itu aku masih klas 2 atau 3 sma. Berangkat menggunakan kereta ekonomi Mataremaja yg penuh sesak, konon kereta ini gratis Aremania ini di sumbang oleh Tinton Suprapto (pengusaha/promotor olahrga otomotif nasional).

Aremania di tampung oleh sam Anton Baret di gelor bulungan, tapi banyak Aremania yang tercecer di segala penjuru jakarta. Akupun tidur tak tentu tempat, hari ini di tribun kolam renang, besok di depan gerbang stadion senayan besoknya entah dimana lagi yang jelas mbambong selama 1 minggu di kompleks senayan. Saat itu pertandingan digelar 2 hari sekali sehingga sangat nanggung Aremania pulang sebelum semua laga usai.


Pertandingan pertama di gelar AREMA VS PERSIJA, Aremania mengejutkan pihak panpel. diluar dugaan sekitar 8-10rbu Aremania memadati stadion dan mengalahkan Jakmania yang mungkin hanya separo atau 3/4 Aremania. Sang dirijen Sam Yuli dan Sam kepet naik atap bus yang dibawa masuk stadion agar bisa mengkomando semua aremania. Sebelum pertandingan dimulai Aremania seperti biasa bergemuruh bernyanyi dan menari tiba2 suara dari Mic. Sam Ovan Tobing menyapa "Aremania sudah makan belum?" kemudian dijawab oleh Aremania "Belum" dalam pikiran semua Aremania "gak mangan gak popo seng penting iso nontok AREMA."


Arema lolos 8 besar satu grup bersama Persija, Pelita Solo & Persikota. Pertandingan digelar 2 har Pertandingan pertama Arema mengejutkan dengan mengalahkan Persija 2-1, Bermain imbang 1-1 dengan Persikota, dan pada pertandingan terakhir ketika hanya butuh imbang saja untuk memastikan lolos kelangkah selanjutnya. Tiba2 dibantai 3-0 oleh Pelita Solo tim juru kunci. Kejadian ini mematik pertanyaan luar biasa oleh para Aremania saat itu. sehingga munculah isu tentang pengusaha kafe Hore2 sampai tempat nongkrongnya para petinggi Tim tertentu di situ. Tak kalah panas sebuah ungkapan bernada kecewa saat itu "AREMA pulang bawa Uang AREMANIA pulang bawa Utang".


Pulang dari Jakarta dengan perasaan Galau karena Arema tersingkir dengan penuh Pertanyaan Aremania langsung melakukan demo. aku scra pribadi Lebih galau lagi bahwa Bendera AREMAku yang bergambar seekor Singa menggeliat dari hasil patungan bersama seorang saudara hilang di senayan.


Setelah pertandingan pertama selesai sedikit ada gesekan kecil dengan Jakmania tetapi kemudian Netral dengan bernyanyi dan menari bersama___ Keluar stadion terlihat muka bahagia krn arema nganem lawan persija, tapi bisa dilihat muka semua nawak Aremania lapar & Dahaga. Meski kompleks senayan dipenuhi dengan PKL tidak ada aksi penjarahan. Hingga saat Truk aparat TNI akan meninggalkan stadion tiba2 nasi bungkus yg sebenarnya jatah aparat itu dibagikan oleh TNI langsung ke kelompok Aremania. hal ini memperlihatkan simpatinya pihak aparat pada aremania yang santun. kontan saja Aremania makan gratis dan berbagi dengan aremania lainya. Tak kalah dengan aparat ada juga PKL yang sengaja membagian daganganya pada Aremania.

Percaya atau tidak saat pertandingan belum dimulai disudut lain tiba2 muncul spanduk bertuliskan "BONEK 2000", mungkin kalau nawak2 pernah lihat Pon 2000 di Gelora Delta spanduk ini pernah nongol. Kontan spanduk ini diamankan oleh Pentolan Aremania. Dan juga percaya atau tidak saat pulang kemalang banyak nawak2 dari Pasuruan juga kediri yang ikut mendukung AREMA jadi sebenarnya mereka itu dulu saudara kita.

Bagi ayas pertandingan ini bukan pertandingan biasa tapi ini adalah sejarah. Sejarah Bagi Aremania untuk menampilkan wajah baru suporter Indonesia. Di Senayan Inilah Poin saat AREMANIA mulai di kenal publik sehingga kejadian lainya adalah diangkat dalam sebuah surat kabar. BOLA menulis Headline yang berjudul "KADIT ITRENG KERA NGALAM" (bisa dilihat copynya di http://groups.yahoo.com/group/arema-l/message/1214) isinya liputan tentang atraktif dan suportifnya suporter AREMANIA dan fenomenanya dilapanganya. Tulisan ini dibuat oleh SIGIT NUGROHO, sedang JAWA POS mengangkat Hedline dengan Judul "EUFORIA".
Dan sedikit tambahan saat itulah lagu "wajib" AREMANIA yaitu PADAMU NEGRI didengar dan disaksikan langsung oleh ketum PSSI Agum Gumelar. Hal ini membuat Agum terharu dan menobatkan AREMANIA sebagai suporter terbaik di kala itu (tahun 2000) tak sampai di situ bahkan Pak Agum mengundang Yuli sumpil untuk bertemu dengan seluruh Manager Tim sepakbola Indonesia guna memberikan penjelasan bagaimana AREMANIA mengubah paradigma suporter Indonesia. Tiidak hanya bgmna soprtif dan atraktif tapi juga bagaimana AREMANIA mempunyai kesadaran penuh untuk membeli tiket saat Tim Idola bertanding.

Pesan pribadi ayas adalah Kita AREMANIA telah tampil ke publik Indonesia sebagai Pelopor/Pioner Suporter yang Atraktif, Kreatif dan Anti Anarkis saatnya kita membuang RASIS dari Kanjuruhan. Jangan ada lagi kata "Jancok, Anjing, atau diBunuh saja". Kita telah menanam baik dengan prilaku seperti itu maka jangan sampai berbuah buruk dengan bernyanyi Rasis.  
 
Menuju 25 Tahun Arema Indonesia
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012

"UNITED IN ONE SOUL"
-ONE AREMA
ONE AREMANIA
FOR ONE INDONESIA-

Salam Satu Jiwa

DI TENGAH KETERPURUKAN DAN DUALISME, AREMANIA NGLURUK MALAYSIA

Inilah kisah sebuah dedikasi, loyalitas, dan juga persaudaraan dari nawak2 Aremania Balikpapan yang rela mendukung Arema jauh dari kandang tanpa melihat dari liga atau manajemen mana. Mereka inilah yang mengaku "netral" sesuai kaos yang mereka pakai saat meluruk Malaysia. Disaat Arema sedang terpuruk di Ngalam lagi rame dan saling ribut sendiri, yang hasilnya stadion jadi "ipes", namun nawak2 Aremania Balikpapan malah "Ngluruk" ke Negeri Jiran walau beresiko dihujat Aremania yang pro Arema tertentu. 
 Dengan semangat maju terus pantang mundur dan pake modal sendiri, mereka berangkat ke Kota Bharu tempat laga Arema IPL di jamu  Kelantan FA sambil membawa misi, mereka adalah Aremania yang selalu dukung Arema dimanapun juga, serta bersilaturahmi dan mempererat persaudaraan dengan Komunitas Aremania Malaysia (KAM) serta Ultras Kelantan The Red Mania. Berikut inlah kisah mereka : 
Bendera Aremania Balikpapan dibentangkan di depan Menara Kembar Petronas, Kuala Lumpur.
Aremania Balikpapan : Komitmen Kami Untuk Aremania 
Nawak2 Aremania Balikpapan berangkat ke Malaysia bukan hanya sekedar ingin mendukung AREMA yang berlaga di pentas AFC Cup, tapi lebih dari itu ingin mempererat tali persaudaraan dengan nawak2 Aremania yang ada di perantauan khususnya di Malaysia. Pada tanggal 1 April mereka berangkat lewat bandara Sepinggan Balikpapan menuju Kualalumpur, yang nantinya akan bergabung dengan nawak2 yang ada di sana.

Sebenarnya keberangkatan mereka sudah di rencanakan sebelum AREMA terpecah seperti sekarang ini, maka sangatlah lucu kalau ada yang bilang kami Aremania Balikpapan mendukung kubu ini atau itu. Kami berangkat untuk mendukung AREMA bukan yang lainnya karena Arema bukan hanya sekedar sepak bola tapi kebanggaan yang harus terus di jaga.

Sesampainya di Kualalumpur mereka di jemput oleh nawak2 Aremania (sam Mans) Malaysia dan di lanjutkan ke markas nawak2 Malaysia. Kesempatan di Malaysia tidak disia-siakan oleh nawak2 Aremania Balikpapan untuk mengibarkan bendera Aremania di manapun mereka berkunjung. Setelah sempat menginap di Kualalumpur nawak2 selanjutnya berangkat ke Kelantan dimana pertandingan tidak jadi di laksanakan di Stadion Bukit Jalil dan di pindahkan ke Kelantan. Sekedar di ketahui jarak antara Kualalumpur – Kelantan sekitar 450 KM dan di tempuh dengan Kereta Api dan ditempuh sekitar 12 jam.

“Walaupun perjalanan yang jauh dan melelahkan tidak sedikitpun mengurangi semangat kami sam, kami akan sangat bangga bisa menyebarkan virus Damai sampai kenegeri Jiran” ucap nawak2 melalui Telepon. Tour ini juga membuktikan bahwa mereka benar2 Netral bukan cuman isapan jempol belaka. “Dalam tour ini kami juga ingin bersilaturahmi dengan supporter tuan rumah” ucap Gondoel melalui telpon kepada ongiznade.wordpress.com.
Dengan soak "netral" nawak2 mereka menemui pahlawannya, Roman dkk
Sesampainya di Kelantan nawak2 di sambut oleh Aremania yang ada di sana serta Supporter tuan Rumah, bahkan nawak2 juga sempat berkunjung di Markas The Red Mania, yang sebelumnya mereka juga bertemu dengan Manajemen AREMA di Hotel tempat tim menginap. Dalam kesempatan bertemu dengan Manajemen Rizal Selaku koordinator tour mengatakan kepada manajemen bahwa :
-"Dukungan langsung kepada Arema ini adalah bentuk komitmen Aremania kepada Aremania. Kami hanya berpikir tentang Arema. Kami tidak ingin terjebak dalam kepentingan-kepentingan yang justru banyak merugikan Arema"-

Setelah Pertandingan Tadi malam, nawak2 hari ini melanjutkan perjalanan menuju kuala lumpur untuk dan selanjutnya akan kembali lagi ke Bumi pertiwi, kami segenap Aremania Kaltim yang tidak bisa mendukung langsung banyak2 mengucapkan terima kasih semoga perjalanan nawak2 selamat sampai Tujuan. tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih buat nawak2 Aremania Malaysia dan supporter tuan rumah, mohon ma’af  apabila selama di sana ada kata2 dan tindak tanduk kami yg kurang menyenangkan. KT  5454 JI
Bernyanyi, bergoyang bersama Aremania dan The Red Mania.

Terlepas pro kontra dan tudingan miring yang muncul terkait keberangkatan anggota Aremania Balikpapan ada 2 misi penting yang dibawa dalam tur tersebut.
1. Tur kemarin adalah bukti bahwa Aremania Balikpapan Netral dalam menyikapi permasalahan yang ada terkait dualisme kepengurusan Arema ( ISL dan IPL )
2. Misi menyebarkan Virus Kreatifitas dan Perdamaian dengan hasil bertambahnya 1 lagi saudara kita Aremania yaitu Ultras Kelantan - The Red Mania.  Jarak bukanlah halangan untuk menyebarkan virus ini.. Salam Satu Jiwa Red Mania. Terimakasih atas sambutannya.

Sumber :  Aremania Kaltim

HARIE PANDIONO, DUTA AREMA, AREMANIA DAN SALAM SATU JIWA


# Menuju 25 Tahun Arema Indonesia, 11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012
Masih ingat nawak dengan Harie Pandiono, ini dia Arema (Kera Ngalam) yang pernah memproklamirkan diri sebagai Aremania Korwil Kongo, dan ini dia juga  pelaku pengibaran Bendera Arema Indonesia yang berukuran raksasa di ajang Piala Dunia Afrika Selatan 2010 lalu. Memang, sebenarnya banyak Arema yang hidup diluar negeri sana yang tak lupa mempromosikan Arema dan Aremania sebagai jati dirinya. Dan Harie adalah salah satu contoh Arema yang sukses dan berdedikasi pada pekerjaannya namun tak membuat dirinya lupa akan siapa dia sebenarnya yakni sebagai Arema Kera Ngalam juga sebagai Aremania suporter kesebelasan Arema FC walau di negeri orang.

Sangatlah beruntung menjadi seorang Harie Pandiono, bekerja di berbagai perusahan berlevel internasional membuat dirinya berkesempatan merasakan atmosfer bekerja sekaligus jalan-jalan di berbagai negara. Dan saat bekerja jauh dari Bumi Arema kelahirannyalah, justru Harie dengan bangga menunjukkan bahwa Dia adalah seorang Arema dan Aremania langsung ditengah-tengah pusat sepakbola dunia. Dimanapun negara atau tempat yang ia kunjungi di situ pasti ada atribut Arema Aremania dan pasti juga Salam Satu Jiwa. 
Liat nawak, kelakuan seorang Harie Pandiono dari goyang ngebor di Piala Dunia 2010 Afsel, narsis di gurun Sahara, pamer Vuvuzela (terompet yang terkenal saat Piala Dunia 2010 Afsel) di Kanjuruhan, sampe foto bareng Kodew yang bening.. he2 mantap.
Dari mengibarkan bendera Arema dari Gurun Sahara, hingga yang paling unik ketika usaha Harie untuk mengibarkan bendera Arema Indonesia berukuran raksasa di ajang Piala Dunia Afrika Selatan (konon bendera raksasa ini dipesen langsung dari Ngalam dan dikirim ke Afrika dengan berat puluhan kilo dan ongkos berjuta-juta rupiah). Saat itu Pria yang murah senyum seperti terlihat di foto2nya itu, bekerja di nenara Kongo yang berada di bagian lain Afrika dan cukup jauh dari Afrika Selatan tempat Tuan Rumah Piala Dunia waktu itu. Harie menyempatkan melakukan perjalanan jauh ke tempat diselenggarakan Piala Dunia demi membentangkan bendera begambar Kepala Singa dengan tulisan Arema Indonesia berukuran raksasa beberapa menit saja, karena masalah ijin panitia setempat. Mungkin hanya Harie Panddiono lah satu2nya wakil suporter Indonesia yang hadir ditengah2 komunitas suporter internasional pada Piala Dunia 2010 dan membentangkan panji2 Arema. Saluuut.

Dua tahun berlalu sejak Piala dunia 2010, kabarnya Harie sudah kerja di perusahan baru di Kanada, dan  Dia recananya  bakal mengibarkan panji Arema di Air Terjun terbesar di dunia Niagara. Setelah Kanada kemungkinan Dia Bakal dapat kontrak di perusaahan baru di Chile, dan dari Chile tersebut Harie Pandiono menjanjikan aksi memperkenalkan Arema dan Aremania di Piala Dunia 2014 Brazil. Hari melakukan semua itu bukannya tidak mengetahui keadaan sebenarnya Arema FC yang di banggain itu. Dia tau, Arema sedang terbelah 2, dan dia tau Arema performanya sedang turun, namun Harie tetap bangga sebagai Arema dan Aremania dengan kritiknya terhadap keadaan yang menimpa  Arema sekarang, Dia tettap akan memperkenalkan Arema, Aremania dan SalamSatu Jiwa kemanapun kakinya melangkah. Dan atas usaha keras dan jiwa narsisnya Harie Pandiono Paimin layak disebut sebagai Duta Arema, Aremania dan SalamSatu Jiwa.

Inilah Bedera Arema Indonesia Raksasa itu yang "dioyong-oyong" Harie di Afrika.
-------------------------
"Arema Tak Kan Pernah Mati, ditunggu nawak2 yang hadir untuk mengibarkan bendera kebesaran bangsa Arema di FIFA WORLD CUP 2014, Brasil. Jangan jadi jago kandang!"
- Harie Pandiono -
 
Sebelum menunggu 2014 datang, dalam rangka menuju perusahaan barunya di Toronto Kanada, Harie telah singgah di Spanyol di Stadion Santiago Barnebeu markas Real Madrid. Kemudian ke Paris, dan bakal ada bendera Arema di Menara Eiffel, setelah itu baru Ke kanada. Berikut dibawah, kisah sang Duta Arema, Aremania di Markas Cristiano Ronaldo.

 
WELCOME AREMA TO MADRID
Aremania tiba di Santiago Barnebeu, disambut sama warga belanda yang minta foto bersama sambil mengibarkan bendera Arema Indonesia. Lebih kurang 15 menit kesasar di subway sentral Madrid akhir ketemu juga stadion. Ditanya sama warga Madrid, dari mana Arema = dari Indonesia, "I see look like Armenia". Ketika tiba di stadion bertemu dengan warga muslim Madrid, karena mereka tertarik dengan Arema Indonesia langsung foto2 dengan senang hati kami layani.
Aremania di Santiago Barnebeu Madrid ker, tak lupa comot kodew Madrid buat foto bareng.
Misi Arema Indonesia, belajar menjadi supporter tingkat dunia menebarkan salam damai Satu Jiwa. Malam ini hanya awal dari penebaran Salam Satu Jiwa di Eropa, besok dilanjutkan tour keliling stadion, bertemu dengan Madrisdista.

Ketika tiba di hotel, langsung disambut oleh receptionist "Welcome Arema Indonesia", sebab dua hari sebelumnya saya bilang datang dari benua Asia pendukung sebuah klub paling fanatic di Indonesia. Si cewek ini tanya " what your supporting?" I am supporting Arema Indonesia not Madrid or Barca...dia bilang "oh no I will cancel you hotel book if you not supporting Madrid....sambil bercanda". Saya cerita sama dia "Arema is jot just the supporting football, it is the spirit of life inspires each single person of Arek Malang to be fight for better life, supporting football without violence." Dia ketawa2....

Dihatiku hanya ada Arema meskipun rencana bertandang ke semua stadion di Eropa diawali Madrid, ayas akan tetap memakai baju kebesaran Arema Indonesia. Di jalan2pun orang bingung semua ga ada bola kok ada supporter dengan baju kas...mungkin "Gila paling orang ini" belum tahu kalau Singo Edan yang datang.

Diberi PIN "Real Madrid" sama pemilik restaurant di VIP room Estadio Bernabeu, dia bilang I hope you supporting Real Madrid. Ayas bilang, "you knew what I wearing, THIS IS AREMA, it is my life" dia tetap menyalami dan berkata "Welcome AREMA to Madrid" kata manajer resturant VIP.

Salam Satu Jiwa
Harie Pandiono

Sumber :  
Milis Arek Malang Sak Dunyo http://dir.groups.yahoo.com/group/arema/
FB : http://www.facebook.com/bantaibonek

---------------------------------------------------------------------------------
Menuju 25 Tahun Arema Indonesia
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012

"UNITED IN ONE SOUL"
-ONE AREMA
ONE AREMANIA
FOR ONE INDONESIA-

Salam Satu Jiwa



AREMANIA YANG PALING AREMANIA ?

# Menuju 25 Tahun Arema Indonesia, 11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012
Sejak sekitar tahun 90-91 an, nama Aremania di kenal, saat sekarang inilah adalah saat tersulit bagi Aremania. Bukan karena menurunnya animo dukungan, ato hilangnya kreatifitas, namun perpecahan melanda Aremania sebagai imbas jadi duanya kesebelasan yang didukungnya Arema Indonesia. Entah mengapa dulu Aremania yang bersatu padu dan disegani suporter lain, kini jadi saling hujat diantara Kita, walaupun masih dalam batas kewajaran dan tidak sampai merembet ke tindakan kriminal yang tidak perlu seperti yang terjadi terhadap supporter tetangga.

Satu yang memprihatinkan adalah saling klaim sebagai Aremania sejati sehingga yang berbeda pandangan dianggap sebagai Aremania ga sejati bisa dibilang sebagai Aremania Bajakan ato bahkan bukan Aremania sama sekali. Jadi mana yang benar? Ato semua sama2 benar? Ayas juga tidak tau apakah ada ukurannya dan syarat2 tertentu untuk mengetahui Umak layak disebut Aremania ato tidak? Ato ada seseorang ato kelompok yang berhak menilai Umak sebagai Aremania ato bukan? Karena setau Ayas seseorang disebut sebagai Aremania karena dia mendukung Arema Indonesia FC bukan yang lain. Lagian Aremania bukanlah suatu organisasi yang disana ada Ketua, Sekjen, Komandan, Panglima apapun namanya yang berhak menentukan nasib seluruh Aremania, ato seseorang bisa disebut Aremania jika mempunya KTA resmi yang dikeluarkan organisasi.

Beberapa nawak menyebutkan bahwa Aremania aseli itu ada Yuli Sumpilnya, Aremania adalah yang penuh stadionnya, Aremania paling kreatif yang ada sky dancernya, Aremania itu dukung Arema yang ada Along-Kurnia Meiganya, Aremania cuma ada di Kanjuruhan, Aremania cuma dukung Tim yang bermutu, dll. Perdebatan mana yang aseli mana yang paling Aremania menambah semakin tajam perbedaan dan pemisahan antara Aremania yang berbeda pandangan. Ditambah lagi dengan perbedaan prestasi antar dua tim Arema, semakin menambah sengit olok2 diantara Aremania yang berbeda pandangan.

Sebagai penyandang satu nama Aremania, Pecinta Arema, seharusnya semua itu tak perlu terjadi. Mengingat pendukung Arema hanya satu nama yaitu Aremania, ga ada yang lain. Tidak seperti Persib yang disana ada Viking, Bomber, Jurig dll, ato pendukung Sriwijaya FC ada SMS, ada Simanis dll. Kita semua adalah satu nama Aremania, mendukung kesebelasan yang bernama Arema bukan yang lain. Jadi sangat mengherankankan jika Aremania mempertanyakan ke Arema-an Aremania yang lain, dan merasa paling Aremania diantara yang lain.

Apakah suporter pendukung Arema di Kanjuruhan bukan Aremania? Apakah yang di Gajayana bukan Aremania? Apakah nawak2 yang tour Gresik bukan Aremania? Apakah nawak2 yang mendukung Meiga di Solo, dan dilempari batu saat di kereta di Kediri bukan Aremania? Apakah yang berpesta di Sidoarjo waktu hattrick Marcio Souza bukan Aremania? Apakah 5 orang yang mengaku Aremania Aceh saat Arema lawan PSAP di IPL bukan Aremania? Ato yang kemarin Aremania Kaltim yang mengaku netral, yang mendukung Arema kontra Persisam di ISL juga bukan Aremania?

Kita semua adalah Aremania, Pecinta Arema Indonesia FC, dan berbeda pandangan itu wajar saja tak perlu diperuncing dengan debat yang membuang waktu. Inilah saatnya bersatu bukan saling mencaci, bagaimana mungkin disatu sisi Kita mencaci Aremania yang beda pandangan dan di satu sisi lain Kita minta mereka untuk datang memenuhi stadion bersama Kita. Aremania terpecah adalah salah orang2 tua dijajaran manajemen yang tak ada yang mau mengalah, dan juga campur tangan PSSI yang memperburuk situasi. 
Ayo Dukung Arema di Kanjuruhan!!! Ayo Dukung Arema di Gajayana!!!
Ingatlah pepatah lawas, 
Divide We Fall, Unity We Stand 
alias Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh. 
Aremania Bersatu Tak Akan Bisa Dikalahkan,
Aremania Bersatu Akan Mengguncang Dunia,
Aremania Bersatu Akan Ditakuti Musuh2nya.
Aremania Bersatu Akan Disegani Kawan2nya.

---------------------------------------------------------------- 
Menuju 25 Tahun Arema Indonesia
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012
"UNITED IN ONE SOUL"
-ONE AREMA
ONE AREMANIA 
FOR ONE INDONESIA- 
Salam Satu Jiwa


AREMANIA AKAN DUKUNG AREMA DIMANAPUN


 Dari polling ini juga tergambar betapa loyalnya Aremania terhadap Arema, walau dilanda konflik Aremania tetap setia dan tak perpaling dari Singo Edan yang jadi kembar ini.

Inilah hasil polling yang sedikit mewakili suara aremania, terutama Aremania yang bergabung di Facebook Page aremania (http://www.facebook.com/comunitasarema) yang diadakan beberapa waktu yang lalu. Dalam poling tersebut dilontarkan pertanyaan seputar dukungan Aremania terhadap hadirnya "Dua Arema" di "Dua Kompetisi" yang berbeda pada musim ini.

Dan dalam polling tersebut ditanyakan yang intinya bakal dikemanakan dukungan Aremania ditengah hadirnya "Dua Arema" di "Dua Kompetisi" yang berbeda pada musim ini. Dan dari jawaban nawak2 Aremania tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar loyalitas Aremania tidak mempersoalkan Arema dipegang siapa atau berlaga di kompetisi mana. Dan mereka tetap bakal mendukung semua Arema, baik Arema ISL kubu Rendra dan juga Arema IPL kubu M Nur. Boleh dibilang sebagian besar Aremania cenderung memilih netral atau tak mementingkan figur yang berseteru (Rendra atau M Nur) tapi lebih mementingkan nama Arema buat didukung. Hal ini tercemin dari 46% nawak2 Aremania memilih jawaban + Dukung semuanya apapun Arema-nya.

Sedangkan jika dibandingkan antara Arema ISL kubu Rendra dan Arema IPL kubu M Nur, sangat jomplang sekali perbandingannya. Ini karena tak ada satupun Aremania yang menyatakan dukungannya terhadap Arema IPL-nya M Nur, alias 0% hasil polling ini. Ini membuktikan citra M Nur dimata Aremania memang sudah habis, mulai dari kasus pendaftaran Arema ke LPI sampe tunggakan gaji pemain Arema musim lalu, publik Aremania mempercayai bahwa semua itu buah kesalahan dari M Nur yang lari dari tanggung jawabnya.

Dan hasil Arema IPL yang cuma didukung 0% oleh Aremania berbanding jauh dengan Arema ISL Rendra. Ternyata masih banyak Aremania yang bersimpati dan percaya terhadap Arema Rendra yang bakal berkompetisi di ISL ini tergambar dari pilihan Nawak2 Aremania sebesar 32% dari total seluruh pemilih yang menyatakan dukungannya. Ini tak lepas karena Rendra Kresna dkk dianggap sebagian Aremania cukup berjasa dan berperan penting terhadap sepak terjang Arema Indonesia di dua musim terakhir. Ditambah lagi dalam konteks konflik dualisme manajemen Arema, pihak Rendra adalah pihak yang di Dzolimi PSSI dengan memutusan M Nur sebagai pengelola Arema yang resmi. Dan seperti kita tau, sat ini PSSI sedang menjadi soroitan negatif oleh banyak kalangan sepakbola Indonesia termasuk Aremania karena keputusan2nya yang aneh bin ajaib.

Bisa jadi dukungan Aremania bakal semakin menguat ke Arema ISL jika PT. Liga Indonesia mengabulkan Arema Rendra sebagai salah satu kontestasn resmi ISL. Apalagi jika nanti skuad yang kini sedang dibangun Joko Susilo dibawah komando Rendra Kresna menunjukkan perkembangan yang menjanjikan dan mampu berprestasi di ISL. Saat ini, skuad Arema ISL masih jauh persiapannya jika dibandingkan dengan Arema M Nur yang di arsiteki Milomir Seslija yang dipersiapkan untuk IPL.

Selain itu, dari polling tersebut juga tergambar betapa loyalnya Aremania terhadap Arema, walau dilanda konflik dan dualisme dan hampir mustahil diselesaikan. Aremania tetap setia dan tak perpaling dari Singo Edan yang jadi kembar ini. Sesuai dengan jumlah 0% alias tidak ada Aremania yang memilih jawabab + Tidak mendukung Arema manapun. Dan memang seharusnya begitulah Aremania, walaupun kalah atau menang, degradasi atau juara, apapun keadaannya Aremania akan selalu mendukung dibelakang Arema.

in win or lose, till the end
whatever it happen
we will stay behind you
Salam Satu Jiwa



Inilah Pertanyaan dalam polling tersebut :
Kompetisi sebentar lagi Kompetisi bergulir, dan kita harus merelakan bahwa Aremania musim ini mempunyai dua tim Arema untuk didukung. Dari 20 ribu lebih anggota FP ini, mungkin sedikit mewakili suara ribuan Aremania diluar sana. Siapakah yang umak dukung pada musim 2011/2012 ini ? (apapun jawabanmu kita tetap Utas Aremania)
-----------------------------------------------------------------------------
Dan dari 4 pilihan jawaban yang disediakan Aremania menjawab :
+ Dukung semuanya apapun Arema-nya 46%
+ Arema ISL  32%
+ Arema IPL  0%
+ Tidak mendukung Arema manapun 0%
-----------------------------------------------------------------------------
Dan ada pula sebagian nawak Aremania menambahkan jawaban sendiri :
+ Salam Satu Jiwa 4%
+ Gw Slalu Dukung Aremania, Ampe pun mati Dukung Arema 18%

UNITE IN ONE SOUL


TAHUN 2011, seolah-olah menjadi tahun sial bagi Arema. Betapa tidak, tahun lalu 2010 Arema adalah rajanya sepak bola di Indonesia dengan menjadi jawara Liga super Indonesia, namun kini kebalikannya. Berbagai rentetan Episode yang tak menyenangkan terjadi terhadap Arema, hingga kini nyaris terpecah-belah dengan berbagai konflik internal, krisis finansial, hingga menurunnya mental pemain yang berujung permainan dilapangan yang tak maksimal..

2011 dtandai dengan lahirnya Liga Primer Indonesia (LPI), sebuah kompetisi tandingan dari Liga Super Indonesia (LSI) yang digagas oleh Bos Grup Medco, Arifin Panigoro. Tercatat 3 klub LSI memilih untuk hijrah ke kompetisi  yang katanya lebih profesional ini, 3 klub tersebut yaitu Persema, Persibo dan PSM. Berkurangnya jumlah peserta di liga praktis mengurangi jumlah pertandingan di LSI, dan bagi Arema yang mengandalkan sebagian pendapatan dari tiket pertandingan hal ini cukup merugikan. Derby Pride of Ngalam, yang digadang-gadang bakal meghasilkan pendapatan 1 Milyar lebih akhinrya gagal. Dari LPI ini juga, perpecahan di internal terjadi hingga seolah-olah ada 2 kubu yang berbeda haluan tapi sama-sama mempunyai kewenangan mengelolah Arema.Yaitu M Nur, Ketua Yayasan  sekaligus plt Direktur PT. Arema Indonesia yang ujug-ujug muncul dalam acara deklarasi LPI, sehingga LPI sempat mengklaim Arema sebagai salah satu pesertanya. Namun Abriadi Muhara selaku Pelaksana Harian Arema membantahnya, dan mengatakan bahwa M Nur dah lama ga aktif di Arema. Ketertarikan pihak LPI terhadap Arema sempat menjadi polemik hingga menimbulkan kegeraman Aremania untuk bersuara untuk menolak LPI.

Awal 2011 juga menjadi awal dimulainya putaran kedua LSI dan juga Liga Champion Asia. Namun disinilah episode kesialan dimulai, karena krisis finansial yang lama diderita Arema mulai mengganggu kinerja anak-anak Arema. Sepulang dari melakoni laga di Osaka, Along cs sempat melakukan mogok bertanding, seharusnya mereka dari Jepang langsung menuju Jayapura untuk melanjutkan jadwal Putaran Kedua LSI, tapi malah balik ke Malang. Tanpa persiapan matang, kurang latihan, ditambah waktu yang mepet, hingga pada akhirnya mental bertanding punggawa Singo Edan ga bisa100%, dan hasilnya kalah melulu di Tanah Papua. Episode kekalahan Arema pun semakin menjadi-jadi kala melakoni laga Champion Asia, Arema hanya sempat menahan seri Shandong Luneng di kanjuruhan, selebihnya adalah, kalah dan kalah lagi. Krisis finansial yang mendera Arema yang tak kunjung usai dan terselesaikan memang mengikis persiapan dan konsentrasi anak-anak Arema. Ditambah dengan berkurangnya Animo Aremania yang hadir untuk mendukung Arema di Champion Asia menambah beban Zulkifli dkk untuk melawan tim-tim jawara dari Asia Timur. Beberapa kali, pertemuan, beberapa kali janji, beberapa kali dapat sponsor, sumbangan dari Aremania hingga Program Tiket Tanpa Nonton, tapi semua itu masih belum cukup mengobati Singa yang lagi terluka.

Puncak dari Episode kesialan dan kekalahan Arema adalah saat-saat ini, ketika manajemen mengakui menyerah dan angkat tangan karena tak mampu mengelola Arema. Utang yang menumpuk dari gaji pemain, pelatih hingga pegawai yang lom terbayarkan, terlalu berat bagi manajemen untuk menanggulangi. Dan diputuskan untuk menjual Arema ke Investor dengan kisaran harga 30 M secara lelang. Beberapa perusahan kelas kakap, calon investor potensial pun dikabarkan mulai tertarik seperti dari MNC Grup, Bakrie Grup, Medco Grup hingga Yanmar. Namun kenyataannya hingga saat ini, lom ada satupun investor yang ssecara resmi mengambil alih manajemen Arema. Kondisi internal manajemen Arema sendirilah yang ditengarahi menyebabkan Investor enggan dengan segera mengambil alih Arema. Konflik di internal manajemen yang melibatkan nama M Nur, dan kosongnya berbagai pos dijajaran manajemenn mendesak untuk dibenahi sebagai jalan Invesor untuk masuk. Karena tanpa manajemen dibenahi, percuma siapapun Investornya, berapapun duitnya, Arema pasti ga akan lepas dari bayang-bayang krisis finansial lagi

Arema yang pada akhir putaran pertama mampu bertengger di posisi 2 klasemen sementara, kini turun ke peringkat 5 di gusur oleh Persija, Persisam dan Semen Padang. Seperti halnya nasib dunia persepakbolaan Indonesia yang berada di ujung tanduk, begitu juga Arema. Kita semua tau Arema bukan sekali atau dua kali mengalami krisis seperti ini, namun kini bukan waktunya kita berdiam diri. Gelorakan semangatmu, suarakan nyayianmu, gerakkan tubuhmu, Ayo dukung Arema sepenuh satu jiwamu. Tunjukkan Kita masih ada, dimanapun dan apapun keadaan Arema sekarang. Nawak-nawak pasti merindukan melihat aksinya, dan pasti Merekapun merindukan dukungan Kita. Sebulan lamanya kita tak melihat Singa-singa bola Arema berlaga, mari teriakkan namanya bersama-sama, nanti tanggal 29 Mei 2011. BANGKIT AREMA!!!

Siapapun Dirimu, Dimanapun Dirimu
Jika Umak Mengaku Sebagai AREMA, AREMANIA dan AREMANIA
Saatnya Kita Bersatu, Bersatu Dalam Satu Jiwa
UNITE IN ONE SOUL

Salam Satu Jiwa

JIKA AREMA MERASA SENDIRIAN DI KANJURUHAN


MUSIM kemarin, 2009/2010 bisa dikatakan masa keemasan Arema dan Aremania, karena disaat itulah Arema berhasil merajai pentas Liga Indonesia dengan meraih Juara Liga Indonesia untuk pertama kalinya. Dan dimusim itu juga para pemain Arema yang sebelumnya ga dikenal menjadi naik daun dan beberapa terpilih masuk skuad Timnas Garuda, menjadi dikenal diseluruh Indonesia. Itu semua tak lepas dari jasa mantan pelatih Robert Rene Albert yang gemar memainkan bibit muda potensial yang ada daripada mencari bintang yg udah mapan. Saat itu serasa terbayarkan semua kerja keras dan loyalitas Aremania yang tak kenal lelah mendukung Arema. Hal ini tercermin kala pertandingan terakhir musim lalu, ketika puluhan ribu Aremania dari berbagai penjuru Indonesia tumplek blek di Senayan. Bagaikan pesta Aremania  disana.

Namun saat ini di Musim 2010/2011, Arema seakan berat untuk mempertahankan mahkota juara yang diraihnya musim lalu itu. Walaupun sampai saat ini Arema belum terkalahkan di kandang pada pentas Liga, tapi itu ga cukup jika ingin mempertahankan gelar. Karena selain dibutuhkan konsisten di dalam kandang, untuk jadi juara harus mampu meraih poin dikandang lawan. Oleh karena itu beberapa kekalahan kemarin dikandang Pelita dan Semen Padang membuat langkah arema semakin berat mengejar rival2nya. Walaupun dengan dalih padatnya jadwal  yang g membuat Arema kalah, tetapi seharusnya Arema bisa lebih dari itu jika ingin tetap bersaing dipapan atas. Selain berat mempertahankan gelar juara di liga domestik, Arema secara meyakinkan juga tersingkir secara menyakitkan di Ajang Liga Champion Asia. Walaupun saat perandingan pertama Arema cukup mengejutkan lawannya tim2 jawara di liga Asia, namun akhirnya kualitas dan mental juara berbicara. Secara menyakitkan Arema harus jadi lumbung gol baik saat tandang maupun laga kandang di Kanjuruhan.

ULTRAS CEREZO BOYS di tribun VIP Kanjuruhan
 Puncaknya kemarin, ketika Arema dipermalukan Cerezo Osaka di kanjuruhan dengan 4 gol tanpa balas. Selain Arema dipermalukan kalah oleh Srigala dari Osaka, Arema juga dipermalukan dengan sedikitnya Aremania yang hadir sehingga para  punggawa Arema merasa sendirian seperti main dikandang lawan. Tercatat pada laga Selasa kemarin itu, hanya ada sekitar 3 ribuan penonton, ini adalah rekor penonton Arema paling sepi di laga resmi sejak Arema berdiri. Dari 3 ribu penonton, sekitar 1300an adalah dari suporter Cerezo Osaka yang terdiri dari belasan suporter Cerezo yang menamakan diri sebagai Ultras Cezero Boys yang datang langsung Jepang dan 1200an karyawan Perusahaan Yanmar yang dimobilisasi dari Pabrik2 Yanmar di Pandaan dan Bogor. Sedangkan Aremania yang hadir di Kanjuruhan saat itu hanya sekitar 1700an. Padahal saat konferensi pers bersama antara Arema dan Cerezo sebelum pertandingan, Janu dah menegaskan bahwa anak2 Arema membutuhkan kehadiran Aremania untuk menaikkan motivasi saat lapangan. "Aremania datanglah ke Stadion..." pinta Miro saat di konferensi pers tersebut.

Selain mengeluhkan minimnya Aremania yang hadir, pemain Arema juga mengeluhkan tingkat partisipasi manajemen dalam mendampingi anak2 Arema saat bertanding. Menurut salah satu pemain, bahwa sejak laga tandang ke markas Pelita ga ada perwakilan manajemen yang mendampingi. Usai bertanding kontra Cerezo, pemain sekelas Zulkifli Syukur pun meluapkan uneg2nya ke Twitter. Dalam akun Twitternya Zulkifli menulis, “Pengurus tidak datang, Aremania sedikit yang datang, kami seperti bermain di kandang lawan." Apakah ini tanda2 ada perpecahan di manajemen dan juga tanda2 menurunnya loyalitas Aremania terhadap Arema?

Saling Membutuhkan
Seperti itulah hubungan Arema dan Aremania, satu sama lain adalah saling membutuhkan. Ibaratnya  Arema ga akan berarti jika tanpa hadirnya Aremania dan Aremania ga akan ada jika ga ada Arema. Aremania datang ke Stadion untuk memberikan dukungan, motivasi juga semangat, serta dari tiket Aremania yang hadir pula Arema dihidupi. Sedangkan Arema membalasnya dengan bermain dengan sepenuh hati dan mempersembahkan kemenangan untuk Aremania. Sesuai apa yang diungkapkan Roman Chmelo saat konferensi pers, sebelum laga menjamu Cerezo, "Kami bermain untuk Aremania yang sudah mendukung kami sepanjang musim ini, sehingga kedatangan Aremania ke Kanjuruhan sangat berarti kepada kami. Pride (kebanggaan) untuk menang dan menyenangkan Aremania akan membuat kami termotivasi melakukan kerja keras untuk memenangkan pertandingan, tidak ada kata menyerah" tegas pemain yang dijuluki CR9 ini.

Namun apa yang terjadi jika Arema bermain di Kanjuruhan tapi merasa sendirian, seperti itulah yg terjadi ketika Arema menjamu Cerezo kemarin. Arema tampil tanpa didampingi oleh perwakilan manajemen dan juga puluhan ribu pendukung setianya. Kanjuruhan yang biasanya biru dan riuh oleh aksi kreatif Aremania, namun pemandangan kontras terjadi ketika tribun di Kanjuruhan terlihat kosong melompong. Alhasil Anak2 Arema pun bermain seperti Singa kurang darah, dan Aremania yang hadir kalah semangat oleh Ultras Cerezo Boys yang terlihat lebih terorganisir dari atribut hingga mobilisasi (maklum soalnya mereka disponsori perusahaan besar). Motivasi anak2 Arema saat itu seperti mati, jauh berbeda seperti saat Arema tandang di markas Cerezo di Osaka yang tampil impresif. Dan akhirnya hasilnya adalah antiklimaks bagi Arema. Janu pun mengaku sangat kecewa atas hasil yang diraih, namun Ia tak mau menyalahkan anak2 asuhnya yang sudah berjuang sekuat tenaga. "Kita semua berharap bisa bermain maksimal, tapi kita kayak main di kandang lawan, coba lihat Pengurus Arema tidak datang, Aremania sedikit. Kita bermain untuk siapa?" keluh Janu.
Dukungan penuh Aremania kala Arema menjamu Jeonbuk, sayang harus berakhir dengan kekecewaan
Indikasinya Berkurangnya dukungan Aremania dimulai ketika Arema kalah dari Jeonbuk, saat itu ekspektasi Aremania  begitu besar untuk melihat Arema menang atas wakil Korea tersebut. Puluhan ribu Aremania yang sudah memenuhi Kanjuruhan pun terpaksa kecewa, ketika Arema malah dipecundangi dengan 4 gol tanpa balas oleh Jeonbuk. Tampak jelas kekecewaan Aremania kala itu, ditunjukkan dengan aksi beberapa oknum Aremania yang melakukan pembakaran sampah di tribun seusai laga dan sempat bersitegang dengan pihak keamanan. Setelah laga tersebut,  Aremania ga pernah memenuhi Kanjuruhan terutama pada laga di kompetisi Champions Asia.

Dari indikasi tersebut, bisa disimpulkan inilah ujiannya sebenarnya. Apakah Aremania hanya mau mendukung Aremania jika menang saja? Apakah Loyalitas Tanpa Batas, hanya sebatas jargon belaka? (pertanyaan yang hanya bisa jawab oleh Aremania sendiri)

Beberapa nawak beralasan bahwa, sepinya Kanjuruhan saat itu adalah karena hari itu (selasa) adalah hari kerja, bukan akhir minggu. Saat itu juga bertepatan dengan hari ujian sekolah bagi nawak Aremania Halokes, dan juga ada juga yang bilang lagi kanker (kantong kering). Apapun alasannya, pemain Arema juga manusia, butuh perhatian dari manajemen dan Aremania. Hadirnya wakil manajemen dan dukungan Aremania adalah wujud dari perhatian itu. Selain itu akibat minimnya Aremania yang datang ke Kanjuruhan, pendapat dari tiket juga ikut berkurang. Hal ini diprediksi bakal menimbulkan kesulitan disaat Arema melakukan away ke markas Jeonbuk Hyunday Motors di Korea nanti.

Tapi harapan itu masih ada, jika di LCA Arema dah tersingkir dan di Liga peluang mempertahankan juara menipis. Arema masih berkesempatan mengadu nasib di pentas Piala Indonesia. Sebelum pentas Piala Indonesia bergulir ada baiknya Kita berbenah diri. Lupakan suporter terbaik, lupakan suporter terbesar, lupakan suporter terkreatif, karena nyatanya Aremania  sama dengan suporter didaerah lain...  Sama Rasisnya, sama lagunya, sama goyangannya, dll.. Lebih baik Kita berkonsentrasi bagaimana mendukung Arema lebih baik lagi, bagaimana meningkatkan motivasi pemain dan menyelamatkan tim kebanggaan kita dari keterpurukan.

Inilah saatnya kita gemakan lagi, dimanapun saat Arema bermain :
“Satukan Tekadmu, Kobarkan Semangatmu, Kami Aremania Selalu Mendukungmu!”
Jangan biarkan Arema merasa sendirian lagi!

Salam Satu Jiwa