AREMA, AREMANIA DAN AREMA FC


AREMA, apakah itu? Arema ada yang menganggap adalah sebuah nama klub sepak bola dari Malang, ada juga yang menganggap sebagai sebutan untuk orang yang berasal dari Malang, dan ada pula yang mengangap Arema Cuma sebagai merek Bakso. Mana yang benar? Disini Ayas mencoba menmperjelas Arema itu apa. Tapi disini Ayas tak akan menulis tetan sejarah asal muasal nama Arema, mungkin di lain waktu. 

Pertama, banyak orang awam yang mengkaitkan nama Arema identik dengan sepakbola, yakni klub sepakbola Arema FC. Klub sepakbola Arema FC yang didirikan oleh Lucky Acub Zaenal, 11 Agustus tahun 1987 dengan nama PS Arema atau Persatuan Sepakbola Arema, sebagai kontenstan kompetisi Galatama. Dilahirkan dengan memakai nama Arema yang merupakan akronim dari Arek Malang, ditujukan demi mengakomodir potensi yang dimiliki Arema (Arek Malang) di bidang sepakbola yang tak mampu ditampung oleh Persema.

Kini Arema FC telah berkembang menjadi tim yang besar dan disegani di kancah persepakbolaan, apalagi setelah berhasil merengkuh gelar juara Liga Super Indonesia untuk pertama kalinya pada tahun 2010. Reputasi Arema FC pun semakin terangkat seiring dengan semakin kreatifnya pendukungnya, yakni Aremania. Sebagai salah satu pionir dalam dunia persuporteran di Indonesia, Aremania selalu punya kreatifitas yang baru dalam mendukung Arema FC. Dan masyarakat di Indonesia semakin mengenal nama Arema FC beserta Aremania sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dunia Persepakbolaan di Indonesia.

Kedua, Arema sebagai identitas atau jati diri bagi seseorang atau komunitas orang yang berasal dari Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu). Hal ini dirasakan terutama bagi orang Malang perantauan, karena berada di daerah orang rasa “nasionalis ke Arema-an” bisa menjadi semakin tebal. Tak ada catatan pasti, namun menurut salah satu tokoh Arema generasi tua di Bogor, ia sudah bertemu sesama Arema (Kera Ngalam) saat merantau ke Kalimantan. Jadi sejak tahun 70-an orang Malang sudah merantau keberbagai daerah di Indonesia, ke Jakarta, Kalimantan, Bali dll, dan mereka ini selalu membawa identitas sebagai Arema disetiap perantauannya. Itulah jika kita ketemu orang Malang diluar daerah pasti menyebut dirinya sebagai “Ayas Arema” bukan “Ayas orang Malang.”

Dan karenanya maka istilah Arema sebenarnyasudah jauh dikenal sebelum adanya klub sepakbola bernama PS Arema tahun 87-an. Dengan semakin banyaknya Arema2 yang merantau keluar dari Malang, semakin banyak pula di daerah diluar Malang berdiri paguyuban komunitas Arema, sebagai wadah silahturahmi Arema Perantauan. Seperti Arema Batam, Arema Kaltim, Arema Korea dll. Kata Arema juga sering dipake sebagai merek pada dagangan2 atau usaha jasa, yang bisa diartikan bahwa yang punya adalah arema atau berasal dari Malang, seperti Bakso Arema, Tempe Arema, Bengkel Arema.

Arema Balikpapan, salah satu komunitas Aremania yang paling eksis bahkan sudah sering berpartisipasi dan Juara Pawai Budaya pada kegiatan Hari Jadi Balikpapan, seperti foto diatas.
Aremania Balikpapan pun tak kalah ekssnya, di manapun laga Arema FC di Bumi Kalimantan mereka selalu ada demi mendukung Singo Edan.
 Namun untuk menjadikan seseorang sebagai Arema tak melulu karena dia lahir di Malang, namun ada banyak hal yang membuat seseorang merasa dirinya Arema. Satu, pasti yang pasti kelahiran Malang, dua berdarah keturunan Malang, tiga pernah bersekolah atau kuliah atau kerja di Malang, empat menikah dengan orang Malang, lima pernah tinggal di Malang, enam merasa merasa cinta dengan segala tentang Malang (Budaya, Bahasa, Makanan dll), atau tujuh punya teman Arema dan terinspirasi karena gaya hidup dan semangat Arema, dst, dst.

Arema, Aremania dan Arema FC
Arema sebagai komunitas orang Malang sebenarnya berjalan beriringan dengan Arema FC dan juga kelompok suporternya Aremania. Hal ini dikarenakan sebagian besar Arema adalah Aremania, walau seorang Arema tak selalu adalah Aremania dan seorang Aremania tak selalu adalah Arema. Seorang Arema tak selalu adalah Aremania artinya adalah bahwa ga semua Arema menggilai klub Arema FC, menonton ke stadion, mengikuti beritanya, liat siaran langsung di tv pun tidak. Dan seorang Aremania tak selalu adalah Arema, berati untuk menjadi Aremania atau suporter Arema FC tak harus Arema atau jadi orang Malang bisa dari manapun, bisa dari Bandung dari Jakarta dll.

Bisa dibilang bahwa Aremania adalah bagian dari komunitas Arema, ini tampak dengan adanya korwil Aremania yang menggandeng sebuah Paguyuban Arema didaerah tertentu. Seperti di Paguyuban Arema Balikpapan disana ada kera2 korwil Aremania Balikpapan, hal yang sama juga ada dibeberapa daerah yang lain. Maka, kemanapun Arema FC berlaga seperti kita tau, disana pasti ada Arema dan Aremania yang bakal mendukung. Dan setiap ada acara komunitas Arema, halal bihalal atau silahturahmi pasti disana hadir nawak2 yang beratribut Aremania lengkap, baik dengan syal atau soak dengan logo Arema FC.

Arema memang dekat dengan urusan sepakbola tapi ada ungkapan, jika Arema itu bukan sekedar urusan sepakbola. Karena Arema adalah, jatidiri, gaya hidup, sub kultur, harga diri, dst, dst.


Salam Satu Jiwa, AREMA!

HARI JADI KE 2 TAHUN, AREMANIA BOGOR BERKARAKTER




Hari Minggu, 3 Juni 2012 adalah merupakan Hari Jadi Bogor (HJB)  ke 530, namun bersamaan pada hari itu juga sebuah komunitas pendukung Arema FC yang berdomisili di Bogor dan sekitarnya juga berulang tahun. Mereka adalah nawak2 ABB alias Aremania Bogor Berkarakter yang merayakan 2 tahun ke-eksisannya dalam mendukung Singo Edan diantara komunitas Aremania yang lainnya .

Bertempat di Kebun Raya Bogor, perayaan Ulang Tahun ABB ke-2 di hadiri sekitar 80-an orang Aremania dari Bogor Raya, termasuk Arema Batavia, Tanggerang, Bekasi, Sukabumi dll dan juga dihadiri Cak Hanny Merdeka, Ketua KPJ Bogor sekaligus salah satu gnaro yang dituakan di Arema Bogor. Suasana berlangsung akrab, penuh rasa persaudaraan namun juga meriah. Acara yang diwarnai menggemanya lagu Salam Satu Jiwa dan bagi2 Doorpize ini pun sempat jadi tontonan pengunjung kebun raya.

Kebun Raya yang waktu itu bertepatan dengan HJB 530 cukup ramai oleh pengunjung dari berbagai lapisan, tak tampak ada yang terganggu dengan hadirnya kera2 berbaju biru bertuliskan Arema. Memang pada awal2 bulan Juni kemarin, kehadiran Suporter sepakbola lokal sedang menjadi sorotan akibat dari beberapa insiden yang melibatkan oknum Suporter Anarkis yang sampai merengut nyawa. Inilah bukti, Aremania memang beda.

Selamat Ulang Tahun Aremania Bogor Berkarakter

-Salam Satu Jiwa-


Selamat Datang di Kebun Raya
Suasana sebelum acara dimulai
Duo Sejoli Arema Batavia
Sambutan dari Arif, yang punya hajat di HUT ABB ke 2
Sepatah dua patah kata dari Cak Hanny Merdeka
Salam Satu Jiwa pun menggema di Kebun Raya Bogor
Penonton pun setia duduk dengan nyaman
Tiiup liliinnya... Tiiup liliinnya...
Nakam-nakam in the kebon
Ludes
Mojok
Foto Bersama sebelum bubaran
Kera-kera ABB
Tak ketinggalan foto bareng Ebes

MEMPIDANAKAN SUPORTER SEPAKBOLA


Oleh: Ekomaung


Sebelum khalayak ramai mendapatkan info mengenai tewasnya suporter di RSCM, mungkin saya termasuk orang Bandung yang pertama mengetahui kabar tersebut, saya yang kemarin menyaksikan langsung persija VS PERSIB dari tribun pers mendapat kabar dari wartawan Jakarta asal Garut di depan saya bahwa dia mendapat kabar dari informannya yang seorang polisi bahwa ada suporter sepakbola yang tewas di RSCM (kebetulan wartawan tersebut bukanlah wartawan olahraga namun wartawan kriminal yang memang memiliki link di kepolisian, wartawan tersebut hadir di GBK memang hanya untuk menonton saja karena seorang garut yang sangat menggemari PERSIB).

Selama pertandingan saya memang melihat sekitar ada 4 insiden di tribun VIP dan VVIP, intinya adalah beberapa kawan bobotoh “kepergok” diantara ratusan jakmania yang hadir, ciri-ciri mereka memang jamak, yaitu memakai baju bebas/ non oranye, logika jakmania yang melakukan sweeping pun cukup rasional. Mereka menganggap orang yang duduk di kelas yang tiketnya mahal dan tidak beratribun maka layak diduga sebagai bobotoh. Dan untunglah kawan-kawan kita itu duduk di VIP yang jakmania-nya relatif tidak terlalu beringas, juga karena di “kelas-kelas mahal” itu polisi dapat segera menjangkau mereka untuk diamankan, entah bagi bobotoh-bobotoh lain yang kepergok menonton di tribun utara, timur, ataupun selatan.

Kabar tewasnya suporter itu sengaja tidak saya sebarluaskan karena bukanlah kabar baik dan menggembirakan meskipun saya yakin itu bukanlah HOAX karena didapatkan langsung dari sumber utama dan bukanlah kutipan berita, melalui media sosial, pemberitaan dsb.

Bahkan hingga media online KOMPAS memberitakan sekitar pukul 20.00, saya pun tetap tak ingin meriah menanggapi hal tersebut melalui media-media sosial, terlebih menyimak pemberitaan yang mulai lebay dan mengklaim bahwa korban adalah bobotoh PERSIB serta semakin menyulut kebencian, padahal belum ada kepastian korban dari pihak bobotoh (meskipun pada akhirnya semua menyadari bahwa dari pihak manapun korban ini tetap sebuah tragedi yang sangat tidak lucu dalam dunia persepakbolaan yang seharusnya mengutamakan sisi hiburan). Secara pribadi saya menganggap rivalitas dalam sepakbola memang harus ada untuk tetap menjaga atmosfer dan kualitas kemaskulinan olahraga ini. Namun tentunya rivalitas yang berkonteks. Konteks rivalitas itu akan saya coba bagi dalam tulisan berikutnya dalam trilogi ini.

Dalam bagian pertama yang penuh keterbatasan waktu ini, saya ingin membuat kita melihat lebih luas terlebih dahulu sebelum total membicarakan segala sesuatu terkait bentrokan suporter sepakbola, baik secara fenomena umum maupun pengalaman empirik yang pernah dialami langsung oleh penulis maupun beberapa orang kawan.

Sanksi yang diberikan kepada suporter sepak bola seakan tidak menjamin bahwa kerusuhan dalam sebuah pertandingan di kota yang bersangkutan akan tiada, bahkan bonek, suporter fanatik Persebaya Surabaya, dikenal tak hanya sering berbuat ricuh di Kota Pahlawan, namun di kota-kota lain dimana Persebaya bermain. Lalu adakah solusi untuk “benar-benar” membuat jera para pelaku kerusuhan tersebut?

Selama ini, yang menjadi rujukan dalam pemberian sanksi dalam kerusuhan sepak bola di tanah air adalah PSSI. Bentuk sanksinya pun tidaklah berhubungan dengan hukum positif yang berlaku. Padahal, begitu banyak hal yang terkait dengan tindak kerusuhan ini adalah nyata-nyata pelanggaran norma hukum, terutama hukum pidana. Ada beberapa hal yang memenuhi unsur delik pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang biasa dilakukan para suporter sepak bola di Indonesia. Ada pula beberapa tindak pidana kejahatan yang berkaitan langsung dengan terjadinya kerusuhan suporter sepak bola.

Pertama adalah tindak pidana tentang penghancuran atau perusakan barang yang diatur dalam Bab XXVII buku kedua KUHP. Mengenai hal ini, semua dapat kita lihat saat terjadinya kerusuhan sepak bola, baik di dalam stadion maupun luar stadion. Bukti-buktinya pun jelas dan terekam dalam berbagai dokumentasi, pembakaran, serta perusakan fasilitas umum dan kendaraan-kendaraan pribadi menjadi hal yang dapat dipastikan akan selalu mengikuti saat terjadi kerusuhan sepak bola.

Kedua adalah tindak pidana penganiayaan yang diatur dalam Bab XX buku kedua KUHP. Tindak pidana yang satu ini akan semakin nyata saat melibatkan dua kelompok suporter yang berbeda, bahkan aksi-aksi penganiayaan dalam kerusuhan sepak bola tidak jarang pula harus menelan korban jiwa, sebagai contoh adalah tewasnya Aremania saat bentrokan dengan Sakeramania saat Arema Malang berhadapan dengan Persekapas Pasuruan beberapa musim musim lalu di Madiun, ataupun saat seorang suporter Semen Padang harus meregang nyawa usai dikeroyok sekelompok oknum Jakmania pada musim kompetisi 2001 lalu. Bahkan, jika kita melihat keluar, betapa kompetisi sepak bola sekelas seri A Liga Italia pun harus dihentikan sementara waktu akibat tewasnya seorang polisi di tangan ultras (sebutan bagi suporter garis keras di Italia).

Selain itu, beberapa hal lain yang dilakukan para suporter dan terjadi sebelum atau sesudah kerusuhan pun dapat pula dijerat dengan hukum pidana, yaitu saat para oknum suporter mengonsumsi obat-obatan terlarang untuk membuat mereka lebih “terbang” saat beraksi mendukung tim kesayangannya. Menenggak minuman keras sebelum pertandingan seakan telah menjadi ritual rutin bagi sebagian suporter sepak bola, dan efeknya pun cukup mengerikan. Dalam keadaan mabuk, para suporter ini menjadi sangat agresif dan mudah melakukan hal-hal yang sulit dikontrol.

Selain tindak kejahatan, bentuk pelanggaran pun biasa mereka lakukan saat menuju ataupun pulang dari stadion. Yang dimaksud adalah tindak pidana pelanggaran lalu lintas. Kita akan sangat mudah menjumpai pemandangan suporter yang mengemudikan motor ugal-ugalan, tidak menggunakan helm, berboncengan motor lebih dari tiga orang, dll. Maka di mana peran para penegak hukum saat tindakan-tindakan “khas” suporter sepak bola ini telah nyata-nyata, termasuk kategori pidana dan kriminal murni?

Tidak pernah kita dengar berita penuntutan secara konvensional bagi pelaku tindak pidana dalam sebuah pertandingan sepak bola, yaitu tuntutan jaksa, proses peradilan di pengadilan umum hingga jatuhnya vonis. Yang sering kita dengar hanyalah sanksi dari PSSI dan sekadar penahanan sementara terhadap para suporter “badung” untuk kemudian dilepaskan setelah anggota keluarganya datang ke kantor polisi untuk menebus sang perusuh dengan sejumlah uang. Sebuah kekeliruan telah terjadi. Kejahatan-kejahatan dan pelanggaran yang terjadi dalam ranah pertandingan sepak bola dianggap berbeda cara penanganannya dengan penanganan tindak pidana di luar sepak bola, padahal kita memiliki hukum acara yang harus dilaksanakan untuk menegakkan hukum pidana.

Sebenarnya bukan dalam konteks kerusuhan suporter saja hukum menjadi sebuah omong kosong belaka. Para pemain ataupun ofisial yang jelas-jelas tertangkap kamera menganiaya wasit tidak pernah dituntut secara pidana oleh penegak hukum, yang ada sekadar hukuman versi PSSI, yaitu denda dan larangan bermain bagi si pelaku. Kejahatan di luar lapangan yang berhubungan dengan sepak bola pun tak mendapat konsekuensi hukum yang jelas. Entah berapa kali terjadi kasus suap yang melibatkan pejabat teras PSSI. Jika kasus tersebut berhasil terbongkar, yang terjadi kemudian hanyalah sanksi administratif di kalangan intern organisasi PSSI itu sendiri, yaitu berupa pemecatan. Padahal yang namanya suap adalah termasuk kejahatan pidana dan siapa pun pelakunya haruslah berhadapan dengan hukum.

Sudah saatnya paradigma hukum dalam menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan sepak bola kembali diluruskan bahwa siapa pun orangnya dan apa pun tindakannya meski dilakukan dalam ranah sepak bola. Jika itu memenuhi unsur-unsur pidana, hukum harus masuk dan menampakkan wajahnya sehingga meski kita memiliki PSSI sebagai induk organisasi tertinggi yang memiliki otoritas tertinggi terhadap penjatuhan sanksi dalam dinamika persepakbolaan tanah air, namun hukum harus tetap menjadi pandu yang mampu menyentuh seluruh aspek yang berkaitan dengannya. Masyarakat pun akan mendapat pembelajaran dan keyakinan bahwa ketertiban dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, termasuk sepak bola akan terjamin, para pelaku pun akan berpikir dua kali saat melakukan tindakan yang akan membuatnya berhadapan dengan sanksi yang tegas, tak hanya denda namun juga hukuman kurungan dan penjara hingga bertahun-tahun.

Penulis berkhidmat dengan akun twitter @ekomaung

DOKTRIN MAHDiP

Ini adalah artikel tulisan dari Ronaldikin, seorang pecinta bola nasional sekaligus Bobotoh yang mempunyai "face" mirip dengan Ronaldinho. Ayas menemukan artikel ini di banyak forum penggemar Persib, dan kurang lebih Ayas setuju dengan isi artikel tersebut. Walau konteks artikel ini menyoroti hubungan antara Viking dan Jakmania, namun secara luas artikel ini juga bisa dihubungkan dengan Aremania. Sedikit sejalan dengan sebuah gagasan dari Aremania sendiri tentang menjadi suorter #Profesional90Menit, yang menkounter kebiasaan selama ini yakni rasis di setiap laga. Inilah MAHDiP alias Musuh Abadi Harus Dipelihara, sikap yang menggejala di dunia suporter nasional yang sudah menyebar dan mengakar disegala lapisan suporter terutama suporter2 pemula ato abg yang sebelum tak tau apa2 tentang permusuhan antar kelompok suporter di  Tanah Air.


MAHDIP adalah singkatan dari MUSUH ABADI HARUS DIPELIHARA.

*DOKTRIN MAHDIP * adalah suatu ajaran untuk memelihara perseteruan/permusuhan. Dengan adanya doktrin tersebut sehingga terjadi penolakan keras untuk islah/damai, mengharamkan saling berjabat tangan,mengabaikan nilai – nilai SPORTIVITAS dan FAIR PLAY, mempengaruhi antar suporter untuk saling benci, saling dendam dan saling hantam, menciptakan rivalitas FANS CLUB dari pada rivalitas CLUB, menciptakan pertandingan sepak bola bersifat SATU STADION, SATU SUPORTER tanpa suporter tamu/blokade, menciptakan FANATISME SEMU atau Kedaerahan, meresahkan masyarakat dengan aksi tawuran, sweeping, menteror kendaraan yang bernomer plat kota lain, bikin aksi corat coret tembok/dingding yang bersifat rasis/provokatif, membuat tulisan yang bersifat rasis/provokatif lewat kaos, spanduk dan lain lain, menyanyikan rasis/provokatif disaat pertandingan berlangsung/tidak berlangsung sehingga tidak mensupport pemain untuk lebih bersemangat ini malah mengejek suporter yang dianggap musuh abadi.

Doktrin tersebut TIDAK MENGUNTUNGKAN sama sekali dan TIDAK DIBENARKAN oleh agama manapun, bertentangan dengan hukum dan norma norma yang berlaku di masyarakat, sebaiknya ada perselisihan untuk segera dibereskan dengan cara BERMUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT dengan hati sejuk dan pikiran tenang, MAKE MANAH/PAKAI HATI bukan PAKAI AMARAH, tidak mengungkit-ungkit masa lalu yang kelam, lihat kedepan untuk perbaikan,ingat Allah MAHA itu pemaaf kenapa manusia harus MAHAL pemaaf,tidak ada istilah gengsi untuk saling memaafkan sesama saudara dan diusahakan ketua, panglima, dirigent, para punggawa, KORLAP dan pengurus organisasi fans club lainya untuk menjadi panutan anak buahnya bukan sebaliknya memprovokasi atau membiarkan kericuhan.


“Kejahatan dibalas kejahatan,itu dendam,kebaikan dibalas kebaikan, itu biasa.kebaikan dibalas kejahatan, itu zalim.tapi kejahatan dibalas kebaikan itu MULIA.“ Oleh karena itu pribados selaku suporter Non Blok (blok SATU HATI- blok SATU JIWA) dengan ini menyatakan : ”MENOLAK KERAS DOKTRIN MAHDIP” ,Sekian pencerahan dari pribados semoga bermanfaat bila ada kekurangan/kekhilafan,mohon maaf yang sebesar besarnya.

ADIOS ADOE JOTOZ…!!!
BRAVO SEPAK BOLA DAMAI…!!!
PERMIOS…

Ditulis oleh : Ronaldikin
Menuju 25 Tahun AREMA
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012
-UNITED IN ONE SOUL-
"ONE AREMA
ONE AREMANIA
FOR ONE INDONESIA"

AREMANIA BERSATU, AREMA PASTI BANGKIT!


Foto/Taufik Soleh
DEGRADASI-degradasi itulah mungkin pemikiran masyarakat umum juga para pembenci dan pengkritik Arema, Aremania, jika melihat kiprah skuad Arema musim ini di pentas Indonesia Super League (ISL). Skuad yang dibangun bisa dibilang dengan kekuatan seadanya dan diperparah dengan konflik internal dan dualisme tak ada ujungnya, membuat Arema terseok2 menapaki laga per laga di musim ini. Disaat prestasi Arema kurang baik, ironisnya dukungan Aremania pun ikut meluntur, tribun menjadi sepi, begitu juga pekikan pembangkit semangat saat musim Arema Juara, hilang entah kemana ditelan berita carut marut Arema dan cemooh para pembenci dan pengkritik Arema, Aremania. Dimana suara membahana yg memekik terdengar di seantero stadion? Dimana kekompakkan dan koreografi indah yg klop di tribun?

Kita malu, itu biasa, Kita terpecah dan tak kompak pun biasa. Namun jika Kita malu dan terpecah saat Arema tercabik seperti ini, maka itu namanya kurang ajar. Buang semua rasa malu buang semua perbedaan, buktikan bahwa Kita Satu, Kita Satu Jiwa. Jangan pikirkan ego masing2 saat Kita berada di tribun, buang jauh2 semua itu, karena Arema butuh suara Kita yang membahana, jangan kecil hati jika di sekitarmu hanya sedikit yg seJiwa dengan Kita buladkan tekadmu kita akan hadapi keterpurukan.

Memang Arema mengalami beberapa perbaikan ditubuhnya, seperti terlihat pada pertandingan terakhir2nya, tapi itu saja tak cukup karena Arema masih membutuhkan nyanyian semangat dan motivasi dari Kita semua. Lupakan predikat suporter terbaik, jika itu malah membuat kita lupa akan cara menyatukan suara, menyatukan kreatifitas di tribun. Saatnya bernyanyi dan berkreasi lupakan,  singkirkan jauh2 ego mu, satukan suaramu. Kita punya jendral yg memandu Kita di tribun. Satu.. Satu.. Satu Jiwa dan ikuti gerakan yg dia contohkan, jika kepercayaan kalian masih sama layaknya dulu.

Inilah saatnya Kita tunjukkan, loyalitas Kita sedang diuji, ayo Kita lawan
keterpurukan ini. Tunjukkan pada mereka para pembenci dan para pengkritik, Kita Arema, Aremania masih punya taring  yg kuat, Martabat, Kekompakan dan Loyalitas yang sering Kita katakan saat Arema dalam gelimang prestasi, bahwa Loyalitas Kita Tanpa Batas. Satu.. Satu.. Satu.. Jiwa Aremania bergerak bersama Biru Arema. Arema akan bangkit menjauh dari zona Degradasi.

#BangkitAREMA!
-Salam Satu Jiwa-

Diedit dari postingan Andy Martyan di FP Aremania

Menuju 25 Tahun AREMA
11 Agustus 1987 - 11 Agustus 2012
-UNITED IN ONE SOUL-
"ONE AREMA
ONE AREMANIA
FOR ONE INDONESIA"